Bab 2 Skripsi “NILAI–NILAI BUDAYA DALAM NOVEL AMIRA : CINTA DARI TANAH SURGA KARYA SULIWE “

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  • Karya Sastra

Sutardi (2011:1-2) mengatakan bahwa sastra sering dikatakan sebagai ‘tulisan yang indah’, juga dikaitkan sebagai ‘pembentuk budi pekerti’. Perkataan ini banyak mengacu pada Horace, yakni dulce et utile yang memberikan penegasan bahwa sastra sebagai karya yang indah dan bermanfaat bagi pembaca. Masyarakat yang melakukan pembacaan terhadap karya sastra akan mendapatkan kesenangan dari tulisan yang indah dan mengharukan, juga mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah disadari keberadaannya. Pernyataan tersebut sampai sekarang belum teruntuhkan sebagai argumentasi yang memandang sastra secara universal.

Sastra sering pula dikatakan sebagai hasil rekaan dari imajinasi pengarang, yakni hasil kreativitas pengarang dalam mencermati realitas kehidupan. Karena itu, karya sastra sebenarnya tidak lahir dari kekosongan. Sehingga A. Teeuw (dalam Sutardi, 2011:3) sampai mengatakan bahwa “sastra ditulis tidak dalam kekosongan budaya”. Kapan pun ditulis, karya sastra selalu dilingkupi langsung oleh lingkungan sekitar. Disadari atau tidak, pengarang dalam menciptakan karya tentu dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya sekitar. Unsur budaya, termasuk semua konvensi yang ditulis sebelumnya.

Hakikat karya sastra sebagai rekaan memerlukan pemahaman lain yang berkaitan dengan kesadaran pengarang dalam memperlakukan fakta-fakta sosial (Ratna, 2011:97). Selanjutnya, Culler (dalam Ratna, 2011:214) mengatakan bahwa karya sastra selalu merupakan bagian yang esensial dalam kehidupan manusia, sebab karya sastra pada dasarnya berfungsi untuk lebih memahami dunia ini. Karya sastra termasuk genre yang paling lengkap untuk melukiskan gejala-gejala kehidupan. Stuktur narativitas karya sastra, dengan konstruksi bahasa metaforis dan konotatif, mampu untuk menjangkau kehidupan sosial pada tingkat yang paling asasi.

Sastra mencerminkan gambaran kehidupan. Kehidupan adalah kenyataan budaya. Hal itu berarti bahwa sastra tidak berangkat dari ketiadaan budaya. Sastra termasuk bagian budaya. Budaya dapat diartikan sebagai “daya dari budi (akal)” seorang manusia yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (Koentjaraningrat, 2002:181).

Goldmann (dalam Ratna, 2011:89) mengatakan bahwa karya sastra yang valid adalah karya sastra yang didasarkan atas keseluruhan kehidupan manusia, yaitu pengalaman subjek kreator sebagai warisan tradisi dan konvensi. Sastra merupakan karya manusia yang berupa pengolahan bahasa yang indah. Pengolahan ini terwujud dalam bentuk lisan dan tulisan. Suatu karya sastra biasanya muncul di saat penyair mulai meluapkan perasaan, hasil pemikiran, dan imajinasinya. Luapan ini biasanya dapat berupa lisan maupun tulisan. Dalam bentuk tulisan biasanya berwujud novel, cerpen, puisi, dan naskah-naskah lain.

  • Novel

Novel merupakan karya sastra yang sekaligus disebut fiksi (Nugriyantoro, 2010:9), bahkan dalam perkembangannya, novel dianggap bersinonim dengan fiksi, yakni cerita rekaan. Aminuddin (2009:66) mengatakan bahwa karya fiksi adalah cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.

Karya sastra tulis, dalam hal ini novel, menarasikan tokoh-tokoh yang terlibat beserta konflik-konflik yang mereka miliki. Novel menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa secara tersusun. Namun jalan ceritanya dapat menjadi suatu pengalaman hidup yang nyata. Lebih dalam lagi novel mempunyai tugas mendidik pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia. Wellek dan Warren (dalam Nurgiyantoro, 2010:3) mengatakan bahwa sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Karena itu, novel harus tetap merupakan cerita menarik yang mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik. Dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan.

Sebagai salah satu genre sastra, novel mengandung unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur pembangun sebuah novel dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur inilah yang sering banyak disebut para kritikus dalam rangka mengkaji dan atau membicarakan novel atau karya sastra pada umumnya. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun dari dalam karya sastra itu sendiri, antara lain seperti, tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Sebaliknya, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari luar, misalnya, biografi pengarang, pandangan hidup, psikologi dan keyakinan pengarang, dan lain-lain.

