Bab 4 Skripsi “NILAI–NILAI BUDAYA DALAM NOVEL AMIRA : CINTA DARI TANAH SURGA KARYA SULIWE “

BAB IV

ANALISIS DATA

 

  • Struktur Intrinsik dalam Novel Amira: Cinta dari Tanah Surga Karya Suliwe

Sebuah  karya sastra, fiksi, menurut kaum strukturalisme dalam Nurgiyantoro (2010:36)  adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur intrinsik yang bersifat timbal-balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.

Selanjutnya, Nurgiyantoro (2010:37) menjelaskan bahwa analisis struktural karya sastra, dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, dan lain-lain. Kemudian dijelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu.

Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini akan dideskripsikan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe. Unsur-unsur tersebut meliputi tema, penokohan, alur atau plot, dan latar. Unsur-unsur intrinsik tersebut akan dipaparkan di bawah ini.

  • Tema

Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Nurgiyantoro (2009:77) mengatakan bahwa tema dalam sebuah karya sastra, fiksi, hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangun cerita yang lain. Hal itu disebabkan tema, hanya berupa makna atau gagasan dasar umum cerita, tak mungkin hadir tanpa unsur bentuk yang menampungnya. Dengan demikian, sebuah tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam keterkaitannya dengan unsur-unsur cerita lainnya. Tema sebuah cerita tidak mungkin disampaikan secara langsung, melainkan hanya secara implisit melalui cerita.

Tema dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe ini adalah berkenaan dengan cinta dan pengorbanan. Cinta dan pengorbanan seorang puteri kepada kedua orang tuanya sehingga rela bekerja mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar sepulang kuliah demi tuntutan ekonomi. Cinta dan pengorbanan seorang ibu sekaligus isteri kepada suaminya sehingga rela menerima dan merawat seorang bayi hasil selingkuhan suaminya. Cinta dan pengorbanan seorang lelaki kepada gadis yang dicintainya sehingga rela mempersatukan gadis itu dengan sahabatnya. Cinta seorang sahabat kepada sahabatnya sehingga rela dihukum oleh penjaga panti saat ketahuan memberikan makanan dan selimut kepada temannya yang sedang dihukum tidur di luar.

Gambaran-gambaran tersebut ditunjukkan seperti pada kutipan berikut ini.

Amira az-Zahra. Ya, gadis itu adalah Amira. Gadis kulit kuning langsat. Tidak berjilbab, belum. Rambutnya hitam panjang dibiarkan terurai ke belakang. Lesung pipit manis. Kacamata kotak tipis. Mata sebelah kiri minus setengah, sebelah kanan minus tiga per empat. Sepulang kuliah biasa mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar di kota karesidenan sebagai mentor freelance, tidak tetap. Tuntutan ekonomi. Boleh dibilang, ekonomi keluarganya tepat di garis kemiskinan. Untuk biaya kuliah, sejak semester dua dapat bantuan beasiswa, TPSDP namanya (NA/Tm/37-38).

Amira yang baru saja pulang dari walimahan Asri seketika ikut emosi melihat pertengkaran di rumahnya. Hampir setiap hari pertengkaran semacam itu terjadi. Ia sudah bosan melihatnya. Kata-kata yang diucapkannya pada Nuri di tempat walimahan tadi, mengaung.

Memangnya kalau sudah nikah, hidup kita bakal senang? Apa selalu penuh dengan cinta dan kata-kata manis? Kita ndak bakal pernah sedih? Tidak akan pernah ada perceraian?

Ia megeluarkan beberapa lembar uang dari tas dan menyerahkannya pada laki-laki di depannya, ayahnya (NA/Tm/42-43).

Kutipan di atas menggambarkan pengorbanan tokoh Amira kepada orang tuanya. Ia rela bekerja mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar sepulang kuliah demi tuntutan ekonomi keluarganya. Ia harus memberikan uang kepada ayahnya, itu pun digunakan untuk mabuk dan berjudi olehnya. Ia berusaha tegar melihat pertengkaran terjadi di rumahnya, bahkan seetiap hari. Semua dilakukannya karena cintanya pada keluarga. Akan tetapi, seringkali ia merasa kesal hingga ia serasa membenci sebuah pernikahan.

Selanjutnya, gambaran pengorbanan seorang ibu sekaligus isteri tampak pada kutipan berikut ini.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop.

Tubuh perempuan itu melindungi seorang gadis kecil di belakangnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kruk gadis kecil terlempar jauh dari genggamannya. Gadis kecil itu hanya mempunyai satu kaki. Mungkin karena itulah, laki-laki yang sudah dikuasai setan itu membencinya.

Gadis kecil itulah Sarah. Gadis kecil malang yang harus menerima kehidupan yang tak dimintanya. Ibu kandungnya bahkan tidak mau mengurusnya. Entah ke mana perginya, tidak ada yang tahu. Begitu lahir ia diserahkan pada perempuan yang kini melindunginya dara amarah seorang laki-laki, ayahnya sendiri (NA/Tm/41-42).

Kutipan di atas menggambarkan pengorbanan seorang ibu sekaligus isteri kepada anak dan suaminya. Ia rela menerima dan merawat seorang anak hasil selingkuh suaminya. Bahkan, walau ayah dan ibu kandung anak itu sendiri tidak mau mengurusnya. Ia melindungi anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Betapa besar pengorbanan ibu itu. Semua dilakukannya dengan penuh cinta.

Selain kutipan tersebut, ada kutipan lain yang mencerminkan cinta dan pengorbanan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut ini.

Mata Fatih berkaca-kaca. Menggigit bibirnya. Melawan isak yang terus meronta. Tetapi tak bisa. Lelehan air mata berdesakan ingin jatuh membasahi pipinya.

“Kenapa tidak bilang sebenarnya , Nak? Kenapa tidak bilang bahwa kau mencintainya? Kenapa tidak bilang bahwa Nisa dan Nadia sudah meninggal?”

“Bilang juga bahwa aku akan MATI sebentar lagi, Mi?”

Fatih memukul-mukul dadanya, tepat di jantung. Seolah ia bisa memastikan sendiri kapan ia akan mati (NA/Tm/187-188).

“Memangnya tahu apa kau soal Amira? Aku lebih lama mengenalnya daripada kau. Aku bisa melihat dari setiap kata-katanya, dari gerak tubuhnya, dari tatapan matanya. Kau tahu, setelah ia bertemu denganmu saat kau membantu merenovasi warung itu? Aku bisa menyimpulkan bahwa Amira sejak saat itu merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan saat ini. Kau jelas-jelas mencintainya, bukan? Sekarang tinggal menyadarkannya bahwa sebenarnya ia juga mencintaimu. Hanya masalah waktu.”

Fatih berulang-ulang bicara masalah waktu. Memang waktu saat ini benar-benar berharga untuknya (NA/Tm/192).

Mengapa harus Fatih yang jadi saksi. Jabatan pemberi restu pernikahan perempuan yang dicintainya dalam diam. Andaikan mau sedikit ekstrim, ingin rasanya ia menjawab TIDAK saat Pak Naib bertanya, Bagaimana Saksi? Sah? Ah, tak mungkin tindakan tolol itu dilakukannya (NA/Tm/213).

Kutipan di atas menggambarkan betapa cinta dan pengorbanan Fatih sangat besar terhadap sahabatnya dan perempuan yang dicintainya. Karena penyakit akutnya ia menyimpan sendiri perasaannya, berpura-pura tak memilki cinta itu. Bahkan ia rela menjodohkan pujaan hatinya dengan sahabatnya sendiri sebelum ia pergi untuk selamanya.

Gambaran cinta dan pengorbanan juga nampak pada kutipan berikut ini:

“Fatih ingat betul waktu itu. Usia mereka belum genap enam. Hujan deras. Fatih dihukum penjaga panti, tak boleh masuk rumah. Tidur di luar. Ia dibiarkan membeku oleh dinginnya udara di teras panti. Itu semua karena kesalahan kecil yang dilakukan Fatih: ia memecahkan jendela kaca panti, walaupun tak sengaja. Petir menggelegar. Penjaga panti tak mau tahu. Yang bersalah harus dihukum. Maka, dalam keadaan seperti itu, semalam penuh ia dibiarkan berdiri di luar panti. Menggigil sendirian. Siapa pun tak boleh memberinya apa pun, baik itu selimut, apalagi makanan. Siapa pun yang ketahuan, ia akan dihukum lebih berat lagi.

