Bab 2 skripsi “PSIKOLOGI TOKOH DALAM NOVEL BAK RAMBUT DIBELAH TUJUH KARYA MUHAMMAD MADHLORI”

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra (Endraswara, 2008:16). Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Mungkin aspek dalam ini yang acap kali bersifat subjektif, yang membuat para pemerhati sastra menganggapnya berat. Sesungguhnya belajar psikologi sastra amat indah, karena kita dapat memahami sisi kedalaman jiwa manusia,  jelas amat luas dan amat dalam. Makna interpretatif terbuka lebar( endraswara, 2008 :14). Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu sering pula dialami oleh orang lain.

10

Selain itu, langkah pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui tiga cara, pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakukan analisis terhadap suatu karya satra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori – teori  psikologi yang dianggap relevan untuk digunakan. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan objek penelitian (Endraswara, 2008:89). Selanjutnya, memperlihatkan bahwa teks yang ditampilkan melalui suatu teknik dalam teori sastra ternyata dapat mencerminkan suatu konsep dari psikologi yang diusung oleh tokoh fiksional.

Tanpa kehadiran psikologi sastra dengan berbagai acuan kejiwaan, kemungkinan pemahaman sastra akan timpang. Kecerdasan sastrawan yang sering melampaui batas kewajaran munkin bisa dideteksi lewat psikologi sastra. Itulah sebabnya pemunculan psikologi sastra perlu mendapat sambutan. Setidaknya sisi lain dari sastra akan terpahami secara profesional dengan penelitian psikologi sastra. Apakah sastra merupakan sebuah lamunan, impian, dorongan seks, dan seterusnya dapat dipahami lewai ilmu ini (Endraswara, 2008:7).

Psikologi secara sempit dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa. Sedangkan sastra adalah ilmu tentang karya seni dengan tulis-menulis. Maka jika diartikan secara keseluruhan, psikologi sastra merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut kejiwaannya. Menurut Wellek dan Austin (1989:90), Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Pendapat Wellek dan Austin tersebut memberikan pemahaman akan begitu luasnya cakupan ilmu psikologi sastra. Psikologi sastra tidak hanya berperan dalam satu unsur saja yang membangun sebuah karya sastra. Mereka juga menyebutkan, “Dalam sebuah karya sastra yang berhasil, psikologi sudah menyatu menjadi karya seni, oleh karena itu, tugas peneliti adalah menguraikannya kembali sehingga menjadi jelas dan nyata apa yang dilakukan oleh karya tersebut”.

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan.Pengarang akan menggunakan cipta,rasa,dan karya dalam berkarya.Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga takkan lupa dari kejiwaan masing-masing. Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Psikologi turut berperan penting dalam menganalisaan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Dengan meneliti sebuah karya sastra melalui pendekatan psikologi sastra, secara tidak langsung kita telah membicarakan psikologi karena dunia sastra tidak dapat dipisahkan dengan nilai kejiwaan yang mungkin tersirat dalam karya satra tersebut.

  1. Pengertian intelegensi kejiwaan

Intelegensi merupakan daya atau potensi dalam diri seseorang yang dipergunakan untuk memahami dan mewujudkan potensi tersebut kedalam sebuah realita kehidupan. Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Seringkali kita dengar seorang mengatakan si A tergolong pandai atau cerdas ( inteligen ) dan si B tergolong bodoh atau kurang cerdas ( tidak inteligen ). Istilah inteligen sudah lama ada dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu aspek alamiyah dari seseorang. Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “ inteligensia “. Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran. Untuk memperjelas pengertian inteligensi, maka penulis memaparkan beberapa  definisi  inteligensi  yang  di  kemukakan  oleh  beberapa  ahli psikologi maupun pendidik diantaranya :