  • Struktur Karya Sastra

Sebuah karya sastra tentu memiliki struktur-struktur pembangun yang menjadikannya memiliki makna yang menyeluruh. Stuktur-stuktur itu saling terkait satu sama lain yang menjadikannya semakin utuh. Stuktur-sruktur itu terdiri dari unsur-unsur. Pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur inilah yang sering banyak disebut para kritikus dalam rangka mengkaji dan atau membicarakan karya sastra pada umumnya. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun dari dalam karya sastra itu sendiri, antara lain seperti, tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Sebaliknya, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari luar, misalnya, biografi pengarang, pandangan hidup, psikologi dan keyakinan pengarang, dan lain-lain.

  • Tema

Scharbach (dalam Aminuddin, 2009:91) mengatakan bahwa istilah tema berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Karena itulah penyikapan terhadap tema yang diberikan pengarangnya dengan pembaca umumnya terbalik. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. Akan tetapi, pembaca baru bisa memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang menjadi media pemapar tema tersebut.

Tema dalam sebuah karya sastra, fiksi, hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangun cerita yang lain. Hal itu disebabkan tema, hanya berupa makna atau gagasan dasar umum cerita, tak mungkin hadir tanpa unsur bentuk yang menampungnya. Dengan demikian, sebuah tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur-unsur cerita lainnya. Tema sebuah cerita tidak mungkin disampaikan secara langsung, melainkan hanya secara implisit melalui cerita (Nurgiyantoro, 2009:77).

Tema dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yang berbeda tergantung dari segi mana penggolongan itu dilakukan. Pengkategorian tema yang akan dikemukakan berikut dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan non tradisional, penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut shipley dan penggolongan dari tingkat keutamaannya (Nurgiyantoro, 2009:77).

  • Tema Tradisional dan Nontradisional

Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditentukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Pernyataan-pernyataan tema yang dapat dipandang sebagai bersifat tradisional itu misalnya, berbunyi: (1) Kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan, (2) Tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga, (3) Tindak kebenaran atau kejahatan masing-masing akan memetik hasilnya, (4) Cinta yang sejati menuntut pengorbanan, (5) Kawan sejati adalah kawan di masa duka, (6) Setelah menderita, orang baru teringat Tuhan, (7) Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, dan sebagainya.

Tema-tema tradisional walau banyak variasinya, boleh dikatakan, selalu ada kaitannya dengan masalah kebenaran dan kejahatan. Selain itu, hal-hal yang bersifat tradisional, tema sebuah karya mungkin saja mengangkat suatu yang tidak lazim, katakan sesuatu yang bersifat tradisional. Karena sifatnya yang nontradisional, tema yang demikian, mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, yang bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau berbagai reaksi efektif yang lain. Berhadapan dengan cerita fiksi, pada umumnya orang mengharapakan yang baik, yang jujur, yang bercinta, atau semua tokoh yang digolongkan protagonis, akhirnya mengalami kemenangan, kejayaan. Sebaliknya, tokoh yang jahat, atau yang digolongkan antagonis, walau pada mulanya mengalami kejayaa, akhirnya dikalahkan atau memperoleh balasan yang sesuai. Akan tetapi, hal sebaliknyalah yang terjadi pada tema nontradisional. Tokoh protagonis mengalami kekalahan dan tokoh antagonis mengalami kejayaan.

  • Tingkatan Tema Menurut Shipley

Shipley mengartikan tema sebagai subjek wacana, topik umum, atau masalah utama yang dituangkan dalam cerita. Shipley membedakan tema-tema  karya sastra menjadi lima tingkatan berdasarkan pengalaman jiwa, yang disusun dari tingkatan yang paling sederhana, tingkat tumbuhan dan makhluk hidup, ke tingkat yang paling tinggi yang hanya dapat dicapai oleh manusia. Kelima tingkatan tema yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Pertama, tema tingkat fisik, manusia sebagai molekul. Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak ditunjukkan oleh aktifitas fisik dari pada kejiwaan. Ia lebih menekankan mobilitas fisik dari pada konflik kejiwaan tokoh cerita yang bersangkutan. Unsur latar dalam novel dengan penonjolan tema tingkat ini mendapat penekanan.

Kedua, tema tingkat organik, manusia sebagai protoplasma. Tema karya sastra tingkat ini lebih banyak menyangkut dan atau mempersoalkan masalah yang hanya dapat dilakukan oleh makhluk hidup. Berbagai persoalan kehidupan seksual manusia mendapat penekanan dalamm novel dengan tema tingkat ini, khususnya kehidupan seksual yang bersifat menyimpang, misalnya berupa penyelewengan dan penghianatan suami istri, atau skandal-skandal seksual yang lain.