Saat itulah, Fahmi mengendap-endap malam hari. Di tangannya tergenggam sebungkus sarung, roti, dan air minum botol. Pelan-pelan ia membuka pintu panti. Kilatan cahaya petir menyilaukan mata. Ia berhasil membuka pintu. Ia berikan makanan itu untuk Fatih. Fatih melahapnya seperti orang yang sudah tidak makan satu bulan. Saat itu pula, ketika hendak kembali masuk ke rumah, tepat di depan pintu, penjaga panti sudah berdiri dengan wajah garang. Tak butuh waktu lama untuk menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Malam itu, bercampur gelegar halilintar, tangis Fahmi memecah malam di pantai. Punggung dan pantatnya dipukul berkali-kali dengan bilah rotan. Siapa yang melanggar peraturan, ia pantas dihukum! Itulah peraturan yang dibuat oleh penjaga panti. Setelah cukup dihukum, Fahmi dibawa keluar. Kali ini lebih berat, ia diikat di sebuah tiang di tengah halaman. Terguyur hujan. Tertusuk dingin. Tenggelam dalam tangis. Meraung kesakitan.

Fatih tak tega melihatnya. Ia mendekat ke tiang. Mengikatkan dirinya sendiri pada tiang. Mereka berdua terikat dalam sebuah ikatan yang kuat. Untuk selamanya (NA/Tm/173-174).”

Kutipan di atas nampak pengorbanan Fahmi kecil yang rela dihukum oleh penjaga panti daripada melihat sahabat kecilnya, Fatih, kedinginan dan kelaparan di luar. Ia tak menghiraukan larangan membantu Fatih meski hubungan yang akan diterimanya jauh lebih menyakitkan. Begitu pula dengan Fatih, ia menemani Fahmi menjalani hukumannya dengan mengikatkan sendiri dirinya di tiang. Betapa cermin dua anak manusia yang rela berkorban satu sama lain. Semuanya dilakukan karena rasa cinta dan persaudaraan yang kuat.

Berdasarkan kutipan-kutipan data di atas, sangat nampak bahwa dalam novel ini sarat akan cinta dan pengorbanan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa cinta dan pengorbanan dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe ini adalah sebagai berikut, pertama, cinta dan pengorbanan seorang puteri kepada kedua orang tuanya sehingga rela bekerja mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar sepulang kuliah demi tuntutan ekonomi. Kedua, cinta dan pengorbanan seorang ibu sekaligus isteri kepada suaminya sehingga rela menerima dan merawat seorang bayi hasil selingkuhan suaminya. Ketiga, cinta dan pengorbanan seorang lelaki kepada gadis yang dicintainya sehingga rela mempersatukan gadis itu dengan sahabatnya. Keempat, cinta seorang sahabat kepada sahabatnya sehingga rela dihukum oleh penjaga panti saat ketahuan memberikan makanan dan selimut kepada temannya yang sedang dihukum tidur di luar.

  • Penokohan

Nurgiyantoro (2009:164) mengatakan bahwa dalam pembicaraan sebuah fiksi, sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Istilah-istilah tersebut, sebenarnya tak menyaran pada pengertian yang persis sama, walau memang ada di antaranya yang sinonim. Ada istilah yang pengertiannya menyaran pada tokoh cerita, dan pada teknik pengembangannya dalam sebuah cerita.

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Atau seperti dikatakan Jones (dalam Nurgiyantoro, 2009:165), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan atau apa yang dilakukan dalam tindakan.

Penokohan yang tergambar dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe adalah sebagai berikut.

Tokoh pertama adalah Amira. Ia memiliki sifat yang baik, lugu, taat beribadah, bekerja keras dan bertanggung jawab, sensitif, pesimis, suka mengeluh, dan pintar. Sifat-sifat tersebut tergambar pada kutipan di bawah ini.

Dentang jarum jam berbunyi tiga kali. Sudah menunjukkan jam tiga pagi. Jangan salah, jam segitu aktivitas di rumah Eyang Amira suda dimulai (NA/Pnk/20).

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/Pnk/22).

Amira az-Zahra. Ya, gadis itu adalah Amira. Gadis kulit kuning langsat. Tidak berjilbab, belum. Rambutnya hitam panjang dibiarkan terurai ke belakang. Lesung pipit manis. Kacamata kotak tipis. Mata sebelah kiri minus setengah, sebelah kanan minus tiga per empat. Sepulang kuliah biasa mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar di kota karesidenan sebagai mentor freelance, tidak tetap. Tuntutan ekonomi. Boleh dibilang, ekonomi keluarganya tepat di garis kemiskinan. Untuk biaya kuliah, sejak semester dua dapat bantuan beasiswa, TPSDP namanya (NA/Pnk/37-38).

“Memangnya kalau sudah nikah, hidup kita bakal senang? Apa selalu penuh dengan cinta dan kata-kata manis? Kita ndak bakal pernah sedih? Tidak akan pernah ada perceraian? (NA/Pnk/38).”

“Ibu, kenapa kita selalu sedih?” bisik Amira pelan pada Bu Fatimah (NA/Pnk/47).

“Kapan keluarga kita akan merasakan kebahagiaan, Bu? Apakah kita akan selalu sedih? Akan dirundung banyak masalah? Entah mengapa aku merasa Tuhan tidak menyayangi kita Bu…rasanya Tuhan tidak adil…(NA/Pnk/66).”

Dalam hati sebenarnya Ardian berbunga-bunga bisa satu topik dengan Amira. Ardian yang agak pemalas kalau bicara soal kuliah (tetapi sangat semangat kalau bicara bisnis) dapat partner Amira, teman sejak SMPnya, teman sepuluh tahunnya, yang terkenal rajin dan pintar (menduduki peringkat ketiga soal IPK di kelasnya. Peringkat satu soal rajinnya. Dan juga referensi nomor satu untuk teman sekelas yang mau mengopi tugas-tigas dan catatan kuliah) (NA/Pnk/104).

Berdasarkan kutipan-kutipan data di atas tokoh Amira memiliki sifat yang baik, lugu, taat beribadah, bekerja keras dan bertanggung jawab, sensitif, pesimis, suka mengeluh, dan pintar. Amira selalu bangu pagi dan melaksakan solat tahajud sebelum subuh tiba. Amira bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya. Amira sangat sensitif bila diajak bicara mengenai pernikahan. Hal ini disebabkan oleh penderitaan ibunya akibat kelakuan ayahnya. Amira suka mengeluh dengan segala cobaan yang menimpa keluarganya hingga ia pesimis dengan mukjizat Tuhan. Amira juga seorang yang pintar. Ia menjadi referensi bagi teman-temannya di kelas.

Tokoh yang kedua adalah Bu Fatimah, ibu Amira. Ia seorang ibu yang berhati mulia, optimis, ikhlas, penyabar dan penyayang. Hal tersebut tergambar dalam kutipan berikut.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop.

Tubuh perempuan itu melindungi seorang gadis kecil di belakangnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kruk gadis kecil terlempar jauh dari genggamannya. Gadis kecil itu hanya mempunyai satu kaki. Mungkin karena itulah, laki-laki yang sudah dikuasai setan itu membencinya.

Gadis kecil itulah Sarah. Gadis kecil malang yang harus menerima kehidupan yang tak dimintanya. Ibu kandungnya bahkan tidak mau mengurusnya. Entah ke mana perginya, tidak ada yang tahu. Begitu lahir ia diserahkan pada perempuan yang kini melindunginya dara amarah seorang laki-laki, ayahnya sendiri (NA/Pnk/41-42).

“Jangan bicara begitu, Amira! Allah itu Maha Penyayang. Pertolongan-Nya pasti akan datang. Cepat atau lambat. Saat itu kita akan bahagia. Allah akan menghilangkan segala kesedihan kita. allah sangat menyayangi kita, Nak. Dia sangat menyayangi keluarga kita. SANGAT…(NA/Pnk/66-67).”

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa Bu Fatimah sangat menyayangi anaknya meski bukan anak kandungnya. Ia sabar dan ikhlas menerima perlakuan buruk suaminya. Ia yakin suatu hari pertolongan Allah pasti akan datang.

