BAB 2 Landasan Teoretis Skripsi “Nilai-Nilai Budaya Dalam Novel Empat Sekawan Dan Cinta Karya Antonius Tanan Dan Fanny J. Poyk”

teoritis

BAB II

LANDASAN TEORETIS

 

  • Karya Fiksi

Nurgiantoro (2010:2) mengatakan prosa dalam pengertian kasusastraan   juga   disebut dengan fiksi (fiction), teks naratif (narrative texs),  wacana  naratif  (narrative discource). Menurut  Abram (dalam Nurgiantoro, 2010:2)  fiksi  merupakan  karya  naratif   yang   isinya         tidak menyaran pada kebenaran sejarah, karena fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan. Dengan demikian karya fiksi manyaran pada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata (Nurgiantoro, 2010:2).

Sedangkan   karya   fiksi  menurut    Aminuddin  (2009:66)  adalah kisahan  atau  cerita  yang diemban oleh  pelaku-pelaku  tertentu  dengan pemeranan,  latar   serta  tahapan   dan   rangkaian cerita tertentu yang bertolak   dari   hasil   imajinasi   pengarangnya   sehingga   menjalin        suatu cerita. Selain  itu  Nurgiantoro (2010:2-3)  juga  berpendapat         bahwa sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang   menghayati    berbagai   permasalahan tersebut   dengan   penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali  melalui  sarana  fiksi  sesuai   dengan  pendangannya. Fiksi merupakan hasil doalog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sebuah karya sastra terlebih karya fiksi merupakan sebuah cerita, dan karenanya terkandung juga di dalamnya tujuan memberikan hiburan kepada pembaca di samping adanya tujuan estetik.

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa prosa fiksi adalah sebuah hasil karya imajiner atau rekaan pengarang dalam menceritakan sesuatu berdasarkan pada ide-ide cerita dari berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan, maupun lingkungan pengarang, serta bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembacanya.

 

  • Novel

Nurgiantoro (2010:9) mengatakan bahwa novel merupakan bentuk karya sastra yang disebut fiksi. Dalam perkembangannya novel dianggap bersinonim dengan fiksi, sehingga pengertian fiksi yang dikemukakan diatas, juga berlaku untuk novel (Nurgiantoro, 2010:9). Novel merupakan cerita dalam bentuk prosa yang cukup panjang dan meninjau tentang kehidupan sahari-hari. Sebuah novel dapat memiliki peluang yang cukup panjang dan kerangka cerita yang cukup berfariasi.

Goldmann (dalam Faruk, 2005:29) mendefinisikan novel sebagai cerita tentang suatu pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai yang otentik yang dilakukan oleh seorang  hero yang problematic dalam sebuah dunia yang juga terdegradasi. Yang dimaksud dengan nilai-nilai yang otentik itu adalah nilai-nilai yang mengorganisasikan dunia novel secara keseluruhan meskipun hanya secara implisit.

Menurut Abram (dalam Nurgiantoro, 2010:09) secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang yang baru kecil’ dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Novel sebagai salah satu produk seni, kasusastraan terutama sekali merupakan eksplorasi kehidupan, ia merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, dirasa dalam bentuk tertentu dengan kehancuran dan tercapainya gerak-gerik hasrat manusia.

Karena dalam bentuknya yang cukup panjang, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Novel mempunyai kelebihan yang khas yakni kemampuan menyampaikan permasalahan yang kompleks secara penuh, mengkreasikan sebuah dunia yang “jadi”. Hal itu berarti membaca sebuah novel menjadi lebih mudah sekaligus lebih sulit karena tidak menuntut kita memahami masalah dalam bentuk komplek dalam bentuk (dan waktu) yang sedikit. Sebaliknya, ia lebih sulit karena berupa penulisan dalam skala yang besar yang berisi unit organisasi atau bangunan yang lebih besar. Hal inilah, yang menurut Stanton, merupakan perbedaan terpenting antara novel dan cerpen.

Stanton (2007: 90) mengatakan oleh karena bentuknya yang panjang, novel tidak dapat mewarisi kesatuan padat yang dipunyai cerpen. novel juga tidak mampu menjadikan topiknya menonjol seperti prinsip mikrokosmik cerpen. Novel mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan berbagai peristiwa ruwet yang terjadi beberapa tahun silam secara lebih mendetail.