Menurut para ilmuwan, dewasa ini manusia  menggunakan 10 persen dari kemampuan otaknya. Dari 10 persen itu sebagian besar hanya mengoptimalkan belahan otak kiri (Stanford Research Institute). Pada dasarnya setiap orang dapat menjadi jenius. Idealnya memang harus dipersiapkan sejak kecil dengan mengaktifkan fungsi otak untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang menunjang proses pembelajaran. Usia remaja juga dapat memberdayakan otak secara optimal, untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja otak tersebut. (Sidiarto L. 2008:9)

Beberapa penelitian yang telah dilakukan  mengenai kecerdasan otak, diketahui bahwa kecerdasan otak yang bersumber di sistem limbik justru memberikan kontribusi jauh lebih besar dibandingkan dengan kecerdasan yang bersumber dari neokorteks. Terdapat dua kecerdasan yang bersumber selain dari neo kortex yaitu  pada   emosional di sistem limbik dan  spiritual di God spot (temporal).  Kontribusi kecerdasan emosional  dan  spiritual terhadap keberhasilan karir atau hidup seseorang diperkirakan  sekitar 80 %, sedangkan sisanya merupakan kontribusi dari kecerdasan rasional.  Dari 80 % kontribusi tersebut ternyata spiritual  mendominasi sekitar 60 % dan sisanya merupakan kontribusi emosional.

Potensi kecerdasan sebagai inti Inteligensi merupakan pusat kreativitas dan inovasi yang dihasilkan oleh suatu fungsi organ otak pada manusia (Cattel,1971 dalam Pasiak 2008). atau manusia dapat beraktifitas bermanfaat yang merupakan kegiatan kreatif dan inovatif berdasar derajat inteligensi yang dimotori oleh otak yang sehat.

Dengan demikian untuk mengatasi segala tantangan dan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu harus  cerdas dan juga  mampu menggunakan semua kecerdasan otak yaitu intelektual, emosional dan spiritual. Beberapa Pengertian Intelegensi menurut Para Ahli dalam Dalyono. 2007)

  1. Super dan Cites, 1962:83) mengemukakanIntelegensi sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dati pengalaman. Dimana manusia hidup dan berinteraksi didalam lingkungannya yang kompleks untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  2. Garrett, (1946:372) mengemukakan intelegensi itu setidak-tidaknya mencakup kemampuan kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta mengunakan symbol-simbol. Karena manusia hidup senantiasa menghadapi permasalahan, setiap permasalahan harus dipecahkan agar manusia manusia memperoleh keseimbangan (homeostasis) dalam hidup.
  3. Bischor, (1954:54) mengemukakanIntelegensi ialah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah. Defenisi intelegensi yang dikemukakan bischor ini memuat perbedaan dengan defenisi menurut gareet yaitu intelegensi dalam asti khusus sementara bischor dalam artian yang lebih luwes namun bersifat operasional dan fungsional bagi kehidupan manusia.
  4. Haidentich, (1970) mengemukakan Intelegensi menyangkut  kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan  masalah-masalah. Dimana manusia yang belajar sering menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahan hal ini memerlukan kemampuan individu untuk belajar menyesuaikan diri serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.

Williem Sterm, mengemukakan bahwa “inteligensi ialah suatu kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya, dan inteligensi tersebut sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan” Berdasar pendapat tersebut pendidikan dan lingkungan tidaklah begitu berpengaruh kepada inteligensi seseorang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain ialah :

  • Pembawaan, Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan cirri yang dibawah sejak lahir. Batas kesangupan kita yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama ditentukan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar ada pula yang bodoh. Sekalipun menerima latihan dan pelajaran yang  sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
  • Kematangan, tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ(fisik maupun non fisik) dapat dikatakan telah matang jika telah mencapai kesangupan menjalangkan fungsinya masing-masing. Anak tidak dapat memecahkan soal-soal tertentu karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk mengenai soalitu dan kematangan erat hubungannya dengan umur.
  • Pembentukan, pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja seperti yang dilakukan disekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar)
  • Minat dan pembawaan yang khas, Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan – dorongan(motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motivasi) dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama kelamaan timbulah minat terhadap sesuatu, apa yang mereka minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
  • Kebebasan, kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode juga bebas dalam memilih masalah sesuati dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa  minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam pembentukan intelegensi. (Dalyono, 2007:2.)
  1. Pengertian motivasi dan emosi
    1. Motivasi

Merupakan dorongan dari diri sendiri maupun orang lain. Motivasi juga berwujud dalam bentuk tingkah laku. motivasi  satu kesatuan yang merupakan dorongan individu untuk melakukan sesuatu seperti yang di inginkan atau dikehendaki.