Tokoh ketiga adalah Pak Alif, ayah Amira. Ia seorang yang pemabuk, penjudi, dan kasar. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut ini.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop.

“Dasar perempuan enggak thu diri! Minggir kamu! Biar kubunuh anak ini…(NA/Pnk/41).”

Seorang laki-laki gondrong bertato membentak ayah Amira, Pak Alif, begitu ia sering disapa. Sebuah meja berbentuk persegi penuh dengan tumpukan kartu. Di sampingnya berserakan puluhan botol minuman. Bukan jus ataupun sirop. Minuman keras. Minuman memabukkan. Minuman jahannam. Perut ayah Amira sudah penuh dengan minuman itu. Ia sepersejuta sadar dalam komando alkohol (NA/Pnk/54).

Kutipan-kutipan data di atas menunjukkan bahwa Pak Alif seorang yang sangat kasar hingga rela memukul isterinya. Ia gemar mabuk dan berjudi. Hal itu bahkan dilakukannya setiap hari.

Tokoh keempat adalah Fatih. Ia seorang yang periang dan suka menolong. Hal tersebut tergambar dalam kutipan berikut ini.

“Ummi, uang ini akan lebih bermanfaat untuk keluarga Bu Fatimah. Mungkin tidak akan ada lagi bulan depan untukku. Mohon pengertiannya, Mi. Ummi juga sudah dengar kata dokter dua minggu lalu.’’ Fatih menatap lekat-lekat Umminya. Mencoba memastikan. Memberikan pengertian sekaligus agar diberi izin memberikan uang yang sudah dipegangnya (NA/Pnk/112).”

Data di atas menunjukkan kebaikan hati Fatih. Ia ikhlas memberikan uang yang seharusnya untuk berobat kepada keluarga Bu Fatimah untuk membayar hutang walau ibunya melarang. Hal itu dilakukannya karena ia merasa uang itu akan lebih bermanfaat untuk keluarga Bu Fatimah daripada untuk berobat penyakit yang tak mungkin sembuh.

Berdasarkan kutipan-kutipan data mengenai beberapa penokohan di atas, tokoh dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe lebih banyak menyajikan hal-hal yang baik daripada hal-hal yang buruk.

  • Alur

Pengertian alur dalam karya fiksi menurut Aminuddin (2009:83) adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Tahapan peristiwa yang menjalin suatu cerita bisa terbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam.

Tasrif (dalam Nurgiyantoro, 2010:149) membagi tahapan alur menjadi lima bagian. Pertama, tahap situation (penyituasian), yaitu tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Kedua, tahap generating circumstances (pemunculan konflik), yaitu mulai munculnya masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik. Ketiga, tahap ricing action, yaitu tahap di mana konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang. Keempat, tahap klimaks, yaitu tahap di mana konflik yang terjadi pada para tokoh mencapai intensitas puncak. Kelima, tahap denoement (penyelesaian), yaitu tahap di mana konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian.

Adapun alur yang terdapat dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe adalah menggunakan alur campuran. Tahapan-tahapan alur tersebut akan dipaparkan di bawah ini.

  • Tahap situation (penyituasian)

Tahap situation adalah tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini adalah tahap pembukaan cerita dan pemberian informasi awal dan lain-lain terutama berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya. Dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tahap situation adalah sebagai berikut.

Amira az-Zahra. Ya, gadis itu adalah Amira. Gadis kulit kuning langsat. Tidak berjilbab, belum. Rambutnya hitam panjang dibiarkan terurai ke belakang. Lesung pipit manis. Kacamata kotak tipis. Mata sebelah kiri minus setengah, sebelah kanan minus tiga per empat. Sepulang kuliah biasa mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar di kota karesidenan sebagai mentor freelance, tidak tetap. Tuntutan ekonomi. Boleh dibilang, ekonomi keluarganya tepat di garis kemiskinan. Untuk biaya kuliah, sejak semester dua dapat bantuan beasiswa, TPSDP namanya (NA/Alr/37-38).

Amira yang baru saja pulang dari walimahan Asri seketika ikut emosi melihat pertengkaran di rumahnya. Hampir setiap hari pertengkaran semacam itu terjadi. Ia sudah bosan melihatnya. Kata-kata yang diucapkannya pada Nuri di tempat walimahan tadi, mengaung.

Memangnya kalau sudah nikah, hidup kita bakal senang? Apa selalu penuh dengan cinta dan kata-kata manis? Kita ndak bakal pernah sedih? Tidak akan pernah ada perceraian?

Ia megeluarkan beberapa lembar uang dari tas dan menyerahkannya pada laki-laki di depannya, ayahnya (NA/Alr/42-43).”

Kutipan di atas menggambarkan sosok Amira sekaligus permasalahan awal yang terjadi dalam kehidupan keluarganya. Amira yang lugu dan sensitif menanggapi masalah pernikahan. Amira yang bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya. Dan dari sanalah cerita sebenarnya dimulai.

  • Tahap generating circumstances (pemunculan konflik)

Tahap pemunculan konflik adalah masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik. Dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tahap pemunculan konflik adalah sebagai berikut.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop.

Tubuh perempuan itu melindungi seorang gadis kecil di belakangnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kruk gadis kecil terlempar jauh dari genggamannya. Gadis kecil itu hanya mempunyai satu kaki. Mungkin karena itulah, laki-laki yang sudah dikuasai setan itu membencinya.

Gadis kecil itulah Sarah. Gadis kecil malang yang harus menerima kehidupan yang tak dimintanya. Ibu kandungnya bahkan tidak mau mengurusnya. Entah ke mana perginya, tidak ada yang tahu. Begitu lahir ia diserahkan pada perempuan yang kini melindunginya dari amarah seorang laki-laki, ayahnya sendiri.

Perempuan itu ikut tersulut emosi. Ia menangis. Perempuan itu adalah isteri si bapak. Seakan si bapak tak menggubris kata-kata isterinya, ia terus saja mengumpat dengan kata-kata kotor. Bau minuman keras kembali menyeruak tajam. Sarah masih terus menangis dan semakin ketakutan dalam dekapan perempuan di depannya.

Plakk!

Sekali lagi sebuah tamparan dilayangkan si bapak pada perempuan tegar itu. Perempuam itu seperti tak merasakan sakit yang dialaminya (NA/Alr/41-42).

Pintu rumah terbuka. Bu Rumi dengan muka marah langsung menyelonong masuk ke dalam rumah. Amira masih berdiri di depan pintu. Bu Rumi sudah berdiri di depan Bu Fatimah. Ia melemparkan sebuah kertas ke muka Bu Fatimah.

‘Kapan kamu mau melunasi utangmu? Sudah lebih dari enam bulan kontrakan rumah belum dibayar. Utangmu di warungku juga sudah numpuk! Janjinya bulan depan…bulan depan…bulan depannya lagi! Aku sudah muak dengan janji-janjimu! (NA/Alr/45)’.”

Kutipan di atas menggambarkan bahwa awal mula permasalahan terjadi dalam keluarga Amira adalah hadirnya Sarah, anak hasil selingkuh ayahnya. Akan tetapi ibunya mau menerima dengan lapang dada. Hal itu berbeda dengan ayahnya yang menganggap Sarah sebagai anak pembawa sial. Akhirnya judi dan minuman keras menjadi kebiasaan barunya. Jika sedang kesal pada Sarah atau kalah dalam judi isterinya menjadi sasaran kemarahannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran pun selalu terjadi. Penderitaan pun semakin bersahabat, karena hutang semakin menumpuk.

Selain konflik di atas terjadi konflik batin dalam hati Amira. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba bersemayam dalam dirinya. Perasaan yang begitu sulit ia tafsirkan dengan kata. Perasaan itu adalah cinta. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut.

Hari itu, hari pertama Amira benar-benar deg-degan kalau melintas depan rumah Bu Hasanah. Padahal tidak bisa tidak. Hanya itulah jalan satu-satunya pulang-pergi keluar kompleks. Seperti biasa, setiap pagi, Bu Hasanah dan Fatih bersantai pagi sambil minum teh hangat sambil baca koran di teras. Saat itulah, Tuan Putri kecil bertahta kereta kencana lewat.

Jantung Amira makin berdebar. Kencang. Semakin cepat… (NA/Alr/168).

