Bab 4 skripsi “PSIKOLOGI TOKOH DALAM NOVEL BAK RAMBUT DIBELAH TUJUH KARYA MUHAMMAD MADHLORI”

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab IV ini dibahas tiga analisis yang sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.  Analisis dimulai dengan mendeskripsikan intelegensi kejiwaan tokoh yang ada dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Selanjutnya peneliti menganalisis motifasi dan sifat emosional pada permasalahan tokoh dalam cerita. Setelah itu peneliti menyimpulkan persepsi para tokoh  yang ditimbulkan dalam cerita novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” karya Muhammad Makhdlori.

4.1 Analisis Intelegensi Kejiwaan Tokoh

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan diantaranya intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali Intelegensi kejiwaan/ pemikiran-pemikiran yang cerdas dan wawasan yang luas para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Zarimah berusaha untuk tidak larut dalam kegembiraan ini. Setelah ia sadar ada tanggung jawab lain yang lebih besar, kegirangan hatinya berangsurs-angsur lenyap berubah dengan beban hidup yang pasti akan dihadapi kemudian.”(Madhlori, 2011:10)

45

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti usaha apa yang akan dilakukanya untuk menemukan kehidupan yang layak. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

“Aku harus mewarisi kepribadian mereka. Kedua orang tuaku yang memiliki mental seperti baja. Aku tidak boleh lemah menghadapi ujian hidup. Dan, yang terpenting, penderitaan ini harus bisa membuat diri kita lebih tangguh, lebih kuat, kemudian hasil positif yang didapatkan dari pengalaman sebuah penderitaan adalah perubahan sikap menjadi lebih lunak, lebih peka, dan bisa menjadi lebih lembut,”tekat hatinya.(Madhlori, 2011:26)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan dalam menjalani ujian hidup yang begitu sulit, ia tidak mudah menyerah dalam hal apapun tetap pada pendiriannya semula. Pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti ia bertekad untuk bekerja lebih keras,sabar, ikhlas, dan berusaha untuk menemukan kehidupan yang layak. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Murka orang tua berarti murka Allah dan ridha orang tua berarti ridha Allah, maka aku harus senantiasa berbakti, pa pun rupa dan statusnya,” tekat hatinya. Menyadari akan hal itu, Zarimah berusaha untuk selalu membuat kedua orang tuanya bahagia dan selalu tersenyum.(Madhlori, 2011:28)

 Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa dalam menjalani hidup sesulit apapun itu doa orangtuanya yang selalu menjadikan ia semangat dalam menjalani kehidupan ini, Zarimah adalah anak yang cerdas dalam berfikir, ia berusaha untuk menjadi kebanggaan dan bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Terilhami karena tiap hari melihat kerja keras kedua orang tuanya yang tidak pernah memandang apakah pekerjaan itu terhormat, mulia, menghasilkan banyak uang atau tidak,Zarimah semakin dapat melihat makna di balik ketekunan seseorang yang mau bekerja keras, walau hanya menghasilkan uang pas-pasan dan habis dibelanjakan demi kebutuhan hanya dengan hitungan hari.(Madhlori, 2011:32)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah  memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir, melihat kedua orang tuanya bekerja keras dalam mencari sesuap nasi saja harus rela menerima pekerjaan yang sulit, mereka tidak pernah memandang pekerjaan itu layak atau tidak yang penting buat mereka itu halal. Zarimah menyadari bekerja keras itu kunci kesuksesan, karena seseorang yang punya niat untuk maju dalam kehidupan yang lebih layak lagi harus tetap berusaha dan bersyukur, karena dengan usaha pasti ada hasil yang baik. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Sebagai sarjana pendidikan, Zarimah merasa memiliki kepentingan dengan dedikasi dan kedisiplinan. Terkait itu pula, ia merasa perlu melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik agar membentuk pribadi yang paripurna.”(Madhlori, 2011:44)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah  memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi membuat Zarimah semakin mengerti, kedisiplinan itu sangat penting terutama kedisiplinan waktu, ia selalu menggunakan waktunya agar jangan sampai sia-sia. Zarimah ingin membiasakan diri dengan cara hidup yang sedang dijalaninya. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti ia berharap bisa menjadi guru. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam meningkatkan kedisiplinan waktu.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Satu-satunya gadis yang peduli tentang pendidikan di kampung ini, ya hanya dia. Bapak lihat, dia hendak melanjutkan perjuangan ibunda kartini dengan emansipasi wanitanya. Dia juga satu-satunya gadis yang seusianya menolak nikah dini.”(Madhlori, 2011:147)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan dalam pendidikan,dia seorang gadis yang sangat luar biasa. Ia sangat peduli dengan pendidikan yang ada dikampungnya. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “ Zarimah itu bukan anak terpandang atau kaya. Bahkan, dia anak orang kere dan bajingan. Tuh, bapaknya saja terkait dengan kasus hukum. Yang kuherankan, kenapa dia bisa memiliki pamor sehingga bisa merekrut para anak muda yang tergabung dalam kelompoknya.”(Madhlori, 2011:251)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memang bukan orang yang kaya tapi ia dikasih kelebihan dalam berfikir, kecerdasan yang ia miliki membuat para anak muda menyukai sosok Zarimah yang cerdas dan tidak sombong. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki kelebihan yang tidak dimiliki perempuan pada umumnya dikampungnya meskipun ia miskin tapi kaya ilmu.

Satu hal yang aku takutkan dari perasaan itu khawatir akan menyerang libido seksual yang bisa menutupi otak warasku.bukankah jarak antara cinta dan nafsu seperti rambut dibelah tujuh, sedemikian sangat dekatnya, sehingga cinta itu bisa diartikan sebagai perasaan nafsu terhadap lawan jenis. Bukan hanya nafsu libido atau sebagaimana yang dikatakan oleh pakar psikologi cinta sebagai cinta eros. Lebih dari itu, nafsu terhadap apa saja, termasuk nafsu ingin memilikinya selama-lamanya. Aku tidak ingin terserang dengan virus itu. Karena orang kalau sudah terserang dengan nafsu, otak pun tidak bisa mengendalikan. Ya, memang sangat jahat nafsu itu; atau tepatnya nafsu yang tidak bisa dikendalikan.”(Madhlori, 2011:254)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan kecerdasan dalam berfikir positif, Zarimah ingin menghilangkan perasaan itu dengan membatasi gejolak cinta dan rindunya agar tidak menjelma menjadi rasa cinta yang bisa menggelorakan jiwanya. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat takut akan racun perasaan cinta yang berjarak sangat dekat, bagai rambut dibelah tujuh dengan nafsu.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Mereka bertahan dengan ketenangan berpikir dan keyakinan yang kuat, maka segala penderitaan yang menimpanya dapat teratasi dengan mudah dan mampu pula menggilas rintangan yang mengaral didepannya.” ( Madhlori, 2011: 25 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit. Zarimah berfikir penderitaan sudah berubah menjadi sebuah pengalaman yang justru akan menguatkan dirinya dalam menghadapi segala rintangan. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Semua dikerjakan tanpa canggung atau gengsi, meski kini ia seorang sarjana. Bahkan, bisa dibilang semua urusan dapur, bersih – bersih, dan segala yang berkaitan dengan keperluan rumah dipegang oleh Zarimah.” ( Madhlori, 2011: 26 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa pekerjaan apapun yang dilakukannya tidak akan membuatnya malu.Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Didesanya, Zarimah termasuk fenomena langka. Kalau ibarat ikan disungai, suka melawan arus. Zarimah seorang gadis elok yang sudah cukup dewasa; anak orang miskin dan hidup kekurangan, namun teguh pendiriannya ingin memberantas kebiasaan buruk didesanya; termasuk ingin memberantas kebodohan. Prinsipnya, ia ingin menunjukkan kepada wanita kebanyakan bahwa dirinya mampu menjadi wanita karir yang berpendidikan, yang tidak suka menyerah pada nasib. (Madhlori,2011: 30 ).