Menurut Anonim (2010), motivasi dibedakan atas 3 macam berdasarkan sifatnya:

  1. Motivasi takut atau fear motivation, yaitu individu melakukan suatu perbuatan dikarenakan adanya rasa takut. Dalam hal ini seseorang melakukan sesuatu perbuatan dikarenakan adanya rasa takut, misalnya takut karena ancaman dari luar, takut Aku mendapatkan hukuman dan sebagainya.
  2. Motivasi insentif atau incentive motivation, yaitu individu melakukan sesuatu perbuatan untuk mendapatkan sesuatu insentif, bentuk insentif bermacam-macam seperti mendapatkan honorarium, bonus, hadiah, penghargaan dan lain-lain
  3. Motivasi sikap atau attitude motivation merupakan suatu motivasi karena menunjukkan ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap suatu objek, motivasi ini lebih bersifat intrinsic, muncul dari dalam individu, berbeda dengan kedua motivasi sebelumnya yang lebih bersifat ekstrintik yang datang dari luar diri individu.

motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang berpengaruh pada aktifitas, maka fungsi motivasi adalah :

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisikan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Disamping itu motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha pencapaian prestasi seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Demikian posisi motivasi yang sangat vital, namun bukan berarti seseorang dapat mencapai hasil belajar yang baik, karena berhasil tidaknya seseorang anak dalam belajar itu tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi saja, melainkan banyak faktor yang mempengaruhinya, hal ini sejalan dengan pendapat Ngalim Purwanto yang menjelaskan bahwa : “berhasil tidaknya belajar itu tergantung pada macam-macam faktor”.

Adapun faktor-faktor itu dapat dibedakan menjadi dua golongan :

  1. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut dengan faktor individual.
  2. Faktor yang ada diluar individu kita sebut dengan faktor sosial. Yang termasuk faktor individual : kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain : keluarga, guru dan cara mengajar, lingkungan, serta kesempatan yang tersedia.
    1. Emosi

Kata “emosi” diturunkan dari kata bahasa Perancis, emotion. Emosi adalah pengalaman yang bersifat subjektif, atau dialami berdasarkan sudut pandang individu. Emosi berhubungan dengan konsep psikologi lain seperti suasana hati, temperamen, kepribadian, dan disposisi.

Emosi merupakan kumpulan perasaan yang ada dalam hati manusia. Jadi emosi identik dengan perasan. Perasaan gembira, sedih, takut, benci, cinta dan amarah merupakan bentuk emosi. Firman Allah yang berhubungan dengan perasaan dan emosi.

Namun ada pendapat lain yang mendefinisikan emosi adalah reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.

Menurut Yusuf (1998:7) emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti: (1) perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran; (2) perasaan sosial, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok; (3) perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral); (4) perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian; dan (5) perasaan ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious).