Ketiga, tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial itu antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya yang biasanya muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.

Keempat, tema tingkat egoik, manusia sebagai individu disamping sebagai makhluk sosial, manusia sekaligus sebagai makhluk individu yang menuntut pengakuan atas hak individualnya. Dalam kedudukannya sebagai makhluk hidup individu, manusia pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik, misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapinya. Masalah individualitas itu antara lain berupa masalah egoistis, martabat, harga diri atau sifat dan sikap tertentu manusia lainnya, yang pada umumnya bersifat batin dan dirasakan oleh yang bersangkutan. Masalah individualitas biasanya menunjukkan jati diri, citra diri atau sosok kepribadian seseorang.

Kelima, tema tingkat Divine, manusia sebagai makhluk tingkat tinggi, yang belum tentu setiap manusia mengalami dan atau mencapainya. Masalah yang menonjol dalam tema tingkat ini adalah masalah hubungan manusia dengan sang pencipta, masalah religiositas, atau berbagai maslah yang bersifat filosofis lainnya seperti pandangan hidup, visi dan keyakinan.

  • Tema Utama dan Tema Tambahan

Tema, pada hakikatnya merupakan makna yang dipandang cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi, mungkin saja lebih dari satu. Hal inilah yang menyebabkan tidak mudahnya kita untuk menentukan tema pokok cerita, atau tema mayor, artinya makna pokok cerita yang menjadi gagasan dasar umum karya itu. Makna pokok cerita tersirat dalam sebagian besar cerita, yakni secara keseluruhan, bukan makna yang hanya pada bagian-bagian tertentu cerita saja. Makna yang demikian dapat diidentifikasikan sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan inilah yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor.

Makna-makna tambahan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dan makna pokok cerita yang bersangkutan berhubung sebuah novel yang jadi merupakansatu kesatuan. Makna pokok cerita yang bersifat merangkum berbagai makna khusus, makna-makna tambahan yang terdapat pada karya itu. Atau sebaliknya, makna-makna tambahan itu bersifat mendukung dan atau mencerminkan makna utama keseluruhan cerita. Bahkan sebenarnya, adanya koherensi yang erat antar berbagai makna tambahan inilah yang akan memperjelas makna pokok cerita. Singkatnya, makna-makna tambahan itu, atau tema-tema minor itu, bersifat mempertegas eksistensi makna utama, atau tema mayor. Kita dapat mengidentifikasi suatu makna sebagai makna pokok jika berada dalam perbandingannya dengan makna-makna yang lain yang dapat ditafsirkan dari karya itu.

  • Penokohan
    • Pengertian Penokohan.

Nurgiyantoro (2009:164) mengatakan bahwa dalam pembicaraan sebuah fiksi, sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Istilah-istilah tersebut, sebenarnya tak menyaran pada pengertian yang persis sama, walau memang ada di antaranya yang sinonim. Ada istilah yang pengertiannya menyaran pada tokoh cerita, dan pada teknik pengembangannya dalam sebuah cerita.

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebihmenunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Atau seperti dikatakan Jones (dalam Nurgiyantoro, 2009:165), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan atau apa yang dilakukan dalam tindakan.

Dengan demikian, istilah “Penokohan” lebih luas pengertiannya dari pada “Tokoh” dan “Perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

Senada dengan hal itu, tokoh menurut Aminuddin (2009:79) adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku. Dikatakan demikian, peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu.

  • Perwatakan Tokoh.

Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan (karakteristik) dapat diperoleh dengan memberikan gambaran mengenai tindak tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Dengan demikian,istilah Penokohan lebih luas pengertiannya dari pada tokoh dan perwatakan, karena ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan,dan bagaimana penempatan dan pelukisannyadalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas pada pembaca. Menurut Nurgiyantoro (1995:165), Penokohan sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

Aminuddin (2009:79) mengatakan bahwa para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan Tokoh Inti atau tokoh Utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena kemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu.

Selain lewat memahami peranan dan keseringan pemunculannya dalam menentukan tokoh utama dan tokoh tambahan, dapat juga ditentukan lewat petunjuk yang diberikan oleh pengarangnya. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya, sedangkan tokohtambahan hanya dibicarakan ala kadarnya. Selain itu, lewat judul cerita juga dapat ditentukan siapa tokoh utamanya.

Tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari, selalu memiliki watakwatak tertentu, protagonis adalah pelaku yang memiliki watak baik sehingga disenangi pembaca. Antagonis adalah pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan aa yang diidamkan oleh pembaca.

