BAB 4 Pembahasan Skripsi “Nilai-Nilai Budaya Dalam Novel Empat Sekawan Dan Cinta Karya Antonius Tanan Dan Fanny J. Poyk”

pembahasan

 BAB IV

PEMBAHASAN

 

  • Nilai Kesopanan Dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta Karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk

Nilai-nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tadi. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan yang berhubungan dengan nilai kesopanan, penulis melihat bahwa dalam novel Empat Sekawan dan Cinta (ESdC) karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk banyak menggambarkan nilai-nilai budaya yang berhubungan dengan kesopanan berupa sikap ramah, menghormati, patuh dan ajaran baik buruk suatu perbuatan.

Melalui novel ini sesungguhnya pengarang ingin memberikan pesan kepada pembaca tentang nilai-nilai yang dapat diambil sebagai bahan pelajaran. Adapun pesan moral yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk adalah sebagai berikut:

  • Sikap Ramah

Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk ini, sang pengarang menggambarkan bahwa sikap ramah ditunjukkan kepada sesama masyarakat, kepada orang yang lebih tua, kepada sesama saudara, kepada orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Suseno (1984:38) menyatakan agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Dalam kehidupan nyata, sikap ramah ini sangat dijunjung tinggi, terlebih bagi masyarakat yang hidup dilingkungan desa atau perkampungan. Kesopanan atau sopan santun merupakan salah satu tingkatan adat, aturan adat ini merupakan aturan-aturan khusus yang mengatur aktivitas-aktivitas yang amat jelas dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, 2000:12).

Gambaran tersebut ditunjukkan oleh masyarakat kepada orang sesama anggota keluarga. Seperti pada kutipan berikut:

…“Kita harus melakukan sesuatu, Nak.” Ujar Nyonya Joana pada Alex suatu malam tatkala mereka tengah menghitung pemasukan hari itu.

“Maksud mama?”

“Kalau hasilnya begini terus, lama-lama usaha toko bangunan kita akan bangkrut.”

“Maksudnya pembelinya tambah sedikit?”

“Iya. Kamu punya ide?”

“Kurasa, kita harus jemput bola. Begini, Ma, mulai besok aku akan membuat selebaran untuk disebarkan ke rumah-rumah di sekitar tempat tinggal kita. Aku juga akan bilang barang yang dipesan bisa diantar, meski dalam jumlah sedikit. Kalau perlu, aku dan teman-teman akan membantu mengangkat sendiri barang belanjaan mereka. Lagian, sepertinya kita harus buka toko lebih pagi dan tutup lebih malam dari pada para pesaing kita, soalnya kan banyak orang kantoran yang hanya bisa belanja sebelum berangkat atau setelah pulang kerja,” usul Alex… (ESdC, 2010:31)

 

Kutipan di atas menggambarkan kesopanan yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk. Dari kutipan tersebut menunjukkan bahwa sikap ramah masih melekat dalam diri masyarakat, seorang ibu mengajak anaknya untuk berdiskusi menyelesaikan sebuah masalah yang sedang dihadapi. Ini menunjukkan sikap ramah seorang ibu yang dianggap lebih tahu tentang segala hal kepada anaknya yang notabennya masih anak-anak. Bila dihubungkan dengan kehidupan masyarakat saat ini, sikap ramah masih sangat terjaga dalam kehidupan masyarakat. misalnya jika sesama warga saling berpapasan, maka mereka akan saling menyapa, menyunggingkan senyumnya.

Selain kutipan tersebut terdapat kutipan lain yang menunjukkan adanya sikap ramah antar sesama. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut:

… Si kacamata tersenyum sambil mengulurkan tangan. “Terima kasih, nanti kalau aku ada uang, gantian kutraktir kamu. Namaku Adhi. Mudah-mudahan kita sekelas, ya,” katanya.

“Namaku Aldo, kamu siapa? Dan kamu?” Aldo menatap Alex dan pemuda di sampingnya.

“Aku Alex!”

“Namaku Arman!”

Ketiganya saling berjabat tangan…. (ESdC, 2010:7)

 

…“Aldo ada, Aryani?”

“Oh, ada. Masuk, yuk!”

Aryani segera berlari ke dalam, dia tidak memberi tahu kakaknya kalau Alex datang. Dia segera ke dapur, membuatkan teh manis hangat seperti yang biasa dilakukan kalau Alex atau teman-teman kakaknya yang lain datang… (ESdC, 2010:78)

 

Kedua kutipan tersebut, menggambarkan sikap ramah kepada sesama, yang sama-sama menjadi anak muda. Kutipan pertama menggambarkan sikap ramah kepada sesama, sikap ramah Adhi kepada Alex, Arman, dan Aldo yang sama-sama sedang menahan lapar setelah menunggu pembagian kelas, sehingga ia menawarkan untuk mentraktir mereka. Kutipan yang kedua, menggambarkan sikap ramah yang ditunjukkan oleh Aryani kepada Alex, saat Alex bertamu ke rumah Aryani untuk menemui Aldo. Aryani bersikap ramah kepada Alex dengan membuatkan teh manis hangat, yang sesuai dengan tata cara menajamu tamu.