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti usaha apa yang akan dilakukanya untuk menemukan kehidupan yang layak. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Banyak juga yang tidak menyadari bahwa sesuatu yang sudah didepanya adalah hal-hal yang berharga, sehingga dengan ketidaksadaranya, mereka mencari sesuatu yang justru menghilangkan kesempatan yang sudah ada didepanya. “(Madhlori, 2011: 31)

Berdasarkan kutipan di atas, peneliti dapat melihat bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa sesuatu yang dipandang berharga tidak mesti mendatangkan hasil atau untung yang diinginkan, tidak selamanya sesuatu yang terlihat tidak berarti itu merugikan. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu intelegensi kejiwaan para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali intelegensi kejiwaan para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Aku tidak boleh mewarisi kekerdilan mereka yang hanya bisa mengkhayal sembari  menghitung bintang dilangit. Demikian tekad Zarimah.”(Madhlori, 2011:32)

Berdasarkan kutipan di atas, peneliti dapat melihat bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit. Justru. Orang yang dapat melakukan sesuatu yang dipandang tidak berguna dan kemudian menjadi hal yang paling menguntungkan berarti mempunyai kecerdasan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti usaha apa yang akan dilakukanya untuk menemukan kehidupan yang layak. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

Berdasarkan kutipan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa  tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan pemikiran dan wawasan yang luas dalam memikirkan suatu jalan kehidupan yang sangat sulit, dan suatu pendidikan yang tinggi juga belum tentu menjamin untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan baik. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti usaha apa yang akan dilakukanya untuk menemukan kehidupan yang layak. Zarimah menjalani ujian hidup yang begitu sulit, ia tidak mudah menyerah tetap sabar dan ikhlas dalam hal apapun tetap pada pendiriannya semula. tokoh Zarimah berfikir bahwa dalam menjalani hidup sesulit apapun itu doa orangtuanya yang selalu menjadikan ia semangat dalam menjalani kehidupan ini, Zarimah adalah anak yang cerdas dalam berfikir, ia berusaha untuk menjadi kebanggaan dan bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Melihat kedua orang tuanya bekerja keras dalam mencari sesuap nasi saja harus rela menerima pekerjaan yang sulit, mereka tidak pernah memandang pekerjaan itu layak atau tidak yang penting buat mereka itu halal. Zarimah menyadari bekerja keras itu kunci kesuksesan, karena seseorang yang punya niat untuk maju dalam kehidupan yang lebih layak lagi harus tetap berusaha dan bersyukur. Dengan usaha pasti ada hasil yang baik. Pendidikan yang tinggi membuat Zarimah semakin mengerti, kedisiplinan itu sangat penting terutama kedisiplinan waktu, ia selalu menggunakan waktunya agar jangan sampai sia-sia. Zarimah ingin membiasakan diri dengan cara hidup yang sedang dijalaninya. Sehingga tokoh Zarimah berfikir bahwa setelah dirinya lulus nanti ia berharap bisa menjadi guru. Tokoh Zarimah memiliki intelegensi kejiwaan yang meliputi kecerdasan dalam pendidikan, dia seorang gadis yang sangat luar biasa. Ia sangat peduli dengan pendidikan yang ada dikampungnya. tokoh Zarimah memang bukan orang yang kaya tapi ia dikasih kelebihan yang tidak dimiliki perempuan pada umumnya dikampungnya meskipun ia miskin tapi kaya ilmu, kecerdasan yang ia miliki membuat para anak muda menyukai sosok Zarimah yang cerdas dan tidak sombong. Tokoh Zarimah menunjukkan kecerdasan dalam berfikir positif, Zarimah ingin menghilangkan perasaan itu dengan membatasi gejolak cinta dan rindunya agar tidak menjelma menjadi rasa cinta yang bisa menggelorakan jiwanya. Zarimah sangat takut akan racun perasaan cinta yang berjarak sangat dekat, bagai rambut dibelah tujuh dengan nafsu. Zarimah berfikir penderitaan sudah berubah menjadi sebuah pengalaman yang justru akan menguatkan dirinya dalam menghadapi segala rintangan. Zarimah berfikir bahwa sesuatu yang dipandang berharga tidak mesti mendatangkan hasil atau untung yang diinginkan, tidak selamanya sesuatu yang terlihat tidak berarti itu merugikan. Justru. Orang yang dapat melakukan sesuatu yang dipandang tidak berguna dan kemudian menjadi hal yang paling menguntungkan berarti mempunyai kecerdasan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Dari pemaparan di atas, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki cara berfikir yang luas serta dewasa dalam menempuh suatu perjalanan yang dicita-citakan.