  1. Sebab-Sebab Perbedaan Emosi

               Terjadinya perbedaan emosi dikarenakan oleh :

  1. Emosi itu sangat dalam, misalnya antara yang sangat marah dengan yang takut, mengakibatkan aktifitas badan yang sangat tinggi.
  2. Seseorang dapat memahami dan mengahayati emosi dengan berbagai cara, misalnya, perbedaan individu jika marah, mungkin dia gemetar mungkin memaki-maki dan mungkin lari.
  3. Istilah yang diletakan pada ‘emosi’ yang didasarkan pada sifat rangsang bukan pada keadaan, misalnya takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap suatu yang menjengkelkan .
  4. Emosi subyektif dan intropeksi sukar dikenali karena akan dipengaruhi oleh lingkungan.
  1. Macam-Macam Emosi
  2. Takut : Emosi ini cenderung atau sering disebabkan oleh situasi sosial tertentu, biasanya kondisi ketakutan pada suatu obyek yang nyata. Misalnya, takut berada di tempat yang gelap atau sepi.
  3. Khawatir: Khawatir ini merupakan bentuk ketakutan, tetapi lebih bersifat imajiner atau khayalan. Dalam pikiran dan keyakinan kita diyakini konkret keberadaannya. Kekhawatiran muncul kalau intensitas ketakutan meningkat. Misalnya, khawatir kalau kita tidak berhasil melakukan sesuatu atau tidak lulus ujian.
  4. Marah: Marah bersifat sosial dan biasanya terjadi jika mendapat perlakukan tidak adil atau tidak menyenangkan dalam interaksi sosial. Marah membuat kita menjadi tertekan. Saat kita marah denyut jantung kita bertambah cepat dan tekanan darah naik. Nafas pun tersengal dan pendek, otot menegang.
  5. Sebal: Sebal terjadi kalau kita merasa terganggu, tetapi tidak sampai menimbulkan kemarahan dan cenderung tidak menimbulkan tekanan bagi kita. Sebal akan muncul berkaitan dengan hubungan antarpribadi, misalnya kita sebal melihat tingkah teman atau si pacar yang enggak perhatian.
  6. Frustrasi: Frustrasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannnya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustrasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri. Kita dianggap mampu memberikan respons positif terhadap rasa frustrasi kalau mampu memahami sumber-sumber frustrasi dengan logis. Namun, reaksi yang negatif juga dapat muncul dalam bentuk agresi fisik dan verbal, pengalihan kemarahan pada obyek lain serta penghindaran terhadap sumber persoalan atau realitas hidupnya.
  7. Cemburu: Cemburu adalah suatu keadaan ketakutan yang diliputi kemarahan. Perasaan ini muncul didasarkan perasaan tidak aman dan takut status atau posisi kita yang sangat berarti bagi diri kita akan digantikan oleh orang lain. Yang paling sering kita alami adalah cemburu kalau melihat cowok atau cewek kita dekat sama orang lain atau sahabat kita mulai dekat dengan teman lain.
  8. Iri Hati: Emosi ini ditunjukkan pada orang tertentu atau benda yang dimiliki orang lain. Hal ini bisa menjadi hal yang berat bagi kita karena berkaitan dengan materi yang juga menunjukkan status sosial. Misalnya, kita iri karena melihat si A lebih cantik, kaya, populer daripada kita.
  9. Dukacita: Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini terjadi bila kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.
  10. Afeksi atau Sayang: Afeksi adalah keadaan emosi yang menyenangkan dan obyeknya lebih luas, memiliki intensitas yang tidak terlalau kuat (tidak sekuat cinta), dan berkaitan dengan rasa ingin dimiliki dan dicintai.
  11. Bahagia: Perasaan ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
  12. Memelihara Emosi

Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Di bawah ini cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.

  1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.
  2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
  3. Senantiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.

Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respon emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.

  1. Pengertian persepsi

Merupakan tanggapan atau penerimaan lansung dari suatu atau merupakan proses seseorang mengetahui seberapa hal yang diketahui orang lain dalam memahami setiap informasi tentang lingkungan melalui panca indera.

Kotler (2000:18) mengemukakan bahwa persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara (dalam Arindita, 2002:17) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Adapun Robbins (2003:2) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Walgito (1993:21) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.

Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.

