Bab 1 Skripsi “NILAI–NILAI BUDAYA DALAM NOVEL AMIRA : CINTA DARI TANAH SURGA KARYA SULIWE “

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang Masalah

Kesusastraan diciptakan selaras dengan dinamika masyarakat dan kebudayaan. Pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan sangat tergantung kepada sistem sosial dan budaya masyarakatnya. Karya sastra senantiasa dipergunakan untuk mengekspresikan kepribadian manusia secara kolektif melalui penggabungan imajinasi individu sastrawan dengan obsesi masyarakatnya. Karena itu, membaca dan menilai karya sastra pada hakikatnya melihat dan memelajari kehidupan suatu masyarakat di mana karya sastra itu dilahirkan, tumbuh, dan berkembang.

Sastra sering dikatakan sebagai ‘tulisan yang indah’, juga dikaitkan sebagai ‘pembentuk budi pekerti’. Perkataan ini banyak mengacu pada Horace, yakni dulce et utile yang memberikan penegasan bahwa sastra sebagai karya yang indah dan bermanfaat bagi pembaca. Masyarakat yang melakukan pembacaan terhadap karya sastraakan mendapatkan kesenangan dari tulisan yang indah dan mengharukan, juga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah disadari keberadaannya (Sutardi, 2011:1-2). Pernyataan tersebut sampai sekarang belum teruntuhkan sebagai argumentasi yang memandang sastra secara universal.

Sastra sering pula dikatakan sebagai hasil rekaan dari imajinasi pengarang, yakni hasil kreativitas pengarang dalam mencermati realitas kehidupan. Karena itu, karya sastra sebenarnya tidak lahir dari kekosongan. Sehingga A. Teeuw (dalam Sutardi, 2011:3) sampai mengatakan bahwa “sastra ditulis tidak dalam kekosongan budaya”. Kapan pun ditulis, karya sastra selalu dilingkupi langsung oleh lingkungan sekitar. Disadari atau tidak, pengarang dalam menciptakan karya tentu dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya sekitar. Unsur budaya, termasuk semua konvensi yang ditulis sebelumnya.

Sastra mencerminkan gambaran kehidupan. Kehidupan adalah kenyataan budaya. Hal itu berarti bahwa sastra tidak berangkat dari ketiadaan budaya. Sastra termasuk bagian budaya. Budaya dapat diartikan sebagai “daya dari budi (akal)” seorang manusia yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (Koentjaraningrat, 2002:181).

Sastra merupakan karya manusia yang berupa pengolahan bahasa yang indah. Pengolahan ini terwujud dalam bentuk lisan dan tulisan. Suatu karya sastra biasanya muncul di saat penyair mulai meluapkan perasaan, hasil pemikiran, dan imajinasinya. Luapan ini biasanya dapat berupa lisan maupun tulisan. Dalam bentuk tulisan biasanya berwujud novel, cerpen, puisi, dan naskah-naskah lain.

Novel merupakan cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjadi suatu cerita (Aminuddin, 2009:66). Karya sastra tulis ini menarasikan tokoh-tokoh yang terlibat beserta konflik-konflik yang mereka miliki. Novel menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa secara tersusun. Namun jalan ceritanya dapat menjadi suatu pengalaman hidup yang nyata. Lebih dalam lagi novel mempunyai tugas mendidik pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia. Wellek dan Warren (dalam Nurgiyantoro, 2010:3) mengatakan bahwa sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Karena itu, novel harus tetap merupakan cerita menarik yang mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik. Dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian, sastra sebagai teks harus dilihat pula dalam konteks.

Novel juga dianggap sebagai genre yang paling memadai untuk menerjemahkan kompleksitas struktur sosial. Konotasi-konotasi bahasa dalam struktur narativitas memampukan subjek kreator untuk menyerap kompleksitas muatan-muatan sosial, bahkan juga mentransformasikannya ke dalam bentuk yang sama sekali baru. Novel dengan demikian merupakan pertemuan antara kesadaran sosial dengan kesadaran tertinggi subjek kreator, sekaligus membuktikan kapasitas institutif sastra dalam merefleksikan semestaan sosial (Ratna, 2011:104).

Seorang pengarang menciptakan novel dalam konteks tertentu. Cerita yang dilukiskan di dalamnya bersumber dari masyarakat imajiner yang dikehendaki atau ditolaknya. Karena itu, pengarang sebagai bagian dari masyarakat dengan kekuatan imajinasinya dapat melahirkan sebuah karya sastra dari permasalahan sosial masyarakat yang melingkupinya. Ia selalu terikat oleh pengalaman hidupnya, pengetahuannya, pendidikannya, tradisinya, wawasan seninya, dan  sebagainya. Ia hidup dan berelasi dengan orang-orang dan lingkungan sosial budaya di sekitarnya, maka tak mengherankan kalau terjadi interaksi dan relasi antara pengarang dan masyarakatnya. Kegelisahan masyarakat menjadi kegelisahan para pengarang.