Ciri khas novel pada kemampuannya untuk menciptakan satu semesta yang lengkap sekaligus rumit (Stanton, 2007:90-92). Setiap bab dalam novel mengandung berbagai episode, setiap episode tersebut terdiri atas berbagai macam topik yang berlainan. Episode-episode dan topik-topik tersebut dapat dileburkan dalam satu bab tersebut nantinya akan membentuk grup-grup yang kemudian akan membentuk grup-grup yang lebih besar lagi sampai pada akhirnya kita paham akan keseluruhan bagian dari novel bersangkutan. Sebuah episode dalam sebuah novel memperoleh efek beserta maknanya dari keseluruhan struktur tempat episode tersebut menjadi salah satu bagiannya.

Unsur-unsur pembangun sebuah novel, seperti plot, tema, penokohan, dan latar, secara umum dapat dikatakan bersifat lebih rinci dan kompleks dari pada unsur-unsur cerpen. sebagaimana terlihat pada pemaparan berikut.

Plot. Plot dalam novel umumnya memiliki lebih dari satu plot terdiri dari satu plot utama dan sub-subplot. Plot utama berisi konflik utama yang menjadi inti persoalan yang diceritakan sepanjang karya itu, sedangkan sub-subplot adalah berupa (munculnya) konflik (-konflik) tambahan yang bersifat menopang, mempertegas, dan mengintensifkan konflik utama untuk sampai ke klimaks.

Tema. Novel dapat menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan. Hal itu sejalan dengan adanya plot utama dan sub-subplot di atas yang menampilkan satu konflik utama dan konflik-konflik pendukung (tambahan). Sebagaimana halnya dengan peran sub-subplot terhadap plot utama, tema-tema tambahan tersebut haruslah bersifat menopang dan berkaitan dengan tema utama untuk mencapai efek kepaduan.

Penokohan. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Tokoh-tokoh cerita novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat dan kebiasaan, dan lain-lain, termasuk bagaimana hubungan antar tokoh itu, baik hal itu dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung. Itulah sebabnya tokoh-tokoh cerita novel dapat lebih mengesankan.

Latar. Novel dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkret, dan pasti. Walau demikian, cerita yang baik hanya akan melukiskan detil-detil tertentu yang dipandang perlu. Ia tak akan terjatuh pada pelukisan yang berkepanjangan sehingga justru terasa membosankan dan mengurangi kadar ketegangan cerita.

Kepaduan. Novel yang baik haruslah memenuhi kriteria kepaduan, Unity. Artinya segala sesuatu yang diceritakan bersifat dan berfungsi mendukung tema utama. Penampilan berbagai peristiwa yang saling menyusul yang membentuk plot, walau bersifat kronologis, namun haruslah tetap saling berkaitan secara logika. Nove dapat dikatakan menawarkan sebuah dunia yang padu, novel merupakan dunia dalam skala yang lebih besar dan kompleks, mencakup berbagai pengalaman kehidupan yang dianggap actual, namun semuanya tetap saling berjalinan. Pencapaian sifat kepaduan novel lebih sulit dibandingkan dengan cerpen. novel umumnya terdiri dari sejumlah bab yang masing-masing berisi cerita yang berbeda. Keutuhan sebuah novel meliputi keseluruhan bab.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa novel adalah sebuah hasil karya imajiner yang cukup panjang dan meninjau tentang kehidupan sehari-hari sebagai sebuah eksplorasi kehidupan yang merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, serta mampu menghadirkan perkembangan satu karakter dan sitasi sosial yang rumit.

 

  • Nilai-Nilai Budaya

Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat Setiadi, dkk (2010:31). Sesuatu dikatakan memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai-moral atau etis), religious (nilai agama). Fraenkel (dalam Setiadi, dkk, 2010:123) nilai adalah gagasan-konsep-tentang sesuatu yang dipandang penting oleh seseorang dalam hidup.

Budaya menurut Asmadi Alda (dalam Iskandar, 2009:27) mencakup apa yang dilakukan oleh manusia, apa yang diketahui manusia, dan segala sesuatu yang digunakan dan dibuat manusia. Budaya adalah sesuatu yang  hidup, berkembang, dan bergerak menuju titik tertentu. Karenanya, penelitian budaya pun perlu menyesuaikan dengan perubahan tersebut, setiap budaya memiliki kebebasan individu dan kelompok pendukung (Endraswara, 2006:1). Budaya adalah lekat (inherent) pada bidang-bidang lain yang terstruktur rapi. Keterkaitan antar unsur kehidupan itulah yang membentuk sebuah budaya. Dengan demikian, budaya bukan sekedar tumpukan acak fenomena, atau bukan sekedar kebiasaan yang lazim, melainkan tertata rapi dan penuh makna.