Kutipan data di atas menunjukkan perasaan awal bagaimana cinta dalam hati Amira muncul. Perasaan yang benar-benar deg-degan. Perasaan tak karuan saat melintas di depan rumah Bu Hasanah. Dari sanalah konflik dalam hati Amira mulai terjadi.

  • Tahap ricing action (peningkatan konflik)

Tahap peningkatan konflik adalah tahap di mana konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencekam dan menegangkan. Dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tahap peningkatan konflik   adalah sebagai berikut.

Dilihatnya sesosok tubuh kaku membujur dibalut kain putih, ayahnya. Bu fatimah menahan isak tangis. Ia menahan sedih yang mendalam.

“Bapaaakkk!” Teriak Amira, ia berlari mendekat ke arah jenazah ayahnya. Mendekapnya erat. Menggoyang-goyang tubuh tak bernyawa itu. Seketika menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semuanya (NA/Alr/62)”.

“Kapan keluarga kita akan merasakan kebahagiaan, Bu? Apakah kita akan selalu sedih? Akan dirundung banyak masalah? Entah mengapa aku merasa Tuhan tidak menyayangi kita Bu…rasanya Tuhan tidak adil…(NA/Alr/66).”

Kutipan di atas menggambarkan penderitaan keluarga Amira semakin lengkap setelah kematian ayahnya. Betapa Amira sangat kehilangan meski ayahnya sering berbuat kasar. Amira sangat sedih dengan kepergian ayahnya yang sangat mendadak. Apalagi ia pergi dengan meninggalkan banyak hutang dan penderitaan.

Selain itu, konflik batin Amira pun semakin menjadi setelah tahu cintanya tak mungkin bersambut karena Fatih telah memilki istri dan seorang putri. Amira merasakan patah hati yang sangat. Bahkan sebelum sempat mengungkapkan perasannya. Hal tersebut tergambar dalam kutipan di bawah ini.

“Namanya Nisa,” Fatih berkata setengah berbisik sambil tersenyum kecil, “dia istriku…,” seakan ingin memamerkan perampuan berkerudung cokelat keemasan itu pada Amira.

Bisik kata itu bagai kilat menyambar-nyambar dan petir menggelegar di telinga Amira. Hatinya terkoyak. Napasnya hampir terhenti. Nadinya seakan kehilangan detaknya. Jantungnya tak kuat lagi memompa aliran darah. Wajahnya pucat pasi. Langit seakan runtuh menimpanya. Mulutnya tercekat rapat. Dingin di tubuhnya seketika memanas.

“Aku sangat mencintainya…”

Kata-kata Fatih semakin merobek-robek setiap inci hati Amira…

“Yang kecil ini namanya Nadia. Dia putriku. Umurnya delapan tahun… (NA/Alr/185)”.

Kutipan di atas menggambarkan kekecewaan dalam hati Amira. Hatinya terasa sakit yang luar biasa saat tahu bahwa ternyata cinta pertamanya sudah memiliki seorang istri dan anak. Sakit itu ia rasakan sampai ke ulu hati, meski kata cinta belum sempat terucap dari bibirnya.

  • Tahap klimaks

Tahap klimaks, yaitu tahap di mana konflik yang terjadi pada para tokoh mencapai intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita. Dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tahap klimaks adalah sebagai berikut.

Kedatangan Nuraini pun lebih dari sekadar menyinggung perasaan. Kedatangannya bagai merobek kembali luka yang hampir sembuh. Bahkan kini luka itu makin dalam. Hari ini, ia bertemu dengan perempuan yang tega meninggalkan putrinya sendiri yang baru lahir. Seorang perempuan yang tega menghancurkan keluarga orang lain dan pergi tanpa jejak…

“Sungguh Bu, saya mohon maaf. Saya sungguh ingin bertemu Sarah. Saya ingin berpamitan. Besok saya akan berangkat ke Malaysia. Saya akan bekerja di sana. Mungkin selamanya. Saya tidak akan pernak kembali lagi. Saya tidak akan pernah menampakkan diri saya di hadapan ibu lagi. Izinkan saya membawa Sarah…” (NA/Alr/135-136).

Kutipan di atas menggambarkan bahwa penderitaan keluarga Amira semakin lengkap dengan kedatangan Nuraini yang ingin membawa Sarah pergi, terutama ibunya. Haruskah ia kehilangan Sarah yang sudah dianggapnya sebagai putri kandung, juga setelah kehilangan suaminya? Permintaan Nuraini tersebut sangat menyakitkan hati Bu Fatimah.

Klimaks konflik batin Amira mencapai puncak saat ia tahu bahwa selama ini Fahmi mendekatinya atas saran dari Fatih. Fatih yang telah merancang semuanya. Amira sangat kecewa dan marah dengan semua itu. Kemarahan Amira terganbar dalam kutipan berikut.

“Jadi kau hanya DISURUH?” Amira berapi-api seperti naga yang anaknya diculik gerombolan bajak laut. Merah padam. “…PENGECUT…”  menatap penuh amarah meledak-ledak.

“DIAM KAU! Memangnya siapa kau? Hah! Tahu apa kau soal perasaan! Kau tak tahu perasaanku yang sebenarnya! Kau anggap apa perasaanku? BOLA?yang bisa kau gelindingkan ke mana pun kau suka?(NA/Alr/135-136).”

Kutipan di atas menggambarkan perasaan kecewa dan sakit hati Amira yang kedua kalinya. Ia marah saat tahu bahwa ternyata kebaikan dan cinta Fahmi hanya sebuah rekayasa dari Fatih. Bahkan ia tetap marah dan kecewa setelah tahu bahwa semua yang ia sangka tak semuanya benar, karena Fahmi memang sungguh-sungguh mencintainya.

  • Tahap denoement (penyelesaian)

Tahap denoement (penyelesaian), yaitu tahap di mana konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Konflik-konflik diberi jalan keluar, dan diakhiri. Dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tahap penyelesaian adalah sebagai berikut.

…kini, ia mengurungkan niatnya untuk membawa Sarah bersamanya. Ia tak mau lagi menambah penderitaan. Penderitaan buat Sarah dan juga buat keluarga Bu Fatimah (NA/Alr/143).

Kutipan di atas menggambarkan konflik dalam keluarga Amira akhirnya selesai dengan bahagia. Nuraini tidak jadi membawa Sarah bersamanya. Ia tahu bahwa Sarah lebih bahagia hidup bersama keluarga Bu Fatimah.

Konflik batin Amira pun berakhir. Ia akhirnya menikah dengan Fahmi Hidayatullah atas restu Muhammad al-Fatih sebagai saksi. Pernikahan itu dengan mahar surah ar-Rahman. Hal tersebut tergambar dalam kutipan di bawah ini.

…tepat setelah Fahmi mengikrarkan kalimat keramat itu, yang diawali dengan kata, “Saya terima nikahnya…,” dan diakhiri dengan kalimat “…dengan mahar surah ar-Rahman,…” (NA/Alr/213).

Kutipan di atas menggambarkan pernikahan Fahmi dan Amira. Fahmi menikahi Amira dengan mahar surah ar-Rahman. Salah satu surat dalam al-Quran yang sangat disukai oleh Fatih.

  • Latar

Latar adalah suatu tempat atau kejadian mengenai suatu peristiwa (Sutardi, 2011:76). Latar ada tiga macam, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya salang berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 2010:227).

  • Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. Latar tempat dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe meliputi rumah, kampus, warung, lapangan, kuburan, dan rumah sakit.

Dentang jarum jam berbunyi tiga kali. Sudah menunjukkan jam tiga pagi. Jangan salah, jam segitu aktivitas di rumah Eyang Amira suda dimulai (NA/Ltr/20).

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/Ltr/22).

Kutipan di atas menggambarkan salah satu latar tempat, yakni rumah. Di dalam rumah itu keluarga Amira beraktivitas. Mereka menjalankan ibadah kepada Allah, yakni solat tahajud sebelum datangnya subuh.

  • Latar Waktu

Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam novel. Masalah ‘kapan’ tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah. Latar waktu dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe meliputi subuh, ashar, maghrib.

Dentang jarum jam berbunyi tiga kali. Sudah menunjukkan jam tiga pagi. Jangan salah, jam segitu aktivitas di rumah Eyang Amira suda dimulai (NA/Ltr/20).

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/Ltr/22).