Pernyataan  di atas menandakan bahwa suatu karya sastra lahir dari masyarakat. Sastra juga lahir atas dukungan budaya. Pesan budaya menjadi sentral ekspresi sastra. Maka mempelajari karya sastra, tidak akan lepas dari budaya dan masyarakatnya. Budaya merupakan getaran yang dapat menggerakkan imajinasi. Begitu pula sosiologi sastra, aspek budaya selalu dijadikan isu penting. Budaya itu gambaran tentang hidup manusia di masyarakat. Mempelajari budaya lewat sastra dan masyarakat, akan menemukan hakikat hidup manusia dan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya (Endraswara, 2011:186).

Berdasarkan pernyataan di atas, objek penelitian ini adalah strukturalisme unsur intrinsik novel (tema, penokohan, alur, dan latar), serta nilai-nilai budaya di dalamnya. Hal ini didasarkan pada pendapat Pradopo (2010:163) bahwa dalam penelitian sastra, teks sastra sendirilah yang penting, yaitu struktur intrinsik karya sastranya yang penting dalam penelitian sastra. Selain itu, Ratna (2011:49) juga menjelaskan bahwa unit-unit teks dalam analisis menjadi lebih jelas apabila dikaitkan dengan unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam struktur narativitas karya, seperti tokoh-tokoh, kejadian, plot, tema, dan sejumlah peralatan karya sastra yang lain. Unsur-unsur intrinsik tersebut, yang sesungguhnya diambil melalui fakta-fakta kehidupan sosial, melalui mediasi-mediasi keterampilan teknik, kemudian ditransformasikan dan dikomposisikan ke dalam struktur yang disebut karya sastra.  Karena itu, sebelum analisis nilai-nilai budaya dilakukan, peneliti terlebih dahulu menganalisis struktur intrinsik novelnya.

Objek kajian dalam penelitian ini adalah novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe. Novel tersebut dipilih menjadi objek kajian, karena memiliki rangkaian cerita yang menarik, yang mampu menguras emosi dan air mata, serta sarat akan nilai-nilai budaya di dalamnya. Nilai-nilai tersebut tergambar dari perilaku dan karakter tokoh-tokohnya. Tokoh Amira, misalnya, ia seorang gadis yang sangat baik dan lugu. Ia bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya karena kesalahan ayahnya. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi yang mempunyai banyak hutang, namun semuanya habis di meja judi. Bahkan ayahnya berselingkuh hingga memiliki seorang anak bernama Sarah. Tokoh Ibu Fatimah, ibunda Amira, ia seorang ibu sekaligus istri yang penyabar dan berhati mulia, serta taat beragama. Ia sangat menyayangi puterinya, bahkan puteri hasil selingkuhan suaminya yang tidak diakui oleh suaminya, bahkan juga ibu kandungnya sendri telah membuangnya. Ia senantiasa sabar menerima perlakuan kasar suaminya tiap kali mabuk dan kalah dalam meja judi. Ia percaya suatu saat kebahagiaan akan datang, karena ia yakin bahwa mukjizat Tuhan itu ada. Tokoh Sarah, seorang gadis kecil berusia enam tahun yang hanya memiliki satu kaki. Ia sering menjadi pelampiasan kemarahan ayahnya. Ia dianggap sebagai anak pembawa sial. Ia belum mengerti tentang apa pun. Ia selalu bertanya “mengapa ayah tak pernah sayang padaku?”. Tokoh Fatih, ia seorang pemuda baik hati, yang telah divonis akan mmeninggal dalam waktu dekat karena penyakit akutnya. Namun ia bagaikan malaikat penyelamat dalam kehidupan keluarga Amira. Sejak kehadirannya sebagai tetangga baru, kehidupan keluarga Amira yang awalnya suram menjadi penuh cahaya, satu per satu masalah dapat diatasi dan diselesaikan. Akhirnya kebahagiaan pun datang. Juga tokoh-tokoh yang lain.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, analisis dalam penelitian ini diarahkan pada struktur-struktur intrinsik karya sastra, dalam hal ini novel. Struktur-struktur intrinsik tersebut meliputi tema, penokohan, alur, dan latar. Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan atau apa yang dilakukan dalam tindakan. Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Sedangkan latar adalah suatu tempat atau kejadian mengenai suatu peristiwa.

Analisis dalam penelitian ini juga diarahkan pada aspek nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari sosiologi sastra. Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Budaya merupakan getaran yang dapat menggerakkan imajinasi. Budaya memiliki ilmu yang jelas. Sebagai ilmu, budaya dapat dipelajari secara sistematis. Lewat novel ada sebuah ilmu budaya yang ditawarkan. Budaya tidak sekedar nilai, melainkan suatu jaringan simbol yang mewadahi imajinasi sastra (Endraswara, 2011:187).