Gambaran-gambaran cerita tersebut di atas dimaksudkan untuk memberikan pesan kepada pembaca, bahwa sikap ramah harus tetap dijaga dan dilestarikan di manapun kita berada, baik kepada orang tua, kepada orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, dan kepada sesama. Jika dilihat dengan kehidupan masyarakat saat ini, sikap ramah ini masih terjaga dengan baik di lingkungan masyarakat kita, baik di kalangan sesama remaja, maupun orang tua kepada anaknya.

 

 

  • Menghormati Orang Tua dan Menghormati Perbedaan

Menghormati adalah salah satu wujud dari nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan nilai kesopanan. Kesopanan atau tata karma dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat dan terdiri dari aturan-aturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan (Setiadi, 2010:150).

Suseno (1984:60) menyatakan, Prinsip hormat mengatakan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat kepada orang lain, sesuai dengan drajat dan kedudukannya. Dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk banyak terdapat gambaran sikap hormat-menghormati, menghormati orang tua, menghormati perbedaan pendapat. Gambaran tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

…“Aku memilih untuk sekolah lagi di Bandung, Ayah.”

“Bandung? Bagaimana kamu bisa memastikan kalau kamu bisa membiayai hidupmu sampai lulus kuliah?”

“Ayah jangan khawatir. Aku dan teman-teman di Klub Agustus sudah banyak belajar dan telah terbiasa mencari uang sejak SMP. Pasti ada jalan, Ayah. Arman hanya meminta restu Ayah dan Ibu.”…(ESdC, 2010:89)

 

 

Kutipan tersebut, menggambarkan sikap menghormati Arman kepada ayahnya, ayahnya pesimis dalam membiayai kuliah Arman di Bandung. Saat Ayah Arman melarang Arman kuliah, tapi Arman dengan sopan meminta restu dan berusaha mandiri untuk mencari biaya sendiri untuk kuliahnya tanpa merepotkan Ayahnya. Nilai kesopanan tersebut masih tertanam dalam diri Arman, meskipun ayahnya pesimis Arman bisa kuliah dengan biaya sendiri, disertai dengan keyakinan yang teguh ia bisa sukses. Namun, bagaimanapun juga dia harus tetap meminta izin dan restu kepada ayahnya sebagai orang tua yang telah membesarkannya. Sikap hormat tersebut masih menancap erat dalam kehidupan masyarakat saat ini, terlebih hormat kepada seorang ibu. Kemudian sikap menghormati tidak hanya kepada orang tua saja, namun kepada seorang guru. Berikut kutipan dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk:

 

… “Alex, cepat kemasi perlengkapan sekolahmu, kamu harus pulang sekarang!” suara Bu Merry wali kelasnya, memecahkan kesunyian tatkala anak-anak tengah mengerjakan soal aljabar.

Alex mendongak, menatap mata Bu Merry bingung.

“Kenapa, Bu?”

“Sudahlah. Ayo, cepat kamu berkemas, lalu pulang!”

Tanpa bertanya untuk kedua kalinya, Alex segera mengemasi barang-barangnya. Dia menoleh sekilas pada tiga sahabatnya… (ESdC, 2010:23)

 

 

Kutipan tersebut di atas menggambarkan sikap menghormati kepada guru. Ibu Merry menyuruh Alex pulang tanpa memberi tahu alasannya yang membuat Alex bingung, padahal alasan Ibu Merry menyuruh Alex pulang adalah karena ayah Alex meninggal. Tanpa banyak bertanya Alex segera mengkremasi barangnya dan segera pulang walaupun dia tidak tahu apa alasannya kenapa Ibu Merry menyuruh dia pulang pada waktu pelajaran.

Novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk ini memberikan pesan kepada pembacanya untuk menghormati kepada guru, menghormati orang yang lebih tua, dan nenjaga hubungan baik antar sesama. Kita lihat kehidupan saat ini, untuk menghormati orang yang lebih tua masih banyak kita jumpai, namun untuk menghormati seorang guru, agaknya saat ini mengalami penyusutan. Banyak kita jumpai konflik-konflik yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Seorang guru ketika mengajar, murid sering kali mengangagap remeh, bahkan ada juga murid yang bercanda gurau tanpa memperhatikan penyamapian pelajaran yang dilakukan oleh guru. Hal ini sangat miris, nilai-nilai budaya harusnya tetap tertanam dalam diri siswa kita, menghormati guru, serta tekun dalam mengikuti pelajaran dengan baik.

  • Kepatuhan Kepada Atasan dan Kepada Orang Tua

Nilai kesopanan lebih berorientasi kepada orang yang lebih senior, berpangkat tinggi dan orang-orang yang dituakan (Koentjaraningrat, 2000:29-41). Hal ini menimbulkan sikap patuh, yang tertanam dalam diri individu kepada atasan. Suseno (1984:60) menyatakan bahwa mereka yang berkedudukan lebih tinggi harus diberi hormat. Hal ini mewajibkan orang yang berkedudukan lebih rendah harus menghormati dan mematuhi mereka yang berkedudukan lebih tinggi.  Patuh dalam hal ini, adalah patuh terhadap aturan, kontrak dan lain sebagainya yang bersifat mengikat. apat dilihat dari kutipan berikut:

… “Baikalah, saya akan membicarakannya dulu dengan direktur utama kami, soalnya cara kerja seperti ini memang belum pernah dilakukan di perusahaan ini. Nanti, kalau sudah ada keputusan, kami akan hubungi Adik.”