Kutipan di atas menggambarkan salah satu latar waktu, yakni waktu menjelang subuh. Sebelum subuh tiba keluarga Amira sudah bangun dan beraktivitas. Mereka menjalankan ibadah kepada Allah, yakni solat tahajud.

  • Latar Sosial

Latar sosial adalah latar yang mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam novel. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia bisa berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong dalam latar spiritual. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan. Latar sosial dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tergambar dalam kutipan di bawah ini.

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/Ltr/22).

“Ummi, uang ini akan lebih bermanfaat untuk keluarga Bu Fatimah. Mungkin tidak akan ada lagi bulan depan untukku. Mohon pengertiannya, Mi. Ummi juga sudah dengar kata dokter dua minggu lalu.’’ Fatih menatap lekat-lekat Umminya. Mencoba memastikan. Memberikan pengertian sekaligus agar diberi izin memberikan uang yang sudah dipegangnya (NA/Ltr/112).

Kutipan-kutipan di atas mewakili latar sosial dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe. Kehidupan yang religius dan saling membantu. Hal-hal itulah yang menjadikan novel ini sarat dengan nilai-nilai budaya yang patut untuk diteladani.

  • Nilai-nilai Budaya yang Tergambar dalam Novel Amira: Cinta dari Tanah Surga Karya Suliwe

Kebudayaan dipandang sebagai tata nilai. Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat itu sendiri memperbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai atau berguna bagi kehidupannya. Barang sebagai hasil perbuatan itu dihasrati karena ia diperlukan. Dengan demikian barang itu mengandung nilai. Jadi, tingkah laku dan hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realisasi nilai. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah tingkah laku dan hasil perbuatan manusia yang memiliki nilai kebenaran.

Karya sastra adalah cermin jati diri (identitas) bangsa. Salah satu unsur paling penting dari jati diri bangsa itu ialah nilai-nilai suatu budaya bangsa yang biasanya terkandung dalam karya sastra. Nilai adalah hal-hal penting atau berguna bagi kemanusiaan, sedangkan nilai budaya ialah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai di kehidupan manusia.

Selanjutnya, Koentjaraningrat (2002:190) menyatakan bahwa nilai-nilai budaya adalah konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga itu tadi. Jadi, nilai budaya adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia yang dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah bagi kehidupan selanjutnya.

  • Nilai Moral

Nurgiyantoro (2009:320) memasukkan moral ke dalam struktur karya sastra, yakni diidentikkan dengan tema yang merupakan suatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita. Peranan moral sangat penting di masyarakat sehingga muncul di dalam karya sastra dapat sebagai hal yang penting juga. Eksistensi sastrawan di tengah realitas akan menampilkan moralitas masyarakat yang mengelilinginya.

Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai nilai sastra, pesan. Bahkan unsur nilai sastra itu, merupakan gagasan yang mendasari penulisan atau diciptakannya karya sastra sebagi pendukung pesan (Nurgiyantoro, 2009:321).

Nilai moral dalam karya sastra merupakan ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari karya sastra yang bertujuan untuk mengajarkan sesuatu secara langsung ataupun tidak langsung. Karena itu, dalam teks sastra nilai moral mengarah pada pengertian ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, akhlak, etika, budi pekerti, dan sebagainya. Sikap dalam hal ini diartikan sebagai perbuatan yang tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Akhlak adalah tabiat atau perilaku yang dilakukan. Adapun etika adalah kebiasaan dan perilaku manusia yang tercermin dalam perbuatan sehari-hari dan sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Sedangkan budi pekerti merupakan tingkah laku yang ditampakkan dalam setiap perbuatan.

  • Sikap Tokoh

Penokohan dalam sebuah novel senantiasa tercermin dari sikap yang dilakukan tokoh-tokohnya. Sikap terhadap tingkah laku tokoh dalam hal ini diartikan sebagai perbuatan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Jenis ajaran moral dari aspek sikap ini dapat mencakup berbagai masalah yang berorientasi pada hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial. Elmubarok (2009:47) menyatakan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi perasaan dan kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara komponen kognitif, afektif, dan psikomotorik yang saling bereaksi di dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap adalah penjelmaan dari paradigma yang pada gilirannya akan melahirkan nilai-nilai yang dianut seseorang.

Sikap terhadap tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan tokoh dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe terpaparkan pada episode kelima yang berjudul Insyirah dan episode kedua belas yang berjudul Kan, Sudah Ada Ummi. Sikap tersebut tampak pada sosok Bu Rumi yang kejam dan kasar. Bu Rumi dengan kasar menagih hutang pada keluarga Bu Fatimah tanpa melihat situasi dan kondisi. Ia sampai membawa anak buah yang kejam untuk mengusir keluarga itu jika tak sanggup membayar. Sikap dan tingkah laku buruk tersebut tampak dalam kutipan berikut.

Tok…tok…tok…!

Pintu rumah diketuk agak keras.

“Fatimah! Fatimah!”

Suara seorang perempuan terdengar dari arah luar rumah. Dari caranya memanggil, bisa terlihat jelas sifat dan wataknya.

“Kapan kamu mau melunasi utangmu? Sudak lebih dari enam bulan kontrakan rumah belum dibayar! Utangmu di warungku juga sudah numpuk! Janjinya bulan depan… bulan depan… bulan depannya lagi! Aku sudah muak dengan janji-janjimu!” (NA/NB/45).

Dor… dor…  dor…!

Pintu kayu itu diketuk agak keras. Lebih tepatnya digedor-gedor. Ber kali-kali. Sesekali si penggedor berteriak-teriak memanggil. Sesekali juga mengumpat. Marah.

“Enggak pakai lama! Awas ya kalau enggak melunasi utangmu, siap-siap jadi gelandangan kau!”

Ketika gagang pintu ditarik dan pintunya bergeser membuka dan membentuk sudut enam puluh derajat, Bu Rumi sudah berdiri tepat di tengah pintu. Seperti ratu kuntilanak menyeramkan. Mirip setan keorangan_bukan orang kesetanan_. Mukanya merah marah. Dua orang berkaos hitam ketat di samping kirinya. Badan kekar. Lengan penuh tato. Yang satu plontos, yang satunya rambut cepak mirip AKABRI masuk desa (NA/NB/106).

Kutipan-kutipan di atas dengan jelas menggambarkan sikap dan tingkah laku yang buruk. Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan-kutipan di atas adalah bahwa kita sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat seharusnya dapat memahami penderitaan orang lain, tidak semena-mena kepada orang lain, meski orang tersebut berbuat salah pada kita dengan tidak menepati janji. Karena hal itu terjadi pasti ada suatu alasan yang harus bisa kita pahami bahwa sesungguhnya orang itu tidak mungkin berbuat demikian jika tidak ada sesuatu hal yang mendesak dan memaksa orang tersebut melakukan hal itu.

Selain sikap buruk tersebut, ada pula sikap-sikap yang baik. Sikap baik adalah sikap yang dilakukan seseorang dengan cara tidak melanggar norma, baik norma masyarakat maupun norma agama. Sikap baik tersebut tampak pada tokoh Fatih yang gemar menolong orang lain,   yakni membantu kesulitan orang lain dan membantu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi orang lain. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut.

“Ummi, uang ini akan lebih bermanfaat untuk keluarga Bu Fatimah. Mungkin tidak akan ada lagi bulan depan untukku. Mohon pengertiannya, Mi. Ummi juga sudah dengar kata dokter dua minggu lalu.’’ Fatih menatap lekat-lekat Umminya. Mencoba memastikan. Memberikan pengertian sekaligus agar diberi izin memberikan uang yang sudah dipegangnya (NA/NB/112).

“Ah, aku punya ide!” lanjut Fatih.

“Apa?” Ardian ikut berseru. Sebuah harapan muncul dari wajah bingung Ardian,

“Mmm…begini. Saat ini semua orang ingin semua keinginannya berjalan mudah, cepat, dan , tidak mau repot. Termasuk dalam hal fotokopi. Betul tidak?”

“Terus?”

“Nah, itu berarti harus ada sebuah layanan dari usahamu yang bisa membuat konsumen lebih nyaman dan tidak mau direpotkan. Caranya, sediakan layanan yang super nyaman buat mereka. Bagaimana kalau usaha fotokopianmu menyediakan layanan fotokopi panggilan?” Ardian tampak bingung. Sedikit aneh saja telinganya mendengar usulan Fatih.