4.2 Analisis Motifasi dan Sifat Emosional Pada Tokoh

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi dan sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi dan sifat emosional para tokoh.

Seperti yang terdapat dalam kutipan novel dibawah ini.

Zarimah berusaha sekuat mungkin menjadi tumbuhan Heliotropisme yang selalu menengadah cahaya matahari. Ia optimis bahwa dirinya mampu merombak kekeliruan pandang para orang tua dikampungnya : bahwa tempat seorang perempuan  hanya didapur, sumur, dan dikasur. Ia seorang gadis yang gigih walau saat menempuh pendidikanysa dengan kepayahan. Sekuat mungkin ia bisa bertahan hingga wisuda dengan predikat terbaik.(Madhlori, 2011:8)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan suatu semangat dan motifasi untuk merubah kehidupanya yang tidak seperti perempuan lain pada umumnya. Tokoh Zarimah ingin bahwa suatu saat nanti kehidupanya ingin lebih baik dari sebelumnya sehingga timbullah motifasi yang sangat kuat pada dirinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir dan motifasi yang kuat untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Demikian juga dengan berat ringannya masalah, disebabkan ada keinginan dan kekhawatiran dalam hatinya. Masalah tidak akan terasa berat jika seseorang mau membuang rasa kekhawatiran dan keinginan yang berlebihan. Semua harus dinetralisasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya agar di balik kesulitan terkandung kemudahan dan di balik kepedihan terkandung kebahagiaan.(Madhlori, 2011:61) 

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah menunjukkan bahwa setiap masalah kalau dihadapi dengan sabar dan terus berdoa pasti ada jalan untuk menyelesaikannya, karena di balik kesulitan terkandung kemudahan dan dibalik kepedihan terkandung kebahagiaan.Tokoh Zarimah ingin bahwa suatu saat nanti kehidupanya ingin lebih baik dari sebelumnya, Zarimah tidak mau larut dalam masalah yang sedang dihadapinya sekarang sehingga timbullah motifasi yang sangat kuat pada dirinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir dan motifasi yang kuat untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