Endraswara (2006:5) mengatakan bahwa budaya sebagai produk maupun sebagai proses, pada dasarnya akan mencakup nilai kultural, norma, dan hasil cipta manusia. Karena itu pada tataran tertentu budaya digolongkan menjadi tiga dimensi, yaitu: (1) dimensi kognitif (budaya cipta)yang bersifat abstrak, berupa gagasan-gagasan manusia, pengetahuan tentang hidup, pandangan hidup, wawasan kosmos; (2) dimensi evaluative, artinya menyangkut nilai-nilai dan norma budaya, yang mengatur sikap dan perilaku manusia dalam berbudaya, lalu membuahkan etika budaya; (3) dimensi simbolik berupa interaksi hidup manusia dan simbul-simbul yang digunakan dalam berbudaya.

Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang tidak terbatas pada hal-hal yang kasat mata tentang manusia, melainkan juga menyangkut hal-hal yang abstrak (Endraswara, 2006:5). Karena itu, penelitian kebudayaan bisa melebar dan meluas serta mendalam ke seluruh penjuru hidup manusia. Kebudayaan ada karena ada manusia penciptanya dan manusia dapat hidup di tengah kebudayaan yang diciptakannya.

Pandangan Haviland (dalam Endraswara, 2006:9-10) sedikitnya ada tiga ciri khas kebudayaan. Pertama, kebudayaan adalah milik bersama. Bahwa kebudayaan adalah milik publik, namun jika pemahaman ini keliru maka dapat tergelincir pada kerancuan konsep budaya massa (bentuk perilaku manusia yang memiliki nilai, norma, ide, dan simbol yang diakui bersama).  Kedua, kebudayaan adalah hasil belajar, bukan warisan biologis. Proses penerusan budaya dari generasi ke generasi berikutnya melalui proses enkulturasi. Ketiga, kebudayaan didasarkan pada lambang, memang mensugestikan bahwa segala perilaku manusia menggunakan lambang. Itulah sebabnya, setiap yang memuat lambang dalam hidup manusia dapat dikategorikan budaya. Keempat, budaya merupakan kesatuan integrative (tak berdiri sendiri-sendiri), melainkan sebuah paket makna. Integrasi budaya semacam ini secara tidak langsung telah mengarahkan seorang peneliti untuk mempelajari budaya secara total.

Nilai budaya menjadi acuan tingkah laku sebagian besar anggota masyarakat yang bersangkutan, berada dalam alam pikiran mereka dan sulit diterangkan secara rasional. Nilai budaya merupakan konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup (Koentjaraningrat, 2000:25). Sistem nilai budaya, pandangan hidup, dan ideologi. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari ada-istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tadi.

Walaupun nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya itu bersifat umum, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, dan biasanya sulit diterangkan secara rasional dan nyata. Sistem nilai budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu masyarakat yang bersangkutan. Sejak kecil para individu telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dan oleh sebab itu nilai-nilai budaya tersebut sukar untuk diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.

Menurut Clyde Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 2000:28) bahwa nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia itu, sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi system nilai budaya adalah:

  • Masalah hakikat dari hidup manusia (HM)

Ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan, dan karena itu harus dihindari. Pola-pola kelakuan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju ke arah tujuan untuk bisa memadamkan hidup itu (nirvana = meniup habis), dan meremehkan segala kelakuan yang hanya mengekalkan rangkaian kelahiran kembali (samsara). Adapun kebudayaan-kebudayaan lain memandang hidup manusia itu pada hakekatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikan hidup suatu hal yang baik dan menggembirakan.