Alex mengangguk. Dia melihat peluang sudah mulai terbuka. Dia pun semakin bersemangat untuk menjelaskan…(ESdC, 2010:93)

 

Kutipan di atas menceritakan tentang pemuda yang berusaha mencari pekerjaan, meskipun tidak ada lowongan pekerjaan yang tersedia, namun dia tetap berusaha menunggu keputusan yang akan diberikan oleh direktur. Bukan hanya pada calon pekerja saja, seluruh lapisan masyarakat yang terikat kontrak kerja, atau yang bekerja di perkantoran maka akan patuh terhadap perintah atasan, jika tidak mematuhi perintah tersebut maka akan dikenakan sangsi. Itu sudah menjadi budaya dalam masyarakat.

Selain patuh terhadap atasan, sikap kepatuhan juga ditunjukkan kepada orang tua. Seperti pada kutipan di bawah ini:

… “Kemarin ayahku bilang, setelah SMP, aku harus melanjutkan ke SMA. Habis itu, aku disuruh megelola tanah-tanahnya di Banten. Kamu tahu kan aku ingin kuliah sampai menjadi profesor. Kalau hanya sampai SMA, mana bisa jadi profesor?”

“Hehehe …. untuk sementara, mendingan kauikuti saja kemauan ayahmu. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, jalan pikirannya pasti akan berubah. Dan dia akan melihat perkembangan teknologi yang terjadi di dunia ini. Selain itu kamu juga bisa jadi profesor petani? Siapa tahu melalui ilmu yang akan kauperoleh, pertanian di Indonesia bisa semakin maju.” …(ESdC, 2010:50)

 

Adhi adalah anak seorang juragan tanah dan ia sangat patuh kepada orang tua. Sebagai anak yang  cerdas yang bercita-cita sebagai profesor, Adhi mencoba menuruti kemauan ayahnya yang yakni setelah lulus SMA Adhi harus mengelola tanah-tanah Ayahnya, dengan harapan dikemudian hari Ayah Adhi bisa merestuinya untuk kuliah hingga menjadi profesor.

Pengarang ingin menyampaikan pesan kepatuhan ini lewat karyanya, yakni dalam novel Empat Sekawan dan Cinta. Agar dapat menjadi pembelajaran bagi pembacanya, dan menjadi petunjuk kehidupan, yakni patuh terhadap orang tua adalah sebuah kewajiban, jangan pernah membantah orang tua. Serta jika kita ingin menjadi berhasil maka kita harus mematuhi segala aturan yang ada baik di masyarakat maupun lingkungan kerja.

 

  • Moral (Baik dan Buruk Suatu Perbuatan)

Dalam hubungan dengan nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan moral, penulis melihat bahwa novel  Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk mengandung banyak pesan moral tentang sesuatu yang baik dan buruk dari suatu perbuatan manusia. Suseno (1984:209) menyatakan bahwa salah satu ciri etika-etika yang mementingkan fungsi kehendak adalah bahwa dibedakan dengan tajam antara yang baik dan yang jahat. Karena paham kejahatan secara hakiki menyangkut kehendak: yang jahat ialah kehendak akan yang salah secara moral. Perbuatan baik buruk tersebut pada akhirnya akan membawa dampak tersendiri bagi pelakunya. Moral atau juga disebut dengan etika mempunyai arti tentang yang baik dan buruk (Setiadi, dkk, 2010:111). Untuk mempertimbangakan dan mengembangkan keyakinan diri dan aturan masyarakat dibutuhkan pemahaman dan perenungan yang mendalam tentang mana yang sejatinya dikatakan baik, mana yang benar-benar disebut buruk (Setiadi, dkk, 2010:111). Berikut adalah kutipan tentang moral baik:

… Aldo, Adhi, dan Arman merangkul temannya itu erat-erat, seolah berusaha memberikan kekuatan.

“Tenang Lex, kami akan selalu di sampingmu,” bisik Aldo.

“Ya, kita akan tetap bersatu, dalam hal apapun,” tambah Arman dan Adhi…(ESdC, 2010:26)

 

 

Kutipan tersebut menggambarkan moral baik Club Agustus,

Alex dalam keadaan terpuruk karena ditinggal mati ayahnya, datanglah teman-teman Alex dari Club Agustus yaitu Aldo, Arman, dan Adhi mencoba memberikan kekuatan dan semangat untuk Alex. Tak hentinya Club Agustus dalam memberikan semangat untuk Alex untuk dapat bersatu dalam keadaan apapun. Selain itu, moral baik juga dimiliki oleh seorang Alex, sang enterpreneurship sejati, kutipannya sebagai berikut:

…“Baiklah Pak Agung. Saya pasti akan membantu. Sekarang saya juga sedang membantu Pak Agus mengurus Kota Jaya.”… (ESdC, 2010:113)

 

Kutipan di atas dengan jelas menggambarkan moral baik seorang Alex, yang berusaha membantu Pak Agung untuk mengurus penjualan kantornya yang ada di Jakarta. Alex berusaha menjalankan amanat itu dengan baik dan ikhlas. Pelajaran yang dapat diambil dari kedua kutipan di atas bahwa saling membantu akan dapat meringnakan beban hidup yang kita alami.