“Hamba yang selalu siap dengan titah-Mu. Betapa pun masalah besar yang menimpaku, apa pun persoalan yang melilit hidupku, akan kujadikan sebagai fantasi dalam perjalananku. Aku harus senantiasa bergairah. Jangan menyerah dan bimbang untuk menentukan sikap. Jika tidak berkenan, kenapa aku harus ragu untuk memutuskan. Akulah yang akan memerankan dan akulah yang paling berhak mengubah nasibku sekaligus memutuskan. Apapun yang terjadi akan kuhadapi sekuat kemampuanku,” tegas  Zarimah dalam hatinya.(Madhlori, 2011:62)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan suatu semangat dan motifasi yang tinggi untuk merubah kehidupanya seperti perempuan yang kuat, tidak mudah menyerah, tetap pada pendiriannya semula. Tokoh Zarimah ingin bahwa suatu saat nanti kehidupanya ingin lebih baik dari sebelumnya sehingga timbullah motifasi yang sangat kuat pada dirinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir dan motifasi yang kuat untuk meraih kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Ia kembali tegar, setegar tiang listrik yang berjejer dipinggir jalan.”(Madhlori, 2011:62)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah mempunyai semangat dan motifasi untuk merubah kehidupanya dari kemiskinan. Zarimah bertekad akan selalu tegar tidak mudah tergoyahkan dalam menghadapi masalah yang terjadi. Motifasi yang timbul pada diri Zarimah sangat kuat sehingga keinginannya nanti harus bisa tercapai dengan usaha-usaha yang ia lakukan. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, toko Zarimah memiliki cara berfikir dan motifasi yang kuat untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan hidup dan  meraih kehidupan yang lebih baik.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Penyesalanmu belum terlambat.mudah-mudahan gadis yang dulu pernah kau zhalimi masih hidup, sehingga kau masih bisa meminta ma’af. Kau belum terlambat. Allah masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki.”(Madhlori, 2011:135)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Pak Rush sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan kepada Nirmala dulu yang pernah ia zhalimi, Pak Rush baru sadar jika dulu pernah terjatuh dalam jalan kehidupan yang menelantarkan. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Pak Rush sangat menyesal, ia berusaha mencari dan meminta maaf kepada Nirmala.

Pak Rush akan memulai dengan perilaku yang baik, niat yang baik, dan berharap agar semua berakhir dengan kebaikan. Dengan mengawali sikap-sikap seperti ini akan dapat meniscayakanketenangan batin yang sempurna. Bukankah tiap masalah jika dihadapi dengan satu ketenangan akan dengan mudah diselesaikan. Ibarat seorang yang tenggelam dalam air, terlalu banyak bergerak justru akan semakin menenggelamkan dirinya jauh lebih dalam. Lain apabila bersikap tenang, tidak banyak bergerak, sekaligus bisa mengimbanginya, maka ia akan terapung seperti sandal sepit yang terus mengapung.(Madhlori, 2011:154)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Pak Rush menunjukkan semangat untuk merubah perilakunya menjadi yang lebih baik, Sehingga  timbullah motifasi yang sangat kuat pada dirinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Pak Rush mempunyai motifasi yang kuat untuk berubah menjadi yang lebih baik.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh. Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Entah kenapa melihat paras Zarimah yang demikian sejuk, Baqry merasa ada kekuatan dalam dirinya. Apalagi kalimat “hati-hati” yang diucapkan demikian ikhlas untuk dirinya menambah hati semakin tenteram.”(Madhlori, 2011:175)

Berdasarkan  kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Baqry begitu terpesona dengan paras Zarimah, ia seakan-akan terbius dalam setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, Sehingga timbul motifasi untuk memilikinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Baqry berusaha untuk mengambil hatinya dan ingin memiliki Zarimah seutuhnya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Sungguh aku tidak akan pernah menyesal, apa yang sekarang kulakukan, walau harus membuang waktuku demi kau. Tidak ada waktu yang paling berharga dan berguna selain menunggumu, hingga kau sadar di kamar ini.” (Madhlori, 2011:210)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Pak Rush setia menunggu sosok Nirmala yang sedang berbaring sakit. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Pak Rush mempunyai motifasi untuk tetap menjaga hatinya untuk Nirmala.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Biarkan ibumu saja yang merasakan, “rintih perempuan itu sambil tangannya mengusap-usap perut yang memang sudah besar. Air matanya mulai menetes menyesali kehidupan yang dialami. Namun, ia mencoba menghadapi dengan penuh keyakinan.”(Madhlori, 2011:236)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Nirmala tidak mau kalau anaknya nanti lahir, mengalami nasib sama seperti ibunya. Tokoh Nirmala hanya  menginginkan suatu saat nanti kehidupan anaknya lebih baik dan lebih bahagia sehingga timbullah motifasi yang sangat kuat pada diri ibunya untuk selalu memberikan pedoman. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Nirmala berusaha menjaga anak yang ada dalam kandunganya agar tidak mengalami hal yang sama.

 Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “0h, malam ini terasa lama sekali. Jika ada temaliyang panjang dan kuatnya bisa menarik matahari, akan kutarik matahari, agar selang beberapa menit pagi bisa menyusul malam. Jika pagi sudah tiba, pasti aku akan hengkang menemuimu. Aku ingin segera menatap wajahmu yang sejuk.(Madhlori, 2011:246)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Baqry tidak sabar menunggu datangnya pagi karena kerinduan yang mendalam membuat ia ingin selalu bertemu dan menatap wajahnya.Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas tokoh Baqry sedang dimabuk cinta, mempunyai motifasi untuk segera bertemu.

Semangat juang demi mengentaskan kebodohan pada anak-anak sekaligus memperjuangkan hak dan martabat kaum wanita agar tidak tertindas. Dalam yayasan yang tengah diperjuangkan, misinya bukan hanya pada tujuan pendidikan, melainkan memerdekakan hak kaum perempuan yang dalam kampungnya seperti ditindas hanya sebagai perangsan berahi kaum hidung belang. (Madhlori, 2011:249)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah mempunyai motifasi yang tinggi dan pantang menyerah dalam menjalankan misi-misinya, ia demikian getol ingin memberantas kebobrokan moral yang selama ini dinilai sudah sangat keterlaluan. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah merencanakan misi dengan tujuan pendidikan dan memerdekakan hak kaum perempuan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Ia sadar akan kondisi keterpurukan ekonomi keluarganya yang sampai kini belum berubah. Ia juga sadar jasa bapaknya yang menurut anggapannya sudah membiayainya hingga wisuda, membuatnya terbebani harus membalas kebaikannya.”(Madhlori, 2011:60)

Dalam kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki motivasi dan semangat yang tinggi untuk mengubah nasibnya sebagai orang miskin menjadi kaya. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah ingin membalas budi kedua orang tuanya karna sudah merawatnya sejak lahir dengan sepenuh hati.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Meski  terbalut kesadaran moral tentang beban masa depan yang belum jelas, ia sama sekali tidak sedemikian larut, hingga menimbulkan kesedihan yang berkepanjangan.”( Madhlori, 2011:11 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki motivasi untuk selalu semangat dalam mengarungi kehidupannya dan dia tidak pernah putus asa untuk menatap masa depan. Dari pemaparan ini tokoh Zarimah tidak mudah putus asa.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “ Kemiskinan tidak boleh diturunkan, kesulitan tidak boleh ditularkan, apalagi kenestapaan. Mak berharap kau bisa menular kemiskinan dengan pendidikanmu yang kelak bisa mengantarkanmu pada nasib yang lebih baik,” ucap mak mirah dengan santun dan bijak. ( Madhlori, 2011: 24 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Mak Mirah memberikan motivisi kepada zarimah agar tetap berusaha untuk tidak menyerah dan mengeluh karena untuk menemukan makna dalam penderitaan memang sangat sulit, penderitaan biasanya akan datang disaat kita merasakan kejenuhan.