2.2 Karya Sastra      

Karya sastra mengarah pada suatu keindahan. Keindahan yang di maksud yakni sastra sebagai sebuah hasil kreatifitas manusia bersumber dari sebuah daya cipta dan pola fikir yang tinggi sehingga mampu mewujudkan sebuah karya. Pegarang dalam menghasilkan Sebuah karya muncul dari pegalaman-pegalaman realitas dalam kehidupan maupun daya imajinasi pengarang yang diolah menjadi sebuah karya yang indah sehingga dapat dinikmati oleh penikmat sastra.  Sastra (tulisan yang indah) dikaitkan sebagai pembentuk budi pekerti yang mengacu pada horace, yakni dulce et utile yang memberikan penegasan bahwa sastra sebagai karya yang indah dan bermanfaat bagi pembaca (Sutardi, 2011:2).

 Dalam membaca masyarakat pembaca akan mendapat kesenangan dari tulisan yang indah dan mengharukan, serta dapat pula menjadi sumber pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud yakni seorang pembaca dapat memperoleh tambahan sebuah wawasan tentang sebuah kebaikan-kebaikan yang dituangkan sastrawan dalam karyanya.

Pengarang sebagai makhluk individu maupun sosial memberikan kesinambungan terhadap karya sastra. Kreatifitas yang muncul dari pola fikir pengarang berasal dari daya imajinasi bersumber dari kecermatan memahami realitas. Keterhubungan inilah memungkinkan sastrawan dalam memghasilkan karyanya selalu bersumber dari hal-hal yang ada dalam lingkungan sosial, kehidupan sehari-hari sering muncul di dalam sebuah karya. Hubungan sastrawan dengan realitas sesuai dengan pandangan, A. Teeuw (dalam sutardi, 2011:3) mengatakan bahwa” sastra tidak ditulis dalam kekosongan budaya” sehingga dapat difahami bahwa munculnya sebuah karya bersumber dari sebuah pegetahuan yang diolah menjadi sebuah kreatifitas yang menguntungkan bagi pembaca maupun penulis.

novel sebagai salah satu hasil kaya sastra sering kita jumpai hampir setiap harinya. Namun banyak orang memahami novel hanya sebagai suatu buku cerita yang tebal, sehingga kadang kita sendiri malas untuk membeli dan membacanya. Padahal novel sebagai sebuah hasil karya sastrawan memiliki banyak keungulan dari segi cerita maupun amanat yang inggin di sampaikan oleh pengarang kepada penikmat sastra. Novel memiliki cakupan yang luas dari segi cerita, yang diolah dengan alur yang kompleks, dengan mengambarkan suasana dan setting cerita beragam sehingga penikmat sastra dapat memilih dan menikmati novel sesuai selera sastranya. Lebih sepesifik lagi tentang pengertian novel yakni  cerita bentuk prosa dalam ukuran yang luas, Luas disini dapat   berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana dan setting cerita yang beragam (Sumardjo dan Saini, 1986:29)

Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling populer di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Menurut Abram (dalam Nurgiantoro, 2010:10), novel adalah sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu lebih banyak, lebih rinci, lebih detail dan kompleks. Novel terbentuk atas dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun dari dalam diri karya sastra sedangkan unsur ekstrinsik terbentuk dari luar karya sastra.

 2.2.1  Unsur-Unsur karya sastra                                                                     

Karya sastra dibangun oleh dua unsur pokok, yakni apa yang diceritakan dan teknik  ( metode) penceritaan. Isi atau materi yang diceritakan tentunya tidak dapat dipisahkan dengan cara penceritakan. Bahasa yang digunakan untuk bercerita harus disesuaikan dengan isi, sifat, perasaan, dan tujuan apa cerita itu. Unsur unsur yang berkaitan dengan isi lazim disebut struktur batin. Unsur yang berhubungan dengan metode pengucapan disebut struktur fisik. Unsur-unsur itu membangun suatu kesatuan, kebulatan dan regulasi diri atau membangun sebuah struktur dalam sebuah karya sartra. Unsur-unsur itu bersifat fungsional, artinya dicipta pengarang untuk mendukung maksud secara keseluruhan cerita itu (waluyo dalam nurdiani, 2010, http://etd.eprints.ums.ac.id).