  • Alur

Pengertian alur dalam karya fiksi menurut Aminuddin (2009:83) adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Tahapan peristiwa yang menjalin suatu cerita bisa terbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam.

Loban (dalam Aminuddin, 2009:84) menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya gelombang. Gelombang itu berawal dari (1) eksposisi, (2) komplikasi atau intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik hingga menjadi konflik, (3) klimaks, (4) revelasi atau penyingkatan tabir suatu problema, dan (5) denouement atau penyelesaian yang membahagiakan, catastrophe, yakni penyelesaian yang menyedihkan, dan solution, yakni penyelesaian yang masih bersifat tebuka karena pembaca sendirilah yang dipersilahkan menyelesaikan lewat daya imajinasinya.

Selanjutnya, Tasrif (dalam Nurgiyantoro, 2010:149) membagi tahapan alur menjadi lima bagian. Pertama, tahap situation (penyituasian), yaitu tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Kedua, tahap generating circumstances (pemunculan konflik), yaitu mulai munculnya masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik. Ketiga, tahap ricing action, yaitu tahap di mana konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang. Keempat, tahap klimaks, yaitu tahap di mana konflik yang terjadi pada para tokoh mencapai intensitas puncak. Kelima, tahap denoement (penyelesaian), yaitu tahap di mana konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian.

Senada dengan hal itu, Sutardi (2011:75) mengatakan bahwa alur adalah stuktur naratif itu sendiri yang terbentuk atas sejumlah struktur naratif yang lebih kecil. Hal itu didasarkan pada hakikat karya sastra yang menggunakan penceritaan dari satu kisah ke kisah yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa alur adalah jalannya suatu cerita. Biasanya kaidah pemplotan ini menggunakan kaidah plasubilitas, yaitu pengungkapan cerita dengan mengacu pada kehidupan sehari-hari karena ada keterkaitan di dalamnya.

Pandangan-pandangan mengenai alur tersebut secara esensinya sebenarnya sama, yakni ingin mengungkapkan jalinan peristiwa yang terkandung dalam novel. Jalinan peristiwa tersebut ada yang lurus (terus) maju, ada yang justru mundur, dan ada yang campuran. Alur dalam karya sastra ditentukan oleh rangkaian kejadian dari waktu ke waktu yang memberikan kesesuaian makna yang dapat ditelusuri oleh pembaca. Susunan alur di dalam karya sastra disusun berdasarkan maknanya, bukan waktunya (Sutardi, 2011:76).

  • Latar

Latar adalah suatu tempat atau kejadian mengenai suatu peristiwa (Sutardi, 2011:76). Latar ada tiga macam, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya salang berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 2010:227).

Latar tempat adalah latar yang mengungkapkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam novel. Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam novel. Latar sosial adalah latar yang mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam novel.

  • Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah ilmu yang mempelajari karya sastra berdasarkan realitas sosial (Sutardi, 2011:80). Asumsi ini karena karya sastra dilahirkan tidak dalam kekosongan budaya. Penelitian sosiologi sastra yang membahas aspek sosiobudaya merupakan gabungan antara aspek sosial dan budaya dalam sastra. Pesan budaya menjadi sentral ekspresi sastra. Maka mempelajari karya sastra, tidak akan lepas dari budaya dan masyarakatnya. Budaya merupakan getaran yang dapat menggerakkan imajinasi. Budaya itu gambaran tentang hidup manusia di masyarakat. Mempelajari budaya lewat sastra dan masyarakat, akan menemukan hakikat hidup manusia dan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya (Endraswara, 2011:186).

Analisis sosiologi memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom sekaligus merupakan bagian integral dalam struktur sosial. Sesuai dengan mekanisme interaksi dalam stuktur komunikatif, maka perkembangan kejadian-kejadian dalam karya sastra didasarkan atas perkembangan peranan tokoh-tokoh, baik peranan sosial maupun kekeluargaan. Menurut visi sosiologis, otonomi karya sastra bukan semata-mata perkembangan struktur psikologis atau kualitas sistemik struktur intrinsiknya. Otonomi karya sastra, termasuk kejadian-kejadian yang terkandung di dalamnya, dipertimbangkan sebagai proses dialektis antara karya sastra dengan masyarakat (Ratna, 2011:170).

Alasan utama mengapa sosiologi sastra penting dan dengan sendirinya perlu dibangun pola-pola analisis sekaligus teori-teori yang berkaitan dengannya adalah kenyataan bahwa karya sastra mengeksploitasi manusia dalam masyarakat. Benar, medium bahasa memegang peranan yang sangat penting, berbeda dengan karya seni yang lain, tetapi perlu disadari bahwa tanpa masyarakat, tidak ada yang dilukiskan oleh bahasa. Perbedaannya, apabila sosiologi menganalisis manusia sebagai fakta sosial, karya sastra menganalisisnya secara fiksional. Di sinilah lokus utama sosiologi sastra, dan dari sinilah berkembang problematikanya. Atas dasar kenyataan di atas, maka objek karya yang lebih relevan untuk dianalisis adalah karya-karya yang mengandung unsur naratif, seperti novel (Ratna, 2011:295).