  • Masalah mengenai hakikat dari karya manusia (MK)

Ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang bahwa karya manusia itu pada hakekatnya bertujuan untuk memungkinkannya hidup; kebudayaan lain menganggap hakekat dari karya manusia itu untuk memberikannya suatu kedudukan yang penuh kehormatan dalam masyarakat; sedangkan kebudayaan lain lagi menganggap hakekat karya manusia itu sebagai suatu gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

  • Masaah mengenai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu (MW)

Ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang penting dalam kehidupan manusia itu pada masa lampau. Dalam kebudayaan serupa ini, orang akan lebih sering mengambil pedoman dalam kelakuannya, contoh-contoh dan kejadian-kajadian dalam masa lampau. Kemudian banyak pula kebudayaan yang hanya mempnyai suatu pandangan waktu yang sempit. Orang dalam kebudayaan serupa ini tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan zaman yang lampau maupun masa yang akan datang, mereka hidup menurut keadaan yang ada pada masa sekarang ini. Kebudayaan-kebudayaan lain lagi malah justru mementingkan pandangan yang berorientasi sejauh mungkin terhadap masa yang akan datang. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang amat penting.

  • Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitar (MA)

Ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang alam itu suatu hal yang begitu dahsyat, sehingga manusia pada hakekatnya hanya bisa bersifat menyerah saja tanpa ada banyak yang bisa diusahakannya. Sebaliknya, banyak pula kebudayaan lain yang memandang alam sebagai suatu hal yang bisa dilawan oleh manusia, dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukan alam. Kebudayaan lain menganggap bahwa manusia itu hanya bisa berusaha mencari keselarasan dengan alam.

  • Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)

Ada kebudayaan-kebudayaan yang amat mementingkan hubungan vertical antara manusia dengan sesamanya. Manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan serupa itu akan berpedoman pada tokoh-tokoh pemimpin, orang-orang senior, atau orang-orang atasan. Kebudayaan lain lebih mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Dalam kehidupan serupa ini manusia amat merasa tergantung kepada sesamanya, dan usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangga dan sesamannya merupakan satu hal yang dianggap amat penting dalam hidup. Kecuali itu banyak kebudayaan lain yang tidak membenarkan anggapan bahwa manusia itu tergantung kepada orang lain dalam hidupnya. Kebudayaan-kebudayaan yang amat mementingkan individualisme serupa itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan dari orang lain.

 

Berdasarkan uraian nilai budaya tersebut, terdapat nilai-nilai budaya tentang  masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM) diantaranya adalah nilai kesopanan, nilai gotong royong, dan nilai individualisme.

 

  • Kesopanan

Kesopanan atau tata krama dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat dan terdiri dari aturan-aturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan (Setiadi, 2010:150). Sedangkan nilai kesopanan ini terkait dengan hubungan antara manusia dengan manusia. Selain itu, kesopanan adalah sebuah nilai yang berhubungan dengan sifat dasar manusia, dalam pola kelakuannya (Endraswara, 2006:83). Nilai kesopanan lebih berorientasi kepada orang yang lebih senior, berpangkat tinggi dan orang-orang yang dituakan (Koentjaraningrat, 2000:29-41). Hasrat untuk berdiri sendiri dan berusaha sendiri akan dimatikan; begitu juga dengan rasa disiplin pribadi yang murni (karena orang hanya akan taat apabila ada pengawasan dari atas); dan rasa tanggung jawab sendiri.

Nilai nilai budaya yang terlampau banyak terorientasi vertical terhadap pembesar, orang yang berpangkat tinggi, dan orang-orang tua dan senior. Kecuali ketiga sifat kelemahan itu adalah: (1) sifat tak percaya pada diri sendiri, (2) sifat tak berdisiplin murni, dan (3) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab sendiri.

Adat merupakan wujud ideel dari kebudayaan yang berfungsi sebagai tata kelakuan (Koentjaraningrat, 2000:19). Kesopanan atau sopan santun merupakan salah satu tingkatan adat, aturan adat ini merupakan aturan-aturan khusus yang mengatur aktivitas-aktivitas yang amat jelas dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, 2000:12). Itulah sebabnya aturan-aturan khusus ini amat konkret sifatnya, dan banyak diantaranya tekait dengan system hukum. Contohnya adalah peraturan lalu lintas. Contoh dari aturan khusus yang tidak tersangkut ke dalam system hukum adalah misalnya aturan sopan santun.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa nilai kesopanan adalah nilai yang berhubungan dengan sifat dasar manusia, dalam pola kelakuannya yang lebih berorientasi kepada orang yang lebih senior, berpangkat tinggi dan orang-orang yang dituakan.