Gambaran moral buruk ditunjukkan oleh Pranomo, Pranomo yang kini jatuh miskin karena sering berjudi dan mabuk-mabukan merasa iri hati melihat Alex musuhnya waktu SMA menjadi sukses, sehingga ia mencoba mengungkit masalah masa lalu dengan istrinya. Seperti tergambar dalam kutipan berikut:

 

…“Wah, berita sang mantan, rupanya?” tanyanya dengan suara sinis.

“Kami tidak pacaran.”

“Tapi ada yang bilang dia jatuh cinta padamu. Surat yang dikirimkannya padamu nyasar ke meja kerja ayahmu. Ayo, mengakulah. Kamu juga suka padanya, kan?” cecar Pranomo dengan nada suara nyinyir dan tekanan penghinaan.

“Hastuti naik darah. “Kamu itu, sejak dulu nggak pernah berubah. Selalu berfikir negatif pada orang lain. Aku tidak pernah pacaran dengannya. Tapi, kalau kutahu dia suka padaku, seharusnya aku menerimanya menjadi pacarku!”… (ESdC, 2010:137)

 

 

Perbuatan Pranomo ini membuat suasana rumah tangganya dengan Hastuti mencekam, hanya gara-gara berita tentang kesuksesan Alex yang tertuang dalam koran. Pelajaran yang dapat diambil dari kutipan tersebut adalah sebuah perbuatan buruk pasti akan mendapatkan akibat yang merugikan bagi pelakunya. Hukuman itu bukan berupa hukuman fisik namun mental pelakunya. Pranomo stres karena jatuh miskin akibat sering berjudi serta bermabuk-mabukan dan itu pasti berdampak pada mentalnya dan rasa malu yang akan ditanggungnya seumur hidup.

Selain Pranomo moral buruk pun juga terdapat pada diri Alex. Alex dengan teguh memegang prinsipnya, bahwa dia membenci orang yang menghina mamanya sebagai perempuan yang tidak benar. Namun agaknya prinsip ini goyah ketika Nyonya Joana memeluk bahu anak sulungnya itu. Seperti pada kutipan berikut:

…. “Tapi aku tidak terima kalau Mama dibilang perempuan nggak bener! Ini penghinaan namanya. Orang yang mengatakan begitu pastilah orang yang nggak punya perasaan, manusia barbar yang yang tak berdaya!” teriakan Alex yang lantang menggema di setiap sudut rumahnya, bagai srigala yang terluka.

“Nak, biar saja mereka berkata begitu. Nanti mereka akan tahu apa yang akan ibu lakukan. Kita harus malu kalau kita ini mencuri, korupsi, mencurangi, dan menipu orang. Selama kita hidup jujur, tak ada yang perlu kita takutkan,” Nyonya Joana sekarang malah tampak lebih bisa menguasai diri. Dia memeluk bahu anak sulunngya itu… (ESdC, 2010:33)

 

Kutipan tersebut diambil saat Alex dalam keadaan emosi karena penghinaan yang diterima mamanyaa. Ia tidak dapat menahan emosinya sehingga ia teriak-teriak bagai srigala yang terluka. Pada kutipan tersebut Alex bisa mereda emosinya setelah mendengar nasehat dari mamanya.

Akibat moral buruk dari sebuah perbuatan tersebut berakibat pada hukuman batin seseorang. Alex akhirnya menyadari kesalahannya dan atas nasehat mamanya kini ia lebih semangat untuk bangkit dari kemiskinan. Inilah pelajaran yang dapat diambil dari akibat sebuah perbuatan baik dan buruk seseorang.

 

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa nilai-nilai budaya kesopanan yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk banyak menggambarkan tentang nilai-nilai budaya kesopanan yang berhubungan dengan sikap ramah, menghormati, kepatuhan dan moral baik dan buruk. Dari sikap masing-masing tersebut mengandung pelajaran yang sangat berharga.

Sikap ramah harus tetap dijaga dan dilestarikan di manapun kita berada, meskipun kita berbeda pendapat, baik kepada orang tua, kepada orang yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi, maupun kepada sesama. Sikap menghormati, pelajaran yang dapat diambil yakni untuk tetap saling menghormati meskipun berbeda pendapat. Menghormati orang yang lebih tua, dan nenjaga hubungan baik antar sesama. Sedangkan untuk kepatuhan yakni patuh terhadap orang tua adalah sebuah kewajiban, jangan pernah membantah orang tua. Serta jika kita ingin menjadi berhasil maka kita harus mematuhi segala aturan yang ada baik di masyarakat maupun lingkungan kerja. Dan yang terakhir adalah moral baik dan buruk, bahwa setiap perbuatan baik pasti akan mendapatkan balasan yang baik pula, begitu juga dengan perbuatan buruk akan mendapatkan sesuatu yang buruk pula. Semua sifat-sifat tersebut di atas dalam tatanan kehidupan masyarakat hingga saat ini masih tertata rapi dan mendapatkan tempat tersendiri, karena suatu budaya tidak mudah untuk digantikan.