  • Budaya dan Kebudayaan

 Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan: ”hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada  sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti “daya dari budi.” Karena itu mereka membedakan “budaya” dari “kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (Koentjaraningrat, 2002:181).

Lebih lanjut C. Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 2002:204) menegaskan sebagai pengetahuan, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Hasil tersebut bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah “kebudayaan “ karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar, yaitu hanya beberapa tindakan naluri beberapa refleks, beberap tindakan akibat proses fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi buta. Setiap kebudayaan terdiri atas unsur-unsur yang universal, yaitu : sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik. Bahkan berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh mahluk manusia dalam gen-nya bersama kelahirannya (seperti misalnya makan, minum atau berjalan dengan kedua kakinya), juga dirombak olehnya menjadi tindakan berkebudayaan. Manusia makan pada waktu-waktu tertentu yang dianggapnya wajar dan pantas, ia makan dan minum dengan alat-alat, cara-cara dan sopan santun atau protokol yang seringkali sangat rumit,yang harus dipelajari dahulu dengan susah payah. Manusia berjalan tidak menurut wujud organisma yang telah ditentukan oleh alam, melainkan merombak cara berjalannya dengan gaya seperti prajurit, bergaya dengan gaya lemah lembut, berjalan seperti peragawati, dan sebagainya, yang semuanya harus dipelajarinya dahulu.

Selanjutnya, konsep kebudayaan dalam arti yang terbatas menurut Koentjaraningrat (2000:1) ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Singkatnya, kebudayaan adalah kesenian. Konsep kebudayaan dalam arti yang lebih luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar.

Berbeda dengan hal itu, budaya menurut Endraswara (2006:1) adalah “sesuatu” yang hidup, berkembang, dan bergerak menuju titik tertentu. Karenanya, penelitian budaya pun perlu menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Dengan kata lain, karakteristik penelitian budaya bersifat dinamis dan dialektis. Penelitian budaya bersifat dinamis artinya harus senantiasa mengikuti riak kebudayaaan itu sendiri. Sifat dialektis, maksudnya dalam meneliti budaya perlu meperhatikan aspek-aspek lokatif atau kedaerahan yang masing-masing lokasi sering berbeda satu sama lain.

Selanjutnya, (Endraswara, 2006:3) mengatakan bahwa penelitian kebudayaan merupakan upaya menangkap realitas. Realitas budaya, tidak berarti mengejar hal-hal yang faktual (kasat mata), melainkan juga berhubungan dengan fenomena abstrak kebudayaan. Karena itu, kebudayaan adalah sesuatu yang tidak terbatas pada hal-hal yang kasat mata tentang manusia, melainkan juga menyangkut hal-hal yang abstrak. Sehingga penelitian kebudayaan bisa melebar dan meluas serta mendalam ke seluruh penjuru hidup manusia.

Menurut Gramsci (dalam Faruk, 2005:65-66) Kebudayaan sebagai satu kekuatan material yang mempunyai dampak praktis dan “berbahaya” bagi masyarakat. Pada saat itu ia menolak konsep kebudayaan sebagai pengetahuan ensiklopedik dan melihat manusia sebagai semata-mata wadah yang diisi penuh dengan data empirik dan massa fakta-fakta mentah yang tidak saling berhubungan satu sama lain, yang harus didokumentasikan di dalam otak sebagai sebuah kolom dalam sebuah kamus yang memampukan pemiliknya untuk memberikan respon terhadap berbagai rangsangan dari dunia luar. Bagi Gramsci sendiri konsep kebudayaan yang lebih tepat, lebih adil, dan lebih demokratis, adalah kebudayaan sebagai organisasi, disiplin dari batiniah seseorang, yang merupakan suatu pencapaian suatu kesadaran yang lebih tinggi, yang dengan sokongannya, seseorang berhasil dalam memahami niali historis dirinya, fungsinya di dalam kehidupan, hak-hak dan kewajibannya.

Kebudayaan menurut Mukti Ali ( Mostopo, 1983:85) adalah budi-daya, tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia digerakkan oleh akal dan perasaannya. Yang mendasari semua itu adalah ucapan hatinya. Dan ucapan batin itu merupakan keyakinan dan penghayatannya terhadap sesuatu yang dianggap benar. Apa yang dianggap benar itu besar atau kecil adalah agama. Dan agama, sepanjang tidak diwahyukan adalah ia hasil pemikiran filsafat.