 

 


  • Gotong royong

Koenjtoroningrat (2000:11) mengatakan gotong royong merupakan suatu nilai budaya, terutama dalam masyarakat kita, adalah konsepsi bahwa hal yang bernilai tinggi adalah apabila manusia itu suka bekerjasama dengan sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar. Ada kebudayaan-kebudayaan yang amat mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Orang dalam kebudayaan ini akan amat merasa tergantung kepada sesamanya. Dan usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya merupakan suatu hal yang dianggap amat penting dalam hidup Koentjaraningrat (2000:30). Konsep ini senada dengan konsep sama-rata-sama-rasa.

Dalam rangka ide sama-rata-sama-rasa ini ada suatu konsep penting, ialah bahwa di dunia manusia itu pada hakekatnya tidak berdiri sendiri, bahwa ia selalu bisa mendapatkan bantuan dari sesamanya, terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan (Koentjaraningrat, 2000:41). Konsep itu memberi suatu landasan yang kokoh bagi rasa keamanan hidup, namun sebaliknya, konsep sama-rata-sama-rasa juga memberi kewajiban untuk terus menerus berusaha memelihara hubungan baik dengan sesamanya. Terus-menerus memperhatikan keperluan-keperluan sesamanya dan sedapat mungkin selalu membagi tata keuntungan-keuntungan dengan sesamanya. Konsep gotong royong seperti itu tentu amat berarti.

Segi negatif dari gotong royong ini adalah konformisme yang besar, artinya orang sebaiknya menjaga agar jangan dengan sengaja berusaha untuk menonjol diatas yang lain. Sikap konformisme inilah agak bertentangan dengan jiwa pembangunan yang justru memerlukan usaha jerih payah dengan sengaja dari pihak individu untuk maju dan menonjol di atas yang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa nilai gotong royong adalah sebuah tatan nilai yang mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya, manusia dapat bekerja sama dengan sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar, dan sedapat mungkin berusaha memelihara hubungan baik tersebut.

 

  • Individualisme

Individu adalah manusia yang memiliki kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia “perseorangan” atau “orang seorang” yang memiliki keunikan (Setiadi, 2010:64). Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing,  tidak ada manusia yang persis sama. Sama halnya dengan sifat dalam masyarakat, manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal dan nafsu. Salah satunya adalah sifat individualisme, yang ingin berdiri sendiri. Individualisme masuk dalam tatanan nilai budaya.

Nilai individualisme, menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri (Koenjtoroningrat, 2000:31). Kebudayaan ini menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan orang lain (Koentjaraningrat, 2000:11-42). Dalam kebudayaan Barat konsep individualisme ini dianggap penting. Namun nilai individealisme ini, juga dianggap kabur dan tak rasional, karena dalam kenyataan jarang terjadi bahwa manusia itu dapat mencapai sesuatu hasil yang sama sekali terlepas dari usaha atau bantuan orang lain.

Berdasarkan penjelasan tersebut, nilai individualisme adalah nilai yang menjunjung tinggi kekuatan sendiri, bahwa seseorang dapat berhasil atas usahanya sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

Penelitian kebudayaan juga mengikuti karakteristik budaya yang terintegrasi. Budaya adalah lekat (inherent) pada bidang-bidang lain yang terstruktur  rapi (Endraswara, 2006:1). Dengan demikian budaya merupakan tatanan rapi yang penuh makna serta penyesuaian antarunsur kebudayaan sehingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh dalam kehidupan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai budaya merupakan sebuah sistem yang paling tinggi tingkatannya dari adat-istiadat. Nilai budaya merupakan konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran manusia yang dianggap amat bernilai, bersifat langgeng dan sulit untuk diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. Dalam kaitannya dengan masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM) nilai budaya tersebut meliputi nilai kesopanan, nilai gotong royong, dan nilai individualisme.

 

  • Fenomenologis

Janet Wolf (dalam Faruk, 2005:116) mengatakan dalam bukunya ingin membangun sosiologi seni pada level makna, sosiologi pada level makna itu dikatakan harus dapat berbicara tentang karya-karya seni itu sendiri dalam pembicaraan mengenai tempatnya di dalam masyarakat. Untuk itu perlu menggunakan pendekatan verstehen, pendekatan ini bekerja melalui pemahaman fenomenologis mengenai individu dalam situasi sosialnya, pemahaman mengenai pola-pola makna yang membangun realitasnya, dan pemahaman mengenai definisinya terhadap situasi yang di dalamnya individu itu bertindak dan berinteraksi satu sama lain.