Nurgiyantoro (2005:22) mengemukakan bahwa sebuah karya sastra merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Sebagai totalitas maka karya satra terdiri dari bagian-bagian unsur yang saling berkaitan satu dengan lainnya secara erat dan saling menggantungkan.

Karya sastra dibangun dari sejumlah unsur dan setiap unsur akan saling berhubungan secara saling menentukan, yang kesemuanya itu akan menyebabkan novel tersebut menjadi sebuah karya sastra yang bermakna pada hidup. Unsur-unsur tersebut yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur tersebut harus dipahami dalam upaya pengkajian karya sastra.

Nurgiyantoro (2005:23) menjelaskan bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri dari dalam. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang faktual yang akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsk sebuah karya sastra merupakan unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan unsur-unsur instrinsik inilah yang membuat sebuah karya satra terwujud. Unsur-unsur yang dimaksud adalah peristiwa, cerita, plot, penokohan,tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.

Lain halnya dengan unsur enstrinsik, unsur ini merupakan unsur-unsur yang berada diluar karya sastra. Unsur ekstrinsik termasuk unsur-unsur yang mampu mempengaruhi bangun cerita yang dihasilkan (Nurgiyantoro, 2005:23).

Unsur ekstrinsik terdiri dari beberapa unsur. Unsur ekstrinsik ini dikelompokkan ke dalam tiga sudut pandang. Ketiga sudut pandang tersebut adalah pengarang, karya dan pembaca. Adapun rincian dari ketiga sudut pandang tersebut adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, psikologi pengarang, psikologi pembaca, psikologi dalam karya sastra itu sendiri, keadaan dilingkungan pengarang, seperti: ekonomi, politik, dan sosial. Pandangan hidup suatu bangsa dan sebagainya (Wellek dan Warren, 1995: 79-135).

2.2.2  Tokoh dan penokohan dalam karya satra

  1. Tokoh dan penokohan dalam karya sastra

Tokoh dalam sebuah karya sastra biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat, dan kebiasaan, termasuk bagaimana hubungan antar tokoh (Nurgiantoro, 2010:13). Penokohan dalam karya sastra sangat mempengaruhi keindahan karya sastra itu sendiri karena tidak mungkin karya sastra itu indah apabila tidak menghadirkan peran dan tingkah laku dari tokoh-tokohnya. Menurut Sutardi (2011:76), mengatakan, penokohan dalam karya sastra adalah bentuk pemberian nama sebagai kata ganti nama orang. Penokohan dalam novel dapat menentukan ideologi dari suatu masyarakat untuk menginterprestasikan sosiokultural dari teks. Tokoh menggambarkan perilaku dengan dasar karakter masyarakat yang ada.

Peristiwa dalam prosa fiksi, seperti peristiwa dalam kehidupan, selalu diemban oleh tokoh-tokohnya. Tokoh mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2010:79). Sedangkan menurut bulton (dalam Aminuddin, 2010:79). Mengatakan seorang tokoh memiliki peranan sangat penting di dalam suatu cerita disebut tokoh utama, sedangkan yang tidak penting disebut tokoh pelengkap. Lanjut Aminudin menjelaskan bahwa tokoh dalam cerita menggambarkan manusia dalam sehari-hari yang menggambarkan sifat tertentu, misalnya  antagonis adalah tokoh yang memiliki karakter jahat, sedangkan protagonis adalah tokoh yang memiliki watak baik.