Kebudayaan juga dipandang sebagai tata nilai. Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat itu sendiri memperbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai atau berguna bagi kehidupannya. Barang sebagai hasil perbuatan itu dihasrati karena ia diperlukan. Dengan demikian barang itu mengandung nilai. Jadi, tingkah laku dan hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realisasi nilai. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah tingkah laku dan hasil perbuatan manusia yang memiliki nilai kebenaran.

  • Nilai-nilai Budaya

Karya sastra adalah cermin jati diri (identitas) bangsa. Salah satu unsur paling penting dari jati diri bangsa itu ialah nilai-nilai suatu budaya bangsa yang biasanya terkandung dalam karya sastra. Nilai adalah hal-hal penting atau berguna bagi kemanusiaan, sedangkan nilai budaya ialah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai di kehidupan manusia.

Menurut Mustopo (1983:36), nilai adalah persepsi dan pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra. Nilai-nilai  tersebut diperoleh secara otomatis dari hasil membaca. Akan tetapi, hanya pembaca yang berhasil mendapat pengalaman sastra saja yang dapat merebut nilai-nilai dalam sastra.

Berdasarkan pengertian nilai di atas, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai budaya adalah pengertian atau persepsi seseorang yang diperoleh dari hasil cipta, rasa, dan karsa manusia di dunia. Hasil cipta dan karsa dalam  kenyataannya dapat berbentuk corak ungkapan, pikiran, perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuan suatu masyarakat tertentu. Dalam tiap masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan yang lain saling berkaitan sehingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya.

Tidak mudah untuk menjelaskan nilai. Bertens (2007:140) menjelaskan bahwa nilai sekurang-kurangnya harus mempunyai tiga ciri, yaitu: (1) nilai berkaitan dengan subjek, (2) nilai tampil dalam keadaan praktis, (3) nilai yang menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subjek yang dimiliki oleh objek. Sedangkan nilai budaya dapat dikelompokkan antara lain: (1) nilai budaya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, (2) nilai budaya yang berhubungan dengan nilai moral, (3) nilai budaya yang berhubungan dengan spiritual, (4) nilai budaya yang berhubungan dengan ajaran.

Selanjutnya, Koentjaraningrat (2002:190) menyatakan bahwa nilai-nilai budaya adalah konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga itu tadi. Jadi, nilai budaya adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia yang dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah bagi kehidupan selanjutnya.

Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 2002:191) mengemukakan bahwa setiap sistem nilai kebudayaan itu dapat dikelompokkan  ke dalam lima masalah dasar kehidupan manusia. Kelima masalah dasar tersebut adalah: (1) masalah hakikat hidup manusia, (2) masalah hakikat karya hidup manusia, (3) masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) masalah hakikat manusia dengan alam hidup sekitarnya, dan (5) masalah hakikat manusia dengan sesamanya.

Mengenai masalah yang pertama, ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan, dan karena itu harus dihindari. Kebudayaan-kebudayaan yang terpengaruh oleh agama Buddha misalnya dapat disangka mengkonsepsikan hidup itu sebagai suatu hal yang buruk. Pola-pola tindakan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju ke arah tujuan untuk dapat memadamkan hidup itu (nirvana = meniup habis), dan meremehkan segala tingkatan yang hanya mengekalkan rangkaian kelahiran kembali (samsara). Adapun kebudayaan-kebudayaan lain memandang hidup manusia itu pada hakekatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikannya suatu hal yang baik dan menggembirakan.

Mengenai masalah kedua, ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang bahwa karya manusia pada hakekatnya bertujuan untuk memungkinkan hidup. Kebudayaan lain lagi menganggap hakekat dari karya manusia itu untuk memberikannya suatu kedudukan yang penuh kehormatan dalam masyarakat. Sedangkan kebudayaan-kebudayaan lain lagi menganggap hakekat karya manusia itu sebagai suatu gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

Kemudian mengenai masalah ketiga, ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang penting dalam kehidupan manusia itu masa yang lampau. Dalam kebudayaan-kebudayaan serupa itu orang akan lebih sering mengambil sebagai pedoman dalam tindakannya contoh-contoh dan kejadian-kejadian dalam masa yang lampau. Sebaliknya, ada banyak pula kebudayaan di mana orang hanya mempunyai suatu pandang waktu yang sempit. Warga dari suatu kebudayaan serupa itu tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan zaman yang lampau maupun masa yang akan datang. Mereka hidup menurut keadaan yang ada pada masa sekarang ini. Kebudayaan-kebudayaan lain lagi malahan justru mementingkan pandangan yang berorientasi sejauh mungkin terhadap masa yang akan datang. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang amat penting.