“Iya, caranya gini, kita buat pamflet atau brosur atau spanduk dan semacamnya lah apa pun bentuknya.yang isinya memberitahukan bahwa kantormu menyediakan fasilitas fotokopi panggilan. Konsumen tinggal sms di mana dia berada, maka tim dari kantormu akan menjemputnya sekaligus menyediakan layanan antar jemput buku yang akan difotokopi…”

“Wah, ide hebat! Boleh dicoba itu.” Tersenyum lebar. Masalah yang ia pikirkan sejak tadi pagi sebelum berangkat kuliah kini terselesaikan…(NA/NB/119).

Kutipan-kutipan di atas dengan jelas menggambarkan sikap dan tingkah laku yang baik. Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan-kutipan di atas adalah bahwa sebagai manusia yang hidup bermasyarakat kita harus saling membantu kesulitan orang lain. Membantu apa yang dibutuhkan orang lain, baik berupa materi ataupun hanya sekedar ide dan pemikiran. Meski sedikit, orang lain akan merasa bahagia. Dengan demikian akan tercipta hidup yang rukun.

  • Akhlak Tokoh

Akhlak menurut bahasa berarti tingkah laku, perangai atau tabiat. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik buruk, mengatur pergaulan manusia, dan menentukan tujuan akhir dari usaha dan pekerjaannya (Suryana, 1997:188). Akhlak, karenanya kebiasaan bisa baik atau buruk, tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi yang baik, jadi “Orang berakhlak, berarti orang yang berakhlak baik”.

Akhlak tokoh dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe ini meliputi dua aspek, yaitu akhlak baik dan akhlak buruk. Akhlak buruk tampak dalam perilaku Pak Alif, ayah Amira yang gemar mabuk dan berjudi. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop (NA/NB/41).

Seorang laki-laki gondrong bertato membentak ayah Amira, Pak Alif, begitu ia sering disapa. Sebuah meja berbentuk persegi penuh dengan tumpukan kartu. Di sampingnya berserakan puluhan botol minuman. Bukan jus ataupun sirop. Minuman keras. Minuman memabukkan. Minuman jahannam. Perut ayah Amira sudah penuh dengan minuman itu. Ia sepersejuta sadar dalam komando alkohol (NA/NB/54).

Kutipan-kutipan di atas dengan jelas menggambarkan perangai dan tingkah laku yang buruk. Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan-kutipan di atas adalah bahwa judi dan minuman keras adalah perbuatan buruk yang tidak ada manfaatnya, bahkan sangat merugikan dan dilalarang agama. Judi dapat membuat orang lupa diri, dan minuman keras dapat membuat orang lupa daratan. Sehingga seseorang tidak dapat berpikir jernih dan rasional. Karena itu, seseorang yang gemar berjudi dan minum minuman keras cenderung memiliki tabiat yang buruk, seperti marah dan tidak dapat mengendalikan diri.

Akhlak buruk yang lain adalah sifat pesimis Amira dalam menghadapi cobaan hidup keluarganya. Ia selalu mengeluh, bahkan menyalahkan Tuhan akan nasib yang menimpa keluarganya. Gambaran sifat tersebut tampak pada kutipan di bawah ini.

“Ibu, kenapa kita selalu sedih?” bisik Amira pelan pada Bu Fatimah (NA/NB/47).

“Kapan keluarga kita akan merasakan kebahagiaan, Bu? Apakah kita akan selalu sedih? Akan dirundung banyak masalah? Entah mengapa aku merasa Tuhan tidak menyayangi kita Bu…rasanya Tuhan tidak adil…(NA/NB/66).”

Kutipan data di atas menggambarkan akhlak yang buruk, yakni pesimis. Pesimis adalah bersikap atau berpandangan tidak memiliki harapan baik (Taufik, 2009:46). Orang yang memiliki sifat pesimis selalu dalam keragu-raguan dan merasa tidak yakin akan kemampuan diri sendiri. Jadi, orang yang memiliki sifat pesimis akan sulit untuk maju dan berkembang karena tidak berani menanggung risiko. Orang yang bersikap pesimis akan berfikir tentang kegagalan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Ia merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan hal tersebut sehingga pekerjaan yang dilakukannya kurang maksimal.

Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan tersebut adalah bahwa terkadang hidup ini tidak selalu sempurna seperti yang kita harapkan.  Terkadang hidup kita selalu dalam kesulitan dan penderitaan. Namun, kita tidak boleh mengeluh dan putus asa, apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Karena sesungguhnya semua penderitaan yang kita alami merupakan sebuah ujian kehidupan dari Tuhan. Tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan kita. Hanya saja, seberapa kuat kita bersabar dan mendekatkan diri padaNya.

Selain akhlak buruk di atas, ada juga akhlak yang baik. Akhlak baik tersebut dimiliki oleh Bu Fatimah yang selalu sabar dan tawakal kepada Allah. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.

“Tidak, Sayang. Kita tidak akan sedih lagi. Suatu saat nanti kita akan merasakan kebahagiaan. Kita akan selalu tersenyum. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya menderita. Allah itu maha penyayang. Allah juga berjanji dalam kitab-Nya bahwa sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. Suatu saat nanti, pertolongan Allah pasti datang. Yakinlah Sayang, pertolongan itu pasti datang! (NA/NB/47).”

“Jangan bicara begitu, Amira! Allah itu Maha Penyayang. Pertolongan-Nya pasti akan datang. Cepat atau lambat. Saat itu kita akan bahagia. Allah akan menghilangkan segala kesedihan kita. Allah sangat menyayangi kita, Nak. Dia sangat menyayangi keluarga kita. SANGAT…(NA/NB/66-67).”

Kutipan di atas dengan jelas menggambarkan akhlak yang baik, yakni sifat optimis. Optimis adalah sikap yang selalu berpengharapan baik dalam menghadapi segala hal (Taufik, 2009:33). Dengan adanya sifat optimis dalam diri kita, maka akan timbul semangat. Dengan adanya semangat Insya Allah akan menjadi orang yang berhasil.

Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan-kutipan di atas adalah bahwa kita harus selalu sabar dan tawakal terhadap cobaan dan ujian yang menimpa kita. Jangan sampai kita berputus asa dan menjauh dari Allah. Karena Allah membenci orang-orang yang putus asa, dan akan menolong hambaNya yang mau bersabar dan tawakal kepadaNya. Tawakal artinya menyerahkan segala sesuatu kapada Allah setelah berusaha dengan sungguh-sungguh (Taufik, 2009:36). Apabiloa sudah berusah dengan sekuat tenaga, tetapi masih juga gagal kita harus bersabar. Bersabar tidak berarti pasrah atau berdiam diri, melainkan terus berusaha lebih giat dan berdoa.

  • Etika Tokoh

Suseno (1991:6) mengemukakan bahwa etika merupakan ilmu atau refleksi sistematik mengenai pendapat-pendapat, norma-norma, dan istilah-istilah moral. Lebih luas etika memilki arti yaitu sebagai keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya. Etika dalam hal ini mengarah pada adat kebiasaan dan perilaku manusia yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan sesuai dengan nilai atau norma yang ada dalam masyarakat tersebut. Jenis ajaran moral dari aspek etika ini dapat mencakup berbagai masalah yang berorientasi pada hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkungan sosial dan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan TuhanNya.

Etika tokoh dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe mencakup perbuatan baik dan buruk. Etika baik tergambar pada kebiasaan keluarga Amira yang selalu melaksanakan salat tahajud. Aspek etika ini berorientasi pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Gambaran etika tersebut tampak dalam kutipan di bawah ini.

“Dentang jarum jam berbunyi tiga kali. Sudah menunjukkan jam tiga pagi. Jangan salah, jam segitu aktivitas di rumah Eyang Amira suda dimulai (NA/NB/20).

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/NB/22).”

Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan tersebut adalah bahwa kita sebagai umat muslim harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri tidak hanya melaksanakan ibadah wajib yang diperintahkan, tetapi juga ibadah sunnah yang dianjurkan. Dengan demikian, hidup kita akan senantiasa dalam ketentraman.

Etika yang baik tergambar pula dalam kebiasaan baru Amira yang mulai memakai jilbab. Etika tersebut berorientasi pada hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Etika tersebut tampak dalam kutipan di bawah ini.