Endraswara (2003:38) mengatakan bahwa fenomenologi adalah tataran berpikir secara filosofi terhadap objek yang diteliti. Filsafat ini menekankan pemahaman terhadap arti. Dalam penelitian sastra, fenomenologi tidak mendorong keterlibatan subjektif murni, melainkan ada upaya memasuki teks sastra sesuai kesadaran peneliti. Kaum fenomenolog sastra aliran Jenewa lebih kearah menyikapi sastra sebagai gejala yang memiliki realitas objektif. Pembaca harus berusaha melukiskan fenomena melalui konkretisasi. Pemahaman karya sastra harus bertumpu pada karya sastra itu sendiri yang disebut “artefak“, melalui human cocious,  artefak akhirnya mampu menjelmakan gambaran dunia tertentu seperti dunia yang diolah pengarangnya. Eagleton (2007:83) mengatakan bahwa fenomenologi berfokus pada cara seorang pengarang mengalami waktu atau tempat, pada hubungan antara diri dan orang lain atau persepsi pengarang terhadap objek material.

Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Iskandar, 2009:24) penelitian dengan pendekatan fdenomenologi berusaha memahami makna dari suatu peristiwa atau fenomena yang saling berpengaruh dengan manusia dalam situasi tertentu. Senada dengan Bogdan dan Biklen, Moleong (dalam Endraswara, 2006:44) mengatakan bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Dalam pendekatan ini yang ditekankan adalah aspek subjek dari perilaku orang. Aspek subjektif  tersebut dari perilaku budaya suatu masyarakat dilihat sebagai individu yang berada dalam satu kelompok sosial.

Endraswara (2006:42) mengatakan pendekatan fenomenologis lebih menekankan rasionalisme dan realitas budaya yang ada. Fenomenologi berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Menurut paham fenomenologis, ilmu bukan values free,bebas nilai dari apapun, melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Dengan demikian antara nilai dengan pendekatan fenomenologis dalam menganalisis masyarakat baik dalam novel maupun dalam realitas masyarakat saat ini sangat berhubungan. Dalam perkembangannya, fenomenologi terdiri dari beberapa macam, yakni:

  • Fenomenologi Eidetik

Endraswara (2003: 39) mengatakan bahwa fenomenologi edidetik ini didasarkan pada kajian bahasa (linguistik), yang meliputi kajian makna dari fenomena dari gejala utama lalu dipilahkan, disaring, dan ditemukan gambaran pengertian murni.

 

  • Fenomenologi Ingarden

Endraswara (2006: 43) fenomenologi ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberadaan, penggambaran gejala (refleksi).

  • Fenomenologi Transendental

Endraswara (2003: 39) Fenomenologi Transendental mengungkapkan fenomena mendasarkan pada kesadaran aktif (cogito) peneliti. Kesadaran aktif dalam pengungkapan dan merekonstrksi kesadaran terhadap suatu gejala itu amat penting. Karena keberadaan realitas sebagai “objek“ secara tegas ditekankan.

  • Fenomenologi Eksistensial

Endraswara (2003: 39) Bahwa penentuan gejala semata-mata bersifat individual. Refleksi individual sebagai “guru“ bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran.

Salah satu karakteristik pendekatan fenomenologis yakni semua cabang kualitatif berpendirian bahwa untuk memahami subjek adalah dengan melihatnya dari sudut pandangan subjek sendiri, artinya dalam melakukan penelitian kualitatif, peneliti menggunkan pendekatan mengkonstruksikan penelitiannya berdasarkan pandangan subjek yang diteliti, Asmadi Alsa (dalam Iskandar, 2009:25).

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa fenomenologi adalah suatu tataran berpikir secara filosofi yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situai-situasi tertentu terhadap objek yang diteliti, dalam hal ini adalah teks sastra. Selain itu, fenomenologi memahami individu dalam situasi sosial, pola-pola makna yang membangun realitasnya, dan mengenai definisinya terhadap situasi yang di dalamnya individu itu bertindak dan berinteraksi satu sama lain.

NAVIENT
FLIGHTS
GOOGLE
ZAPPOS
GHOSTBUSTERS
THESAURUS
POF

OPTIMUM

Leave a Reply