 

  • Nilai Gotong Royong Dalam Empat Sekawan dan Cinta Karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk

Pada hakekatnya manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia pasti membutuhkan orang lain untuk menjalankan hidupnya. Koenjtoroningrat (2000:11) mengatakan gotong-royong merupakan suatu nilai budaya, terutama dalam masyarakat kita, adalah konsepsi bahwa hal yang bernilai tinggi adalah apabila manusia itu suka bekerja-sama dengan sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar. Mereka mementingkan kepentingan bersama, berusaha memelihara hubungan baik dengan sesamanya dan sedapat mungkin selalu membagi tata keuntungan-keuntungan dengan sesamanya. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya yang berhubungan dengan nilai Gotong Royong, penulis melihat bahwa dalam novel Empat Sekawan dan Cinta (EsdC) karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk banyak menggambarkan nilai-nilai budaya yang berhubungan dengan gotong royong berupa tolong menolong dan bekerja-sama.

Lewat novel ini sesungguhnya pengarang ingin menyajikan pesan kepada pembaca tentang nilai-nilai yang dapat diambil sebagai bahan pelajaran. Adapun pesan nilai budaya gotong royong yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk adalah sebagai berikut:

  • Tolong Menolong

Manusia itu pada hakekatnya tidak berdiri sendiri, bahwa ia selalu bisa mendapatkan bantuan dari sesamanya, terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan (Koentjaraningrat, 2000:41). Itu menunjukkan bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain, saling tolong-menolong. Dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk mengandung pesan untuk menghadapi hidup ini dengan tabah dan saling tolong-menolong. Gambaran tersebut ditunjukkan oleh anggota Club Agustus yang dengan suka rela menolong dalam segala hal, mulai dari masalah sekolah, pekerjaan, hingga masalah asmara. Untuk lebih jelasnya gambaran tersebut dapat dilihat dari beberapa kutipan sebagai berikut:

… “Aku bawa air minum, tapi hanya satu botol. Kamu mau berbagi botol denganku?” Alex menawarkan.

“Aku juga bawa lemper, tapi cuma satu. Kamu mau, kita bagi dua?” si remaja berambut cepak itu balas menawarkan harta karunnya.

Dua remaja lain yang berdiri di dekatnya rupanya mendengar pembicaraan mereka berdua. Mereka pun ikut nimbrung, “Aku bawa permen, tapi cuma dua. Kalau mau, kita bagi empat. Mau?” kata remaja yang berbadan kekar.

Remaja yang terakhir buka suara, sekaligus memecahkan masalah, “Walah, pusing deh. Berbagi air, makanan. Aku punya uang, nih. Mendingan kita sama-sama ke warung aja, biar aku yang bayar.”… (ESdC, 2010:7)

 

…“Oke. Kalau kalian mau, kita bisa belajar sama-sama , kok,” Adhi menawarkan diri.

“Rumahku kan paling dekat dengan sekolah. Nah, kita bisa belajar bersama di rumahku. Gimana?” tawar Aldo… (ESdC, 2010:13)

 

…“Begini saja, gimana kalau kita bagi tugas untuk membantu Alex? Beban satu orang akan terasa ringan kalau dipikul berempat. Lagi pula kita kan sekalian bisa olahraga pagi …..” si kreatif Arman mengusulkan jalan keluar… (ESdC, 2010:17)

 

…“Alex, kalau kami hanya mengumpul bertiga saja, rasanya kurang lengkap. Boleh kan, kalau kita berkumpul dan belajar di toko ibumu sambil membantu …..” begitu kata mereka suatu hari.

“Aku bisa bantu mengangkat semen, lho!” kata Aldo sambil memamerkan otot bisepnya yang telah terbentuk.

“Aku bisa iku membantu menyusun batu bata, atau merapikan pasir yang baru diturunkan dari truk,” Arman tak mau kalah.

“kalau aku, sih, sudah terbiasa dengan matematika, jadi aku bisa membantu menghintung belanjaan pelanggan sekaligus menghitung berapa uang kembali dengan tepat dan cepat,” Adhi ikut-ikutan menunjukkan konstribusinya…(ESdC, 2010:35)

 

Beberapa kutipan di atas dengan jelas menggambarkan sikap tolong-menolong antar sesama. Tolong-menolong merupakan bagian dari nilai atau sikap moral yang sangat penting. Anggota Club Agustus berusaha tolong menolong saat salah satu dari mereka dalam keadaan kesusahan, mereka bergotong-royong untuk saling membantu untuk menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi.

Selain itu, Club Agustus juga membantu Alex dan keluarganya untuk mengatasi yang sedang melilit Alex. Club Agustus membantu Alex dengan turut membantu di toko material keluarga Alex. Beban satu orang akan terasa ringan jika dipikul bersama-sama.

Gambaran cerita tersebut seakan oleh pengarangnya dimaksudkan untuk memberikan pesan kepada pembaca, bahwa hendaknya dalam hidup ini selalu dikembangkan rasa saling tolong-menolong. Menolong kepada yang lemah dan yang dalam keadaan susah, menolong kepada sesama, menolong kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.