Kini, masih ada kebimbangan dalam dirinya. Ia memang sejak beberapa bulan ingin mengenakan kerudung. Keinginan itu semakin menjadi-jadi setelah mendapatkan hadiah buku dari Fatih. Hanya saja, ia tak mau kalau memutuskan memakai kerudung gara-gara Fatih. Gara-gara buku itu. Walaupun memang kalau dipresentase, 45% keinginannya memakai kerudung memang faktor buku itu. Faktor Fatih. Rasa aneh itu muncul lagi. Timbul tenggelam.

Tidak!

Buru-buru ia menepisnya. Buru-buru ia menurunkan presentase itu. Ia ingin melakukannya karena Allah. Ia ingin belajar ilmu ikhlas. Semua karena Allah. Hanya Allah. Tak ada yang lain. Maka, sejak malam itu, hatinya bulat. Lusa harus pakai kerudung! Ini perintah Allah. Hanya karena Allah (NA/NB/155).

Nilai moral yang dapat diambil dari kutipan di atas adalah bahwa kita harus berbusana yang sopan. Sebagai umat muslim kita harus senantiasa menutup aurat. Selain itu, ketika kita melakukan suatu perbuatan yang baik hendaknya hanya karena Allah. Karena ingin mendapat ridla Allah. Bukan karena yang lain.

Selain itu, terdapat pula etika yang mengarah pada perbuatan buruk. Aspek etika ini berorientasi pada hubungan manusia dengan sesama manusia. Etika buruk tersebut tergambar pada sikap buruk Bu Rumi saat bertamu ke rumah Bu Fatimah. Hal tersebut tergambar dalam kutipan berikut ini.

Tok…tok…tok…!

Pintu rumah diketuk agak keras.

“Fatimah! Fatimah!”

Suara seorang perempuan terdengar dari arah luar rumah. Dari caranya memanggil, bisa terlihat jelas sifat dan wataknya.

“Kapan kamu mau melunasi utangmu? Sudak lebih dari enam bulan kontrakan rumah belum dibayar! Utangmu di warungku juga sudah numpuk! Janjinya bulan depan… bulan depan… bulan depannya lagi! Aku sudah muak dengan janji-janjimu!” (NA/NB/45).

Dor… dor…  dor…!

Pintu kayu itu diketuk agak keras. Lebih tepatnya digedor-gedor. Ber kali-kali. Sesekali si penggedor berteriak-teriak memanggil. Sesekali juga mengumpat. Marah.

“Enggak pakai lama! Awas ya kalau enggak melunasi utangmu, siap-siap jadi gelandangan kau!”

Ketika gagang pintu ditarik dan pintunya bergeser membuka dan membentuk sudut enam puluh derajat, Bu Rumi sudah berdiri tepat di tengah pintu. Seperti ratu kuntilanak menyeramkan. Mirip setan keorangan_bukan orang kesetanan_. Mukanya merah marah…(NA/NB/106).

Kutipan di atas menggambarkan perbuatan yang buruk, yakni bertamu dengan cara yang tidak sopan, berteriak-teriak dan menggedor pintu. Padahal seharusnya bertamu dianjurkan agar dilakukan dengan sopan, mengetuk pintu yang baik dan mengucapkan salam. Berbicara yang sopan dan santun, agar tercipta kerukunan.


  • Nilai Sosial

Zaidan (2007:132) menjelaskan bahwa nilai sosial merupakan ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari karya sastra yang bertujuan untuk mengajarkan sesuatu secara langsung ataupun tidak langsung. Nilai sosial identik dengan sikap sosialis. Sikap ini dimiliki oleh individu yang memiliki simpati yang tinggi terhadap masyarakat. Ini berarti individu yang memiliki sikap sosialis akan mampu mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan yang dilakukan. Selanjutnya, Rama (2007:188) mengungkapkan bahwa sikap sosialis merupakan keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus pada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku. Sosialis merupakan sikap mengenai masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, dan lain-lain.

Durkheim (dalam Faruk, 2011:29) membedakan nilai sosial menjadi tiga bagian, yaitu nilai solidaritas, nilai pengorbanan, dan nilai cinta.

  • Nilai Solidaritas

Nilai solidaritas diartikan sebagai hubungan saling ketergantungan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lain. Disebut pula hubungan individu yang satu dengan individu yang lain, atau hubungan emosional individu dengan kelompok tertentu. Solidaritas merupakan sebuah sikap peduli individu maupun masyarakat terhadap individu lain. Kepedulian ini dimaksudkan untuk saling melengkapi antara satu sama lain (Faruk, 2011:45).

Nilai solidaritas dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tampak dalam perilaku Fatih yang selalu menolong keluarga Amira. Hal tersebut tergambar dalam kutipan di bawah ini.

“Ummi, uang ini akan lebih bermanfaat untuk keluarga Bu Fatimah. Mungkin tidak akan ada lagi bulan depan untukku. Mohon pengertiannya, Mi. Ummi juga sudah dengar kata dokter dua minggu lalu.’’ Fatih menatap lekat-lekat Umminya. Mencoba memastikan. Memberikan pengertian sekaligus agar diberi izin memberikan uang yang sudah dipegangnya (NA/NB/112).”

Nilai solidaritas yang tergambar dalam kutipan di atas adalah nilai saling tolong-menolong. Sikap tolong-menolong ini tidak akan terjadi tanpa adanya rasa peduli terhadap sesama. Kepedulian terhadap sesama inilah yang dapat kita jadikan sebagai teladan dalam kehidupan kita agar menjadi manusia yang ikhlas membantu sesama.

  • Nilai Pengorbanan

Kesetiaan yang utama adalah sikap rela berkorban. Sikap berkorban ini lahir karena rasa kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga seseorang mau berkorban hanya untuk orang yang disayangi. Ini sebagai bukti bahwa nilai pengorbanan merupakan bagian dari sikap bertanggung jawab (Andalusi, 2008:149). Sikap rela berkorban selalu mementingkan orang lain, menolong yang membutuhkan, memberi yang meminta, melindungi dan memberi rasa aman bagi yang lemah, dan membebaskan pikiran dari ketakutan dan bayangan-bayangan ancaman.

Nilai pengorbanan dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tergambar dalam kutipan di bawah ini.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi seorang perempuan paruh baya. Seorang laki-laki dengan tubuh agak besar berdiri sempoyongan di depannya. Matanya merah. Mulutnya bau busuk. Bau minuman yang belum pernah diminum oleh perempuan yang baru saja ditamparnya. Bukan jus ataupun sirop.

Tubuh perempuan itu melindungi seorang gadis kecil di belakangnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kruk gadis kecil terlempar jauh dari genggamannya. Gadis kecil itu hanya mempunyai satu kaki. Mungkin karena itulah, laki-laki yang sudah dikuasai setan itu membencinya.

Gadis kecil itulah Sarah. Gadis kecil malang yang harus menerima kehidupan yang tak dimintanya. Ibu kandungnya bahkan tidak mau mengurusnya. Entah ke mana perginya, tidak ada yang tahu. Begitu lahir ia diserahkan pada perempuan yang kini melindunginya dari amarah seorang laki-laki, ayahnya sendiri (NA/NB/41-42).

Nilai pengorbanan yang tergambar dalam kutipan di atas adalah bahwa kita harus senantiasa ikhlas dan sabar menerima ujian seberat apa pun. Walau terkadang hal itu sangat menyakitkan. Kita harus rela menolong dan melindungi orang lain, meski orang tersebut mengingatkan kita terhadap hal yang paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidup kita.

Kutipan lain yang mencerminkan nilai pengorbanan, yaitu seperti di bawah ini.

Mata Fatih berkaca-kaca. Menggigit bibirnya. Melawan isak yang terus meronta. Tetapi tak bisa. Lelehan air mata berdesakan ingin jatuh membasahi pipinya.

“Kenapa tidak bilang sebenarnya , Nak? Kenapa tidak bilang bahwa kau mencintainya? Kenapa tidak bilang bahwa Nisa dan Nadia sudah meninggal?”

“Bilang juga bahwa aku akan MATI sebentar lagi, Mi?”

Fatih memukul-mukul dadanya, tepat di jantung. Seolah ia bisa memastikan sendiri kapan ia akan mati (NA/NB/187-188).

