BAB 1 Pendahuluan Skripsi “Nilai-Nilai Budaya Dalam Novel Empat Sekawan Dan Cinta Karya Antonius Tanan Dan Fanny J. Poyk”

pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari bahasa, bahasa dapat diungkapkan secara lisan maupun tulis. Pengungkapan bahasa secara lisan dapat berupa ucapan, bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan bahasa dalam bentuk tulisan dapat berupa sebuah karya sastra. Sastra dapat disefinisikan sebagai tulisan ‘imajinasif’ dalam artian fiksi­­ tulisan yang secara harfiah tidak harus benar (Eagleton, 2007:1). Suatu hasil imajinasi dari seseorang jika dituangkan ke dalam sebuah karya yang mediumnya bahasa, dapat dikatakan bahwa hasil imajinasi tersebut merupakan karya sastra.

Nurgiantoro (2010: 2-3) menyatakan bahwa sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Fiksi merupakan hasil doalog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sebuah   karya    sastra  terlebih  karya  fiksi  merupakan   sebuah  cerita,   dan     karenanya  terkandung   juga di dalamnya tujuan memberikan hiburan kepada pembaca di samping adanya tujuan estetik.

Faruk (dalam sutardi, 2011:123) menyatakan bahwa sastra telah menjadi bagian dari totalitas yang di dalam dan dengannya penyatuan dimungkinkan, baik antara manusia dengan Tuhan maupun antara kebudayaan alam dengan objek dan subjek. Mengacu pada pendapat itu, di dalam karya sastra tidak hanya imajinasi pengarang belaka, melainkan ada representasi realitas yang ada di dalamnya. Sastra sebagai salah satu bentuk kebudayaan, merupakan seni yang menggambarkan kehidupan manusia dengan kondisi budaya yang melatar belakanginya.

Sariban (2009:7) menyatakan bahwa sastra tidak dapat dilepaskan dari unsur pengarang, masyarakat, dan pembaca. Karya sastra adalah karya yang ditulis oleh pengarang. Karya sastra tanpa adanya pengarang tidak akan pernah terlahir karena pengarang tidak terlepas dari sejarah sastra dan latar belakang sosial budayanya, maka semua itu tercermin dalam karya sastranya. Sedangkan masyarakat sebagai salah satu unsur dari karya sastra karena seorang pengarang itu sendiri merupakan bagian dari masyarakat. Akan tetapi karya sastra juga tidak akan mempunyai makna tanpa ada pembaca yang memberikan makna kepadanya.

Bentuk karya sastra pada umumnya prosa, puisi, dan drama. Karya sastra yang berbentuk prosa terdiri atas novel dan cerpen. Karya sastra yang berupa novel merupakan sebuah karya sastra yang menyajikan sebuah cerita fiksi yang dibuat mirip dengan realita masyarakat. Dalam karya sastra tersebut juga terdapat fenomena sosial dapat menyusup pada tema, tokoh, setting, alur, sehingga membentuk suatu kepaduan yang artistik (Sariban, 2009:118).

Novel adalah cerita dalam bentuk prosa yang cukup panjang dan meninjau kehidupan sehari-hari. Sebuah novel dapat memiliki peluang yang cukup panjang dan kerangka cerita yang cukup berfariasi. Novel sebagai salah satu produk seni, kesusastraan terutama sekali merupakan eksplorasi kehidupan, ia merenungkan dan melukiskan realita yang dilihat, dirasa dalam bentuk tertentu dengan kehancuran atau tercapainya gerak-gerik hasrat manusia. Novel merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi, bahkan dalam perkembangannya novel dianggap bersinonim dengan fiksi (Nurgiantoro, 2010:9). Novel jika dikaitkan dengan kehidupan nyata memang sagat relefan, fakta-fakta yang kita temukan dalam cerita fiksi dapat juga kita temukan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Konflik, kehidupan bersosial, pertengkaran, percintaan. Tak ubahnya adalah gambaran kehidupan nyata. Nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan masyarakatpun melekat dalam cerita tersebut.

Penelitian terhadap karya sastra  sangat penting dilakukan untuk mengetahui relefansi karya sastra dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra pada dasarnya mencerminkan realitas sosial yang memberikan pengaruh terhadap masyarakatnya. Sastra sebagai salah satu bentuk kebudayaan adalah seni yang menggambarkan kehidupan manusia. Sastra mengandung nilai-nilai yang banyak memberikan teladan bagi masyarakat.

Melalui karya sastra khususnya novel, kita akan mengetahui nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita tersebut. Sudah menjadi anggapan umum bahwa novel mengandung nilai-nilai yang telah diciptakan pengarang dengan bahasa estetisnya. Banyak novel yang mengandung ide-ide besar, buah pikiran yang luhur, pangalaman jiwa yang berharga, pertimbangan mengenai sifat-sifat baik dan buruk, dan sebagainya.

Fenomenologis merupakan sebuah pemahaman individu dalam situasi sosialnya, pemahaman mengenai pola-pola makna yang membangun realitasnya, dan pemahaman mengenai definisinya terhadap situasi yang di dalamnya individu itu bertindak dan berinteraksi satu sama lain (Faruk, 2005:116).

Saat ini terdapat banyak cerita-cerita fiksi yang beredar, hal ini menggugah peneliti untuk mengangkat sebuah karya fiksi yang berjudul Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk, dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, yang mengkaji masalah nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel tersebut. Adapun tujuan dalam pemilihan bahan penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui fenomena nilai-nilai budaya yang ada dalam novel dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.