 

  • Bekerja-sama

            Selain tolong-menolong, nilai budaya yang berhubungan dengan nilai gotong-royong adalah bekerja-sama. Bekerja-sama ini melingkupi usaha manusia untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya merupakan suatu hal yang dianggap amat penting dalam hidup (Koentjaraningrat, 2000:30). Konsepsi bahwa hal yang bernilai tinggi adalah apabila manusia itu suka bekerjasama dengan sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar. Bentuk kerjasama tersebut tercermin dalam kutipan sebagai berikut:

“Mama juga akan mencoba menawarkan barang secara door to door. Nanti kamu foto, ya. Mulai besok kita harus bergerak. Dan kamu, Maya, tugasmu adalah menerima pesanan melalui telepon!”… (ESdC, 2010:31)

 

Kutipan di atas, menggambarkan kerjasama antara Nyonya Joana, Alex, dan Maya, mereka bekerja-sama untuk kebaikan bersama, untuk memajukan toko material yang dimiliki Alex dan keluarga. Kerjasama yang dilakukan seseorang itu bertujuan baik, niscaya akan berbuah baik juga.

… “Aku akan membuat karikatur perjuangan seorang orang tua tunggal dalam menghidupi kelaurganya. Nanti akan kutempel di majalah dinding,” kata Arman yang jago gambar. “Aku akan mulai dengan komunitas sekolah, menginformasikan kepada mereka bahwa kita harus menghormati perjuangan mama Alex!” lanjut Arman. “Bagus. Nanti aku juga mau nulis riwayat dalam sebuah cerita liputan, lalu kita tempel di majalah dinding. Semoga ini bisa menciptakan kesadaran baru dalam keluarga yang tinggal di sekitar sekolah,” tambah Adhi.

Aldo gak mau kalah, “Kalau aku, to the point aja, aku akan mendatangi sumber gosip itu dan menerangkan dengan sopan

apa yang sesungguhnya terjadi.”… (ESdC, 2010:35)

 

Dari kutipan di atas menggambarkan sebuah kerjasama antar anggota Club Agustus, mereka bekerja-sama untuk mengembalikan nama baik Nyonya juana yang digosipkan sebagai perempuan yang tidak benar. Meskipun hanya lewat gambar karikatur, dan cerita liputan yang ditempel di majalah dinding. Kerjasama ini berakhir dengan baik, nana baik Nyonya Joana telah kembali dan menimbulkan kebersamaan yang baik antar Club Agustus.

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa bekerja-sama adalah suatu hal yang positif, yang dapat mempererat tali kekeluargaan dan persaudaraan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai budaya gotong royong yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk dua hal yakni, tolong-menolong dan bekerja-sama. Pesan yang dapat diambil dari tolong-menolong yakni, hendaknya dalam hidup ini selalu dikembangkan rasa saling tolong-menolong. Menolong kepada yang lemah dan dalam keadaan susah, menolong kepada sesama, menolong kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita. Sedangkan bekerja-sama adalah suatu hal yang positif, yang dapat mempererat tali kekeluargaan dan persaudaraan. Manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini, sehingga mereka membutuhkan orang lain dalam melakukan sesuatu dan tetap menjaga rasa kekeluargaan.

  • Nilai Individualisme Dalam Novel Empat Sekawan dan Cinta Karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk

Manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal dan nafsu. Salah satunya adalah sifat individualisme, yang ingin berdiri sendiri. Individualisme masuk dalam tatanan nilai budaya. Nilai individualisme, menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri (Koenjtoroningrat, 2000:31). Kebudayaan yang amat mementingkan individualisme serupa itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan dari orang lain. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya yang berhubungan dengan nilai Individualisme, penulis melihat bahwa dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk terdapat nilai Individualisme, antara lain adalah mandiri, egois, dan percaya diri.

Melalui novel ini sesungguhnya pengarang ingin menyajikan pesan kepada pembaca tentang nilai-nilai yang dapat diambil sebagai bahan pelajaran. Adapun pesan nilai Individualisme yang ada dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk adalah sebagai berikut:

  • Mandiri

Kebudayaan ini menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan orang lain (Koentjaraningrat, 2000:11-42). Ini menunjukkan sifat mandiri individu, mereka tidak mau bergantung kepada siapapun kecuali pada dirinya sendiri. Seperti pada kutipan di bawah ini:

…“Kalau gitu, aku juga mau, ah, kayak kamu. Malu juga kalau setiap hari minta uang jajan sama orang tua. Boleh, kan, kalau aku ikutan jadi pegantar susu? Tetangga-tetanggaku pasti juga mau jadi pelanggan,” ujar Adhi.

“Aku juga, ah. Aku mau jadi loper koran sore sepertimu. Soal pelanggan jangan takut. Nanti aku cari sasaran yang berbeda denganmu,” kata Arman.