“Memangnya tahu apa kau soal Amira? Aku lebih lama mengenalnya daripada kau. Aku bisa melihat dari setiap kata-katanya, dari gerak tubuhnya, dari tatapan matanya. Kau tahu, setelah ia bertemu denganmu saat kau membantu merenovasi warung itu? Aku bisa menyimpulkan bahwa Amira sejak saat itu merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan saat ini. Kau jelas-jelas mencintainya, bukan? Sekarang tinggal menyadarkannya bahwa sebenarnya ia juga mencintaimu. Hanya masalah waktu.”

Fatih berulang-ulang bicara masalah waktu. Memang waktu saat ini benar-benar berharga untuknya (NA/NB/192).

Mengapa harus Fatih yang jadi saksi. Jabatan pemberi restu pernikahan perempuan yang dicintainya dalam diam. Andaikan mau sedikit ekstrim, ingin rasanya ia menjawab TIDAK saat Pak Naib bertanya, Bagaimana Saksi? Sah? Ah, tak mungkin tindakan tolol itu dilakukannya (NA/NB/213).

Nilai pengorbanan yang dapat kita teladani dari kutipan di atas adalah bahwa kita harus rela memberikan sesuatu yang berharga dalam kehidupan kita kepada orang lain dengan ikhlas. Karena terkadang sesuatu itu memang ada bukan untuk kita. Kita pun harus percaya bahwa Allah akan menggantinya suatu saat dengan yang sama, bahkan lebih baik.

Selain itu, nilai pengorbanan dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tergambar pada tokoh Amira. Lewat tokoh tersebut kita diajarkan untuk bertanggung jawab, baik pada diri kita sendiri ataupun pada orang lain.  Gambaran tersebut tampak pada kutipan berikut ini.

Amira az-Zahra. Ya, gadis itu adalah Amira. Gadis kulit kuning langsat. Tidak berjilbab, belum. Rambutnya hitam panjang dibiarkan terurai ke belakang. Lesung pipit manis. Kacamata kotak tipis. Mata sebelah kiri minus setengah, sebelah kanan minus tiga per empat. Sepulang kuliah biasa mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar di kota karesidenan sebagai mentor freelance, tidak tetap. Tuntutan ekonomi. Boleh dibilang, ekonomi keluarganya tepat di garis kemiskinan. Untuk biaya kuliah, sejak semester dua dapat bantuan beasiswa, TPSDP namanya (NA/Tm/37-38).

Ia megeluarkan beberapa lembar uang dari tas dan menyerahkannya pada laki-laki di depannya, ayahnya (NA/NB/42-43).

Kutipan di atas menggambarkan pengorbanan tokoh Amira kepada orang tuanya. Ia rela bekerja mengabdikan diri di sebuah lembaga bimbingan belajar sepulang kuliah demi tuntutan ekonomi keluarganya. Ia harus memberikan uang kepada ayahnya, itu pun digunakan untuk mabuk dan berjudi olehnya. Jadi, nilai yang dapat diambil adalah bahwa kita harus selalu hormat dan berbuat baik kepada orang tua, seburuk apa pun kelakuan orang tua kita.

  • Nilai Cinta

Nilai cinta yang utama adalah sikap rela berkorban. Sikap berkorban ini lahir karena rasa kesetiaan dan kasih sayang. Sehingga seseorang mau berkorban hanya untuk orang yang disayangi. Dikatakan demikian karena cinta adalah sebuah getaran jiwa yang berawal dari ilusi menjadi sesuatu yang benar-benar terjadi. Cinta bermakna agung hingga nyaris tidak ada sesuatu pun yang dapat menggambarkannya (Andalusi, 2008:2). Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada manusia untuk saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, dan saling pengertian. Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah, dan lain-lain). Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak.

Nilai cinta dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tergambar dalam kutipan di bawah ini.

Tubuh perempuan itu melindungi seorang gadis kecil di belakangnya. Gadis kecil itu menangis ketakutan. Kruk gadis kecil terlempar jauh dari genggamannya. Gadis kecil itu hanya mempunyai satu kaki. Mungkin karena itulah, laki-laki yang sudah dikuasai setan itu membencinya.

Gadis kecil itulah Sarah. Gadis kecil malang yang harus menerima kehidupan yang tak dimintanya. Ibu kandungnya bahkan tidak mau mengurusnya. Entah ke mana perginya, tidak ada yang tahu. Begitu lahir ia diserahkan pada perempuan yang kini melindunginya dara amarah seorang laki-laki, ayahnya sendiri (NA/NB/41-42).

Mengapa harus Fatih yang jadi saksi. Jabatan pemberi restu pernikahan perempuan yang dicintainya dalam diam. Andaikan mau sedikit ekstrim, ingin rasanya ia menjawab TIDAK saat Pak Naib bertanya, Bagaimana Saksi? Sah? Ah, tak mungkin tindakan tolol itu dilakukannya (NA/NB/213).

Nilai cinta yang tergambar dalam kutipan-kutipan di atas adalah cinta yang tulus ikhlas hingga rela berkorban untuk orang yang dicintainya. Pengorbanan itu dilakukan demi kebaikan dan kebahagiaan orang yang dicintainya. Meskipun hal itu sangat menyakitkan dirinya.

  • Nilai Spiritual (Religius)

Pemahaman mengenai nilai spiritualitas di dalam karya sastra banyak dipahami sebagai religiusitas. Banyak orang memandang bahwa spiritualitas lahir karena dalamnya suasana religi. Religiusitas muncul dengan adanya bentuk-bentuk religius sebagai nilai, konsep maupun suatu dimensi.

Istilah “Religius” menurut Nurgiyantoro (2009:326) membawa konotasi dalam makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyaran pada makna yang berbeda. Agama lebih menunjuk pada kelembagaan kebaktian kepada tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religiusitas, di pihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, riak getaran hati nurani, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal, dan resmi.

Nilai religiusitas dianggap dapat mentransformasikan dan memberikan efek-efek kekuatan pada karya sastra. Religiusitas muncul dengan adanya perasaan keagamaan di dalam karya sastra sebagi wujud dari pandangan pengarang di dalam menyikapi realitas. Pandangan mengenai religiusitas hadir dengan segala perasaan batin yang memiliki hubungan atau keterkaitan dengan tuhan, karena nilai-nilai religius yang ada di dalam karya sastra dapat memberikan efek kekuatan pada karya.

Nilai religius dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe tergambar dalam kutipan di bawah ini.

Dentang jarum jam berbunyi tiga kali. Sudah menunjukkan jam tiga pagi. Jangan salah, jam segitu aktivitas di rumah Eyang Amira suda dimulai (NA/NB/20).

Sepuluh menit. Mereka sudah siap shalat tahajud. Eyang Fahmi menggunakan baju koko putih, sarung kotak-kotak, dan peci hitam. Eyang Amira, Ummi Sarah, dan si kecil Husna pun sudah terbiasa menegakkan tahajud. Dua-dua-dua-dua-tiga. Seperti biasa. Total ada sebelas rakaat (NA/NB/22).

Nilai religius yang dapat diambil dari kutipan tersebut adalah bahwa kita sebagai umat muslim harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri tidak hanya melaksanakan ibadah wajib yang diperintahkan, tetapi juga ibadah sunnah yang dianjurkan. Dengan demikian, hidup kita akan senantiasa dalam ketentraman.

Nilai religius dalam novel Amira: Cinta dari Tanah Surga karya Suliwe juga tergambar dalam kutipan di bawah ini.

“Jangan bicara begitu, Amira! Allah itu Maha Penyayang. Pertolongan-Nya pasti akan datang. Cepat atau lambat. Saat itu kita akan bahagia. Allah akan menghilangkan segala kesedihan kita. allah sangat menyayangi kita, Nak. Dia sangat menyayangi keluarga kita. SANGAT….(NA/NB/66-67).”

Kutipan di atas dengan jelas menggambarkan akhlak yang baik, yakni sifat optimis. Nilai religius yang dapat diambil dari kutipan-kutipan di atas adalah bahwa kita harus selalu sabar dan tawakal terhadap cobaan dan ujian yang menimpa kita. Jangan sampai kita berputus asa dan menjauh dari Allah. Karena Allah membenci orang-orang yang putus asa, dan akan menolong hambaNya yang mau bersabar dan tawakal kepadaNya.

Leave a Reply