Dalam sebuah novel, tokoh, merupakan unsur yang tidak dapat dihilangkan. Peristiwa yang ada di dalam novel terjadi karena adanya aksi dan reaksi pada tokohnya. Keberadaan tokoh diungkapkan zaidan (2007:61), sebagai komponen yang penting. Tokoh memaparkan gambaran watak, sifat, atau kebiasaan tokoh dalam cerita. Apabila tidak ada tokoh, maka sulit mengolongkan karya tersebut ke dalam naratif, karena terjadinya alur disebabkan oleh tindakan dan akibat tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perbedaan karakter atau watak akan melahirkan cerita. Seorang pengarang dapat menggambarkan cerita secara estetis tokoh-tokoh atau pelaku-pelaku karya satranya. Segala ide pemikiran pengarang diungkapkan lewat tokoh-tokoh yang diciptakannya. Demikian halnya pembaca akan tertarik dan menikmati karya sastra itu jika pengarang mampu menggambarkan watak, sifat, dan tingkah laku tokoh-tokoh itu dengan baik.

2  Jenis-Jenis tokoh

Tokoh cerita dalam karya fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan sekaligus.

Nurgiyantoro, (2005:176) membagi tokoh cerita dalam beberapa jenis penamaan, yaitu:

  1. Dilihat dari segi peranan dan tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita.

Dalam tingkat pentingnya, tokoh ini dibagi menjadi dua yaitu tokoh utama dan tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan secara terus menerus, sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dan itu pun mungkin posisi penceritaan yang relatif pendek.

  1. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh

Tokoh dalam hal ini dibagi menjadi dua, yaitu tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, salah satu jenisnya secara popular disebut hero (pahlawan). Tokoh ini merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Sedangkan tokoh antagonis adalah penyebab timbulnya konflik.

  1. Dilihat dari berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh cerita.

Jenis tokoh apabila dilihat dari berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh cerita dibagi menjadi dua: (a) Tokoh statis yaitu tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi; (b) tokoh berkembang yaitu tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa atau plot yang dikisahkan.

  1. Dilihat dari kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dari kehidupan nyata.

Jenis tokoh ini dapat dibedakan menjadi dua baian. Adapun pembagianya adalah sebagai berikut: (a) tokoh tipikal yaitu tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaanya; (b) tokoh netral yaitu tokoh yang bereksistensi demi cerita itu sendiri.

Tidak berbeda jauh dengan pernyataan Nurgiyantoro, Aminuddin (2004:82-83) menjelaskan bahwa tokoh dalam sebuah karya fiksi itu juga memiliki beberapa ragam. Ragam-ragam tersebut meliputi: (1) simple character adalah pelaku yang tidak banyak menunjukkan adanya kompleksitas masalah, (2) complec character adalah pelaku yang pemunculanya banyak dibebani permasalahan, (3) pelaku dinamis adalah pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilanya, (4) pelaku statis adalah pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita itu berakhir.

2.2.3  Klasifikasi tokoh

Tokoh dalam cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis pemahaman. Hal itu dilakukan berdasarkan dari sudut mana penamaan dilakukan. Nurgiantoro (2010:175), memaparkan bahwa perbedaan sudut pandang tokoh dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan. Misalnya sebagai tokoh utama, tokoh pendamping, tokoh protagonis maupun antagonis.

Pada saat mengapresiasi karya sastra kita akan dihadapkan pada pemahaman karakter tokoh. Tokoh yang menduduki peranan penting disebut tokoh utama, sedangkan tokoh yang tidak terlalu penting disebut tokoh pendamping. Nurgiantoro menjelaskan, tokoh utama ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi alur cerita. Sebaliknya tokoh pendamping hanya berperan sebagai selingan belaka dan berporsi dimunculkan dengan durasi waktu yang pendek. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam novel yang bersangkutan. Tokoh utama ini memang unsur yang paling terpenting dalam cerita keseluruhan.

Demikian juga dengan tokoh protagonis dan antagonis. Nurgiantoro (2010:178), menjelaskan tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang secara popular disebut tokoh hero. Tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita. Sebaliknya, Nurgiantoro (2010:178), menjelaskan bahwa tokoh antagonis adalah tokoh jahat, tokoh berwatak buruk, dan tokoh yang menyebabkan konflik dalam sebuah cerita.

Leave a Reply