“ Tiada seorang mukmin mempunyai kedua ibu bapak lalu pagi-pagi ia taat dan baik pada keduanya melainkan Allah membukakan untuknya pintu surga, dan tidak mungkin Allah ridha kepadanya jika salah satu ibu atau bapaknya murka kepadanya sehingga mendapat ridha dari keduanya.” Ditanya,” Meskipun orang tua itu Zhalim?” Jawabnya, “Meskipun zhalim. “ Dilanjut dalam hadits marfu’, “Dan tiada pagi-pagi ia durhaka (menyakiti hati) orang tuanya melainkan Allah membukakan baginya dua pintu neraka, dan jika hanya satu maka satu.”(Madhlori, 2011:27)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki motivasi dalam melakukan ketaatan penuh keikhlasan dan tanggung jawab terhadap kedua orang tuanya yang sudah merawat dari kecil. Ia merasa apa yang sudah dilakukan belum seberapa bila dibanding dengan perjuangan orang tuanya yag bisa membiayai pendidikanya hingga selesa. Dan, yang terpenting lagi, karena mencari ridha Allah.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya motifasi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali  motifasi para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Aku tidak boleh mewarisi kekerdilan mereka yang hanya bisa mengkhayal sembari  menghitung bintang dilangit. Demikian tekad Zarimah.”(Madhlori, 2011:32)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki motivasi  untuk selalu berjuang dalam menjalani hidup yang sulit.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan  “Maafkan Imah, Pak, Mak! Imah sudah menyakiti hati Emak Bapak. Seharusnya Imah tidak malu memiliki Bapak dan Emak. Saat itu, Imah terlalu egois dan gengsi. Maafkan Imah…,” ucapnya menghiba.(Madhlori, 2011:23)

berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki sikap yang egois dan gengsi yang tinggi. Tokoh Zarimah sangat menyesal dengan sikap yang ia lakukan  karena Zarimah merasa malu dengan apa yang orang tuanya lakukan. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan kepada ibu dan bapaknya.

“Diam!” teriak Zarimah. Cukup…, cukup. Jika kalian memang menghendaki aku pergi dari desa ini, sudah tidak ush dipermasalahkan. Sudah!” Zarimah berteriak histeris.

“ sekarang mana fotonya, aku ingin melihatnya,”pinta Baqry.

“oh, kamu juga ingin menyaksikan tubuh langsing Zarimah, “ledek Opek sembari senyum.

“tutup mulutmu!” Baqry berkata tegas.    

“Ini lihat, bukankah ini Zarimah, sedangkan yang cowok tidak jelas.”

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Zarimah disebabkan tekanan-tekanan yang menyiksa batinnya. Tokoh Zarimah sangat histeris, terganggu dengan fitnah yang ditujukan kepadanya, ia sangat tertekan oleh apa yang dilakukan  mereka. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat tertekan dengan fitnah yang ditujukan pada dirinya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan “Tidak…!!! Kalian mengada-ada,” teriak Baqry marah.”kalian jangan membuat fitnah, saya orang hukum,hati-hati kalau bicara,” ancam Baqry terpancing emosi.