Selanjutnya mengenai masalah keempat,ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang alam sebagai suatu hal ayng begitu dahsyat sehingga manusia pada hakekatnya hanya dapat bersifat menyerah saja tanpa  dapat berusaha banyak. Sebaliknya, banyak pula kebudayaan lain yang memandang alam sebagai suatu hal yang dapat dilawan oleh manusia, dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukkan alam. Kebudayaan lain lagi menganggap bahwa manusia hanya dapat berusaha mencari keselarasan dengan alam.

Mengenai masalah kelima, ada kebudayaan-kebudayaan yang sangat mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Dalam tingkah lakunya manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan serupa itu akan berpedoman kepada tokoh-tokoh pemimpin, orang-orang senior, atau orang-orang atasan. Kebudayaan lain lebih mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Orang dalam suatu kebudayaan serupa itu akan sangat merasa tergantung kepada sesamanya, dan usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangganya dan sesamanya merupakan suatu hal yang dianggapnya sangat penting dalam hidup. Kecuali itu ada banyak kebudayaan lain yang tidak membenarkan anggapan bahwa manusia itu tergantung kepada orang lain dalam hidupnya. Kebudayaan-kebudayaan serupa itu, yang sangat mementingkan individualisme, menilai tinggi anggapan bahwa manusia harus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan bantuan orang lain sedikit mungkin.

Sementara itu, Kluckhohn (dalam Endraswara, 2006:83) membagi aspek-aspek nilai menjadi lima, yaitu: (1) nilai yang berhubungan dengan sifat dasar manusia, yaitu orientasi nilai tentang: kejahatan dan kebaikan, (2) nilai yang berkaitan antara relasi manusia dengan alam, manusia dapat tunduk atau sebaliknya menguasai alam, (3) nilai yang berhubungan dengan waktu hidup manusia, yaitu masa lalu, kini, dan akan datang, (4) nilai rats-rata aktivitas manusia, yaitu nilai yang menjadikan manusia bermutu atau tidak, (5) nilai yang berhubungan dengan relasi individu dengan kelompok.

Analisis nilai pada dasarnya merupakan pemahaman karya dari aspek ekstrinsik (Endraswara, 2008:160). Unsur ekstrinsik nilai tersebut cukup banyak, antara lain meliputi: (1) pesan moral/etika, (2) nilai pendidikan, (3) nilai filosofis, (4) nilai religius, (5) nilai kesejarahan, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan nilai moral atau budi pekerti, Endraswara membagi kategori budi pekerti sebagai berikut: (1) budi pekerti yang berhubungan antara manusia dengan Tuhan, misalnya semedi, menyembah, berkorban, slametan dan sebagainya, (2) budi pekerti yang berhubungan antara manusia dengan manusia, misalnya sikap gotong royong, rukun, membantu, kasih-mengasihi, dan sebagainya, (3) budi pekerti yang berhubungan antara manusia dengan alam semesta, yaitu sikap tak semena-mena kepada benda-benda mati, (4) budi pekerti yang berhubungan antara manusia dengan makhluk lain, misalnya jin, setan, hewan, tumbuhan, dan lain-lain, (5) budi pekerti yang berhubungan antara manusia dengan diri sendiri.

  • Nilai Budaya Moral

Nurgiyantoro (2009:320) memasukkan moral ke dalam struktur karya sastra, yakni diidentikkan dengan tema yang merupakan suatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita. Peranan moral sengat penting di masyarakat sehingga muncul di dalam karya sastra dapat sebagai hal yang penting juga. Eksistensi sastrawan di tengah realitas akan menampilkan moralitas masyarakat yang mengelilinginya.

Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai Nilai Sastra, pesan. Bahkan unsur Nilai Sastra itu, merupakan gagasan yang mendasari penulisan atau diciptakannya karya sastra sebagi pendukung pesan (Nurgiyantoro, 2009:321).

Secara lebih jelas, sebenarnya moral merepresentasikan keadaan pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk di dalam kehidupan sehari-hari. Moral adalah tindakan atau perilaku mengenai ide-ide yang umum diterima dalam kehidupan bermasyarakat sebagi konsep. Moral adalah ajaran mengenai tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari mengenai kebenaran dan kesalahan yang dijalaninya. Melalui kekuatan moral, karya sastra ingin memberikan pembelajaran kepada pembaca untuk masuk pada etika yang dikisahkan. Dengan demikian, moral juga merupakan konsep pembelajaran untuk mengarahkan etika karena moral lebih dikonotasikan pada tindakan-tindakan yang baik-baik saja (Sutardi, 2011:40).