Cerita dalam novel ini mengisahkan tentang sebuah keluarga miskin di yang berimigrasi dari Sumatra menuju ke Jakarta untuk mengadu nasib. Di tengah kemiskinan seorang anak muda yang berjiwa entrepreniur berusaha berjuang untuk mengubah kehidupan agar menjadi lebih baik dan tidak di ejek lagi oleh orang lain. Dari perjuangan itu tidak lepas dari tiga teman sekaligus sahabat yang setia dan saling membantu satu sama lain. Keempat anak muda ini di lahirkan pada bulan Agustus masing-masing tanggal 15, 16, 18, dan 19 dan mereka akhirnya bersepakat menjadikan tanggal 17 sebagai hari ulang tahun mereka.

Penelitian ini memuat nilai-nilai budaya yang berorientasi pada nilai kesopanan, gotong royang, serta nilai individualis yang terdapat dalam novel. Nilai-nilai budaya tersebut banyak terdapat dalam cerita novel serta relefansinya dalam kehidupan masyarakat, sehingga peneliti memilih novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk sebagai bahan penelitian.

Berdasarkan uraian tersebut peneliti menetapkan penelitian ini dengan judul Nilai-nilai Budaya dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan Pendekatan Fenomenologis.

 

  • Identifikasi Masalah

Novel yang berjudul Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk pada dasarnya memiliki beberapa permasalahan yang dapat dijadikan objek kajian. Objek kajian tersebut berorientasi kepada dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Dilihat dari unsur intrinsik, permasalahan yang dapat dijadikan sebagai objek kajian penelitian adalah Tema, Plot, Setting, Tokoh, Sudut Pandang, dan Gaya Bahasa. Sedangkan dari sisi ekstrinsiknya permasalahan yang dapat dijadikan objek kajian penelitian dapat ditekankan pada beberapa hal diantarannya adalah Masalah Sosial, Budaya, ekonomi, politik dan Religius.

Secara khusus penelitian ini berorientasi pada pengkajian pada nilai-nilai budaya yang ada di dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk. Dalam nilai-nilai budaya tersebut peneliti mengkaji masalah Nilai Kesopanan, Nilai Gotong royong, dan Nilai Individualisme.

 

 

  • Batasan Masalah

Masalah yang akan timbul dalam penelitian sastra  sangatlah luas apalagi sastra tulis,  hal ini dikarenakan kajian mengenai unsur-unsur intrinsik serta ekstrinsik dalam karya sastra tersebut. Bertolak dari ruang lingkup permasalahan di atas, dalam penelitian ini dibatasi pada masalah nilai-nilai budaya yang meliputi:

  • Nilai Kesopanan
  • Nilai Gotong royong
  • Nilai Individualisme

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, Agar pembahasan ini lebih berfokus, perlu dirumuskan masalah sebagai berikut:

  • Bagaimana nilai kesopanan dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat?
  • Bagaimana nilai gotong royong dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat?
  • Bagaimana nilai individualisme dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat?

 

  • Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

  • Mendeskripsikan nilai kesopanan dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat.
  • Mendeskripsikan nilai gotong royong dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat.
  • Mendeskripsikan nilai individualisme dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dengan fenomena di masyarakat.

 

 


  • Manfaat Penelitian

Manfaat yang akan didapat dalam penelitian ini adalah manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis.

  • Manfaat teoretis

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan keilmuan yang berhubungan dengan nilai-nilai kekeluargaan yang ada dalam masyarakat, khususnya dengan melihat kehidupan masyarakat saat ini. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai contoh penerapan penelitian sastra tulis dengan menggunakan kajian fenomenologis. Serta dapat menjadi referensi bagi penikmat karya sastra dalam memperoleh pengetahuan dalam bidang nilai-nilai kekeluargaan maupun tentang kajian fenomenologis.

  • Manfaat praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti lanjut, untuk dijadikan referensi dan bahan pertimbangan dalam penyusunan penelitian. Selain itu, bagi pembaca secara umum, penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan dapat membantu menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat diserap sebagai nilai humaniora.

 

 

  • Definisi Operasional

Penelitian ini mengandung beberapa istilah yang perlu didefinisikan. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap proses pemahaman dalam penelitian ini. Beberapa istilah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Karya fiksi

Karya fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata (Nurgiantoro, 2010:2). Dalam karya fiksi terdapat banyak mengandung nilai-nilai di dalamnya, salah satunya adalah nilai budaya.

  • Nilai Budaya

Nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup (Koentjaraningrat, 2000:25).

  • Novel

Novel merupakan sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 2010:10). Dalam novel terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik, oleh karena itu novel dapat dianalisis dengan berbagai pendekatan salah satunya menggunakan pendekatan fenomenologis.

  • Fenomenologis

Fenomenologis merupakan sebuah pemahaman individu dalam situasi sosialnya, pemahaman mengenai pola-pola makna yang membangun realitasnya, dan pemahaman mengenai definisinya terhadap situasi yang di dalamnya individu itu bertindak dan berinteraksi satu sama lain (Faruk, 2005:116).

  • Kesopanan

Nilai yang berhubungan dengan sifat dasar manusia, dalam pola kelakuannya. Nilai kesopanan lebih berorientasi kepada orang yang lebih senior, berpangkat tinggi dan orang-orang yang dituakan (Koentjaraningrat, 2000:29-41).

  • Gotong Royong

Koentjaraningrat (2000:41) mengatakan bahwa di dunia manusia itu pada hakekatnya tidak berdiri sendiri, bahwa ia selalu bisa mendapatkan bantuan dari sesamanya, terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan.

  • Individualisme

Bahwa hal yang bernilai tinggi adalah apabila manusia dapat berhasil sama sekali atas usahanya sendiri, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan orang lain (Koentjaraningrat, 2000:11-42).

Leave a Reply