“Aku mending jadi pengantar susu aja, deh. Kebetulan aku juga suka minum susu. Jadi, kalau susunya gak habis terjual, kan bisa kuminum. Tambah tenaga dan tulang-tulangku makin kuat. Kelak biar aku bisa menjadi pemain sepak bola profesional,” Aldo terkekeh… (ESdC, 2010:19)

 

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Club Agustus tidak mau hanya mengadahkan tangan kepada orang tua. Club Agustus ingin bekerja dan mencari biaya untuk sekolah. Mereka ingin menjadi seperti Alex yang bekerja keras dalam merubah nasib. Selain pada kutipan di atas, sikap mandiri juga ditunjukkan oleh Alex, kutipannya sebagai berikut:

 

… ““Jangan khawatir, Ma. Aku sudah mempertimbangkannya baik-baik. Kalau aku tidak pinjam uang tahun ini, aku hanya dapat membangun 20 ruko dengan kekauatan uangku sendiri. Tapi, berhubung sekarang persaingan semakin sengit, biaya pemasaran dan biaya pra-operasi pun menjadi semakin tinggi. Jadi, aku harus bergerak cepat.”… (ESdC, 2010:104)

 

 

Kutipan tersebut menggambarkan kegetiran hidup yang dialami Alex, namun dalam keterpurukannya tersebut Alex bangkit. Alex ingin membangun 100 ruko dan menjualnya untuk menghidupi keluarganya, dan menafkahi dirinya sendiri. Karena dia tidak dapat bergantung kepada orang lain.

Penjelasan di atas mempunyai makna bahwa hidup tidak bergantung kepada siapapun dan cenderung berdiri sendiri. Situasi semacam ini dapat kita lihat dalam kehidupan masa kini, masyarakat lebih individualis. Bersaing untuk mendapatkan yang mereka inginkan, yang disebabkan oleh persaingan hidup dan tuntutan masa.

Berdasarkan dua kutipan di atas dapat dimabil pelajaran bahwa dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk ini mengandung nilai budaya individualisme yakni sifat mandiri. Sifat mandiri ini adalah sifat yang tidak menggantungkan diri kepada siapapun, menilai atas usahanya sendiri.

  • Egois

Selain sifat mandiri, dalam nilai budaya individualime terdapat sifat egois yang dimiliki individu. Tak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia pasti memiliki sifat egois dalam dirinya. Dalam novel Empat Sekawan dan Cinta karya Antonius Tanan dan Fanny J. Poyk banyak memunculkan sikap egois dalam diri masing-masing tokoh. Seperti pada kutipan di bawah ini, menunjukkan keegoisan Alex, Aldo, dan Adhi yang tidak meu membantu Arman dalam mengatasi masalah keuangan yang dihadapinya untuk membayar uang sekolah.

… “Wah, gimana ya. Tabunganku juga lagi kosong. Kemarin dipinjam mamaku untuk modal toko,” keluh Alex.

“Iya, nih, aku juga sama,” tambah Adhi dan Aldo bebarengan… (ESdC, 2010:57)

 

 

Alex, Aldo, dan Adhi sengaja ngerjain dan memberikan surprais pada Arman yang sedang sedih karena kesusahan membayar uang sekolah agar dia sedih, tapi atas ulah mereka bertiga Arman menjadi bertambah pusing. Keegoisan juga terdapat dalam Alex, seperti pada kutipan berikut:

… “Oh, jadi bidadarinya sedang menyamar jadi manusia yang ingin makan es puter rupanya….. sayang di sekolah kita nggak ada yang jualan es puter. Kalau ada, pasti akan kubelikan dua, deh.”

“Wah, kalau es puternya nggak ada sekarang, nanti siang kebutuhannya bukan lagi dua tapi dua puluh …”

“Waduh, ini bidadari es puter, ya, yang gak nggak bisa hidup tanpa es puter ….”

“Yei, ngeledek, nih ….”… (ESdC, 2010:65)

 

Alex mengejek Hastuti sebagai bidadari es puter yang suka sekali makan es puter. Arman mencoba berjanda gurau dengan sedikit egois dia mengejek Hastuti, Hastuti menanggapinya dengan santai. Tetapi manusia tak luput dari sifat egois, begitu pula dengan Aldo, seperti pada kutipan di bawah ini:

… “Jangan lupakan siapa?” Alex menatap Aldo tajam.

“Nggak, nggak. Lupakan saja!” kata Aldo dengan suara getir. Dalam hati, dia berharap Alex bisa menangkap sinyalnya.

“Siapa, Do?” kejar Adhi.

“Iya, jangan lupakan siapa?” Tanya Arman.

Aldo tetap bungkam. Bayangan Aryani adiknya menangis saat mengatakan dia suka pada Alex kembali terlintas… (ESdC, 2010:84)

 

Kedua kutipan di atas menggambarkan keegoisan Aldo atas perasaan yang dia rasakan, dia ingin mengatakan sesuatu kepada Alex tentang adiknya yang sebenarnya suka sama Alex. Namun Aldo tidak berani mengatakannya, dan mengalihkankannya dengan pembicaraan yang lain dan membuang pikirannya tentang perasaan adiknya terhadap Alex.

Fenomena sikap egois terkadang mendorong orang menjadi seseorang yang lebih maju dan berkembang, namun kadang kala membuat seseorang tersebut menjadi hancur karna keegoisannya tersebut.

  • Percaya Diri

Sifat yang ketiga dalam Individualisme yakni sifat percaya diri yang dimiliki individu dalam hidupnya. Mereka dapat berkembang karena tidak merasa minder pada hal-hal tertentu yang menghalangi mereka. Individu adalah manusia yang memiliki kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia “perseorangan” atau “orang seorang” yang memiliki keunikan (Setiadi, 2010:64). Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing,  tidak ada manusia yang persis sama.