Selanjutnya, Sutardi (2011:39) membagi nilai-nilai budaya tersebut menjadi tiga, yaitu (1) moral, (2) sosial, dan (3) spiritual. Nilai budaya moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan ajaran baik dan buruk, dalam hal ini dapat berupa sikap tanggungjawab, kejujuran, cinta kasih, kebohongan, kedengkian, sombong, dan lain-lain. Nilai sosial dalam karya sastra dapat diartikan sebagai bentuk tindakan kemanusiaan yang mempertimbangkan perasaan, pikiran, dan kehidupan dengan orang lain. Sedangkan nilai spiritualitas lebih terkait dengan adanya penghayatan seorang sastrawan terhadap suatu fenomena yang menjadi sosial budaya. Karena itu, judul dalam penelitian ini adalah “Nilai-nilai Budaya dalam Novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe”.

  • Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang dijadikan objek penelitian. Permasalahan-permasalahan tersebut berkisar pada struktur-struktur yang membangun karya sastra, dalam hal ini novel. Selain itu, juga masalah yang berkenaan dengan aspek nilai-nilai budaya.

Struktur karya sastra menyaran pada pengertian hubungan antarunsur intrinsik yang membentuk satu kesatuan makna. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membagun karya sastra dari dalam karya itu sendiri, misalnya, tema, penokohan, alur, latar, dan lain-lain. Nilai budaya yang diasumsikan terdapat di dalam novel  yang berjudul “Amira: Cinta dari Tanah Surga” karya Suliwe adalah nilai budaya masyarakat yang berhubungan dengan nilai budaya moral, nilai budaya sosial, dan nilai budaya spiritual (religius) masyarakat. Nilai-nilai itulah yang akan dijadikan objek kajian dalam penelitian ini.

  • Batasan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi masalah di atas, batasan-batasan masalah dalam penelitian ini meliputi:

1.3.1 Struktur intrinsik dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe, yang meliputi tema, penokohan, alur, dan latar.

1.3.2 Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe, yang meliputi, nilai moral, nilai sosial, dan nilai spiritual (religius).


  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Bagaimana stuktur intrinsik yang membangun dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe?

1.4.2 Bagaimana nilai-nilai budaya yang tergambar dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe?

  • Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan arah, sasaran, maksud, atau hasil yang ingin dicapai dalam penelitian yang dilakukan. Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

  • Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang stuktur intrinsik dan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe.

  • Tujuan Khusus

   Tujuan khusus penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.5.2.1 Mendeskripsikan stuktur intrinsik yang membangun dalam novel

     Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe.

1.5.2.2 Mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang tergambar dalam novel

Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe.

  • Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Adapun manfaat dalam penelitian ini mencakup manfaat teoritis dan manfaat praktis.

  • Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah khasanah keilmuan yang berhubungan dengan struktur intrinsik karya sastra, khususnya novel, serta nilai-nilai budaya di dalamnya.

  • Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi orang lain, yakni guru, peneliti selanjutnya, penulis sastra, ataupun pembaca pada umumnya.

  • Guru

Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya bagi guru sastra yang ingin mengenalkan ilmu struktur pembangun karya sastra dan nilai-nilai budaya di dalamnya.

  • Peneliti selanjutnya

Penelitian ini bermanfaat sebagai referensi dan bahan pertimbangan dalam penelitian yang akan datang, terutama pada aspek struktur intrinsik karya sastra dan nilai-nilai budaya di dalamnya.

  • Penulis sastra

Penelitian ini bermanfaat menjadi motivator untuk lebih produktif dan kreatif dalam menghasilkan karya sastra.

  • Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai kajian sastra, menjadi bahan yang dapat dinikmati, dikaji, dan dikritisi, serta dapat menambah pengetahuan bagi pembaca.

 

  • Definisi Operasional

Berdasarkan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian di atas, ada beberapa istilah yang perlu didefinisikan secara operasional dengan tujuan agar istilah-istilah tersebut dapat dipahami maknanya sebelum melangkah lebih jauh dalam penelitian. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Novel

Novel merupakan cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjadi suatu cerita (Aminuddin, 2009:66).

  • Budaya

Budaya dapat diartikan sebagai “daya dari budi (akal)” seorang manusia yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (Koentjaraningrat, 2002:181).

  • Kebudayaan

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2002:180). .

  • Nilai-nilai budaya

Nilai-nilai budaya adalah konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga itu tadi (Koentjaraningrat, 2002:190).

  • Nilai budaya moral

Nilai budaya moral adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan ajaran baik dan buruk, dalam hal ini dapat berupa sikap tanggungjawab, kejujuran, cinta kasih, kebohongan, kedengkian, sombong, dan lain-lain.

  • Nilai budaya sosial

Nilai budaya sosial merupakan sikap mengenai masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum dan orang lain, suka menolong, dan lain-lain (Rama, 2007:188).

  • Nilai budaya spiritual

Spiritualitas lebih terkait dengan adanya penghayatan seorang sastrawan terhadap suatu fenomena yang menjadi sosial budaya. Penghayatan itu akan membawa teks memiliki ruh untuk menampilkan sisi dalam. Penghayatan merupakan bentuk penglihatan subjektif yang dimiliki oleh sastrawan dalam membaca ruang-ruang baru yang lebih pertikular (Sutardi, 2011:119).

Leave a Reply