  • Nilai Budaya Sosial

Zaidan (2007:132) menjelaskan bahwa nilai sosial merupakan ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari karya sastra yang bertujuan untuk mengajarkan sesuatu secara langsung ataupun tidak langsung. Nilai sosial identik dengan sikap sosialis. Sikap ini dimiliki oleh individu yang memiliki simpati yang tinggi terhadap masyarakat. Ini berarti individu yang memiliki sikap sosialis akan mampu mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan yang dilakukan. Selanjutnya, Rama (2007:188) mengungkapkan bahwa sikap sosialis merupakan keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus pada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku. Sosialis merupakan sikap mengenai masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, dan lain-lain.

Durkheim (dalam Faruk, 2011:29) membedakan nilai sosial menjadi tiga bagian, yaitu nilai solidaritas, nilai pengorbanan, dan nilai cinta.

  • Nilai Solidaritas

Nilai solidaritas diartikan sebagai hubungan saling ketergantungan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain. Disebut pula hubungan individu yang satu dengan individu yang lain, atau hubungan emosional individu dengan kelompok tertentu. Solidaritas merupakan sebuah sikap peduli individu maupun masyarakat terhadap individu lain. Kepedulian ini dimaksudkan untuk saling melengkapi antara satu sama lain (Faruk, 2011:45).

  • Nilai Pengorbanan

Kesetiaan yang utama adalah sikap rela berkorban. Sikap berkorban ini lahir karena rasa kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga seseorang mau berkorban hanya untuk orang yang disayangi. Ini sebagai bukti bahwa nilai pengorbanan merupakan bagian dari sikap bertanggung jawab (Andalusi, 2008:149). Sikap rela berkorban selalu mementingkan orang lain, menolong yang membutuhkan, memberi yang meminta, melindungi dan memberi rasa aman bagi yang lemah, dan membebaskan pikiran dari ketakutan dan bayangan-bayangan ancaman.

  • Nilai Cinta

Nilai cinta yang utama adalah sikap rela berkorban. Sikap berkorban ini lahir karena rasa kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga seseorang mau berkorban hanya untuk orang yang disayangi. Dikatakan demikian karena cinta adalah sebuah getaran jiwa yang berawal dari ilusi menjadi sesuatu yang benar-benar terjadi. Cinta bermakna agung hingga nyaris tidak ada sesuatu pun yang dapat menggambarkannya (Andalusi, 2008:2). Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada manusia untuk saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, dan saling pengertian. Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah, dan lain-lain). Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak.

  • Nilai Budaya Spiritual (Religius)

 Pemahaman mengenai niali spiritualitas di dalam karya sastra banyak dipahami sebagai religiusitas. Banyak orang memandang bahwa spiritualitas lahir karena dalamnya suasana religi. Religiusitas muncul dengan adanya bentuk-bentuk religius sebagai nilai, konsep maupun suatu dimensi.

Istilah “Religius” menurut Nurgiyantoro (2009:326) membawa konotasi dalam makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyaran pada makna yang berbeda. Agama lebih menunjuk pada kelembagaan kebaktian kepada tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religiusitas, di pihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, riak getaran hati nurani, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal, dan resmi.

Nilai religiusitas dianggap dapat mentransformasikan dan memberikan efek-efek kekuatan pada karya sastra. Religiusitas muncul dengan adanya perasaan keagamaan di dalam karya sastra sebagi wujud dari pandangan pengarang di dalam menyikapi realitas. Pandangan mengenai religiusitas hadir dengan segala perasaan batin yang memiliki hubungan atau keterkaitan dengan tuhan, karena nilai-nilai religius yang ada di dalam karya sastra dapat memberikan efek kekuatan pada karya.

Padahal, spiritulitas di dalam karya sastra tidak harus terkait dengan religiusitas. Spiritualitas lebih terkait dengan adanya penghayatan seorang sastrawan terhadap suatu fenomena yang menjadi sosial budaya. Penghayatan itu akan membawa teks memiliki ruh untuk menampilkan sisi dalam. Penghayatan merupakan bentuk penglihatan subjektif yang dimiliki oleh sastrawan dalam membaca ruang-ruang baru yang lebih pertikular (sutardi, 2011:119).

Spiritualitas di dalam karya sastra dapat terjadi dengan berbagai aspek untuk memberikan dorongan atau ruang kesadaran baru untuk bertindak. Karya sastra yang baik akan dapat melibatkan perasaan pembaca. Selain itu, juga dapat melewati berbagai ketidakmungkinan makna atas fenomena.

 

Leave a Reply