…” “Bu, kurasa toko kita akan maju. Sebentar lagi di tanah ayah Adhi itu akan marak bisnis perumahan. Orang-orang pasti butuh material untuk membangun rumah.”…(ESdC, 2010:39)

 

 

Kutipan ini menggambarkan rasa percaya diri Alex yang selalu ingin sukses. Alex yang ingin maju mencoba membaca peluang dalam usahanya dalam menekuni toko matrial untuk bisnis perumahan yang ada di dekat tokonya. Dengan rasa percaya diri yang Alex miliki selama ini Alex tak pernah menyerah. Dia ingin toko materialnya maju dan sukses. Alek berusaha belajar cara berbisnis untuk bekal usahanya ke depan, seperti pada kutipan berikut ini:

… “Ma, aku yakin bisnis kita ini akan berkembang. Nah, biar lebih mantap, aku akan belajar dulu. Siapa tahu, dengan belajar aku akan lebih memahami seluk-beluknya. Kita pasti bisa, Ma, kalau kita berusaha.” Ujar Alex optimis… (ESdC, 2010:40)

 

 

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Alex optimis bisnisnya akan berkembang. Dengan percaya diri ia belajar cara berbisnis agar usahanya bisa berjalan dengan sukses. Kepercayaan Alex juga nampak di bidang persahabatannya dengan Club Agustus, seperti pada kutipan berikut ini:

…“Kita semua sama. Kemampuan kita sama. Nggak ada yang paling jago di antara kita. Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda. Tak ada manusia yang bodoh. Selama dia mau berusaha, pasti ada jalan keluar. Dari semuanya, persahabatan kitalah yang terpenting!”… (ESdC, 2010:55)

 

Alex merasa percaya diri terhadap apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Alex mencoba memerikan nasihat kepada Club Agustus untuk tetap berusaha dalam menjali hidup. Barang siapa yang mau berusaha, pasti akan ada jalan keluarnya.

Berdasarkan pada penjelasan di atas bahwa sifat percaya diri yang dimiliki seseorang tak selamanya akan membawa hasil yang baik, kadang manusia mempunyai kepercayaan diri yang berlebihan, maka seseorang tersebut akan dipandang aneh oleh masyarakat, pasti akan digunjingkan. Karena pada kahekatnya manusia itu tidak hidup sendiri.

 

Penjelasan-penjelasan tentang niali-nilai budaya individualisme menunjukkan bahwa manusia itu memiliki sifat mandiri, egois dan percaya diri. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya. Mandiri misalnya, hidup tidak bergantung kepada siapapun dan cenderung berdiri sendiri. Situasi semacam ini dapat kita lihat dalam kehidupan masa kini, masyarakat lebih individualis. Bersaing untuk mendapatkan yang mereka inginkan, yang disebabkan oleh persaingan hidup dan tuntutan masa. Kedua yakni sifat egois, setiap individu pasti memiliki sifat egois dalam dirinya, tak pandang orang itu muda ataupun tua. Sifat egois terkadang memberikan dampak yang positif, namun terkadang membawa dampak yang buruk bagi pelakunya. Fenomena sikap egois terkadang mendorong orang menjadi seseorang yang lebih maju dan berkembang, namun kadang kala membuat seseorang tersebut menjadi hancur karena keegoisannya tersebut. Dan yang terakhir yakni rasa percaya diri, sifat percaya diri yang dimiliki seseorang tak selamanya akan membawa hasil yang baik, kadang manusia mempunyai kepercayaan diri yang berlebihan, maka seseorang tersebut akan dipandang aneh oleh masyarakat, pasti akan digunjingkan. Karena pada kahekatnya manusia itu tidak hidup sendiri.

Dengan demikian sifat individualis merupakan sifat yang dapat membawa keburukan serta membawa dampak yang baik untuk perkembangan dan pembangunan jiwa individu. Fenomena menunjukkan sebagian besar dari masyarakat kota besar menunjukkan sifat individualis lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.

CITIBANK,EXPEDIA,VENMO,AOL,US-MAP,BERNIE-SANDERS,EBAY-MOTORS,KEN-BONE,LUKE-CAGE,BOB-DYLAN,ZAC-EFRON,GOOGLE-TRANSLATE,JEFFREE-STAR,YAHOO-SPORTS,TIPS-GALAU-SKRIPSI,CONTOH-SKRIPSI-GUNADARMA,CONTOH-SKRIPSI-FISIP,CONTOH-SKRIPSI-WORD,CONTOH-SKRIPSI-GIZI,TIPS-MENULIS-SKRIPSI,CONTOH-SKRIPSI-YANG-SALAH,TIPS-SKRIPSI-CEPAT-SELESAI,CONTOH-SKRIPSI-GAYA-BELAJAR,TIPS-POWER-POINT-SKRIPSI,CONTOH-SKRIPSI-FIA-UB,CONTOH-SKRIPSI-QUANTUM-TEACHING,CONTOH-SKRIPSI-NUSA-MANDIRI,TIPS-MEMBUAT-SKRIPSI-AKUNTANSI,CONTOH-SKRIPSI-TENTANG-PAJAK,CONTOH-SKRIPSI-AKUNTANSI-ZAKAT

Leave a Reply