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Baqry menunjukkan sikap emosionalnya terhadap Opek karena fitnah yang mereka lakukan pada Zarimah. Baqry tidak menginginkan kekasihnya punya masalah yang tidak pernah Zarimah lakukan. Dari pemaparan tersebut, Peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Baqry tidak menginginkan terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan  “Kini, keduanya menemukan jiwanya yang pernah hilang. Ibarat seorang yang sudah menemukan jodoh, bahasa jawa mengatakan garwo sigarane nyowo. Ya, pertemuan kedua sejoli itu seperti belahan nyawa yang baru ditemukan.”(Madhlori, 2011:240)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Nirmala dan Pak Rush disebabkan dua jiwa yang sedang merindu, kini bertemu dengan gejolak asmara yang mendera jiwanya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas tokoh Nirmala dan Pak Rush bersatu.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan “Zarimah memang sangat perhatian terhadap pendidikan kedua adiknya. Tiap kali pulang sekolah, Zarimah pasti membuka-buka buku adiknya, meneliti barangkali ada salah satu pelajaran yang kurang bisa dipahami.”(Madhlori, 2011:266)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Zarimah disebabkan rasa kepeduliannya yang tinggi terhadap pendidikan adik-adiknya yang membuat  kedua adiknya selalu patuh terhadap Zarimah. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas tokoh  Zarimah sangat mengutamakan pendidikan kedua adiknya dan selalu mengajarkan betapa pentingnya pendidikan itu buat mereka.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Sampai di gapura masuk ke dukuh Giring, Baqry semakin bergetar. Denyut jantungnya berdetak kencang. Entah kenapa, hanya melihat gapuranya saja, sinyal elektrik yang mempengaruhi indra demikian tinggi, semakin dalam gapura itu tersimpan rona yang dipuja.”(Madhlori, 2011:271)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Baqry disebabkan perasaan cintanya yang membuat denyut jantung semakin bergetar jika ia mengingat sosok pujaan hatinya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas tokoh Baqry tidak sabar menunggu dan berfikir apakah ada ketersambungan sinyal elektrik antara dia dan dirinya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan  “Menyadari akan hal itu, Zarimah yang juga tidak jauh beda dengan Baqry berusaha sekuat mungkin untuk dapat mengendalikan diri dalam perasaan cintanya. Karena rasa cinta yang bergejolak dalam hati yang tanpa ada kendali dapat merusak makna cinta sesungguhnya.”(Madhlori, 2011:282)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Zarimah dan Baqry disebabkan emosi cinta yang tidak bisa di tahan lage karena kerinduan yang sangat mendalam keduanya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas tokoh Zarimah dan Baqry sama-sama menahan kerinduan dalam hatinya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Rasa kebencian itu menyeruak kembali, sehingga dengan spontan Zarimah mamaki dengan ucapan kasar.”lelaki tidak bertanggung jawab! Biadab! Kau…, kau menelantarkan ibuku sampai bertahun-tahun,“ makinya lantang. Zarimah memang sangat marah.” (Madhlori, 2011:303)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Zarimah disebabkan kebencian yang amat dalam pada tokoh Pak Rush yang tak lain adalah ayah kandungnya yang sudah menelantarkan ibunya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat emosional dengan kenyataan hidup yang memaksanya untuk menerima.

Puncak emosi Zarimah saat melihat ayah kandungnya memang tidak dapat dibendung. Sehingga, begitu tahu bahwa Pak Rush adalah ayahnya kandungnya,ia teringat cerita yang pernah dikisahkan oleh Mak Mirah, tentang kebiadaban Pak Rush yang sudah menelantarkan ibunya. Kebencian ini spontan,bukan reka hati yang berlebihan. Kebencian natural yang sudah lama terpendam, kini muncul bersamaan hadirnya ayah Baqry yang sebetulnya juga ayah Zarimah.(Madhlori, 2011:305)

Berdasarkan kutipan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa sikap emosional yang timbul pada tokoh Zarimah disebabkan kenyataan spontan yang di alami Zarimah sangat membuat ia tak percaya, harus kehilangan cintanya pada Baqry yang tak lain saudaranya sendiri dan melihat kenyataan bahwa ayahnya adalah Pak Rush. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat emosional dengan kenyataan hidup yang penuh dengan kejutan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan “Tidak….!!! kalian mengada-ada, teriak bahri marah. Kalian jangan membuat fitnah, saya orang hukum, hati-hati kalau bicara, ancam bahri terpancing emosi.”(Madhlori, 2011:274)

Berdasarkan  kutipan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa  tokoh Baqri menunjukkan suatu sikap yang tidak mudah terhasud dengan omongan yang belum tentu jelas kebenaranya tanpa didasari bukti-bukti yang kuat. Bahri juga menunjukkan sikap orang yang mengerti asas dasar hukum bahwa dia tidak begitu saja percaya dengan berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Baqri memiliki sifat yang arif dan mempunyai sikap yang sabar dalam menghadapi suatu permasalahan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan “Zarimah memalingkan muka sengit sembari berkata, “Imah memang miskin dan hidup kekurangan, tapi jangan harap Imah mudah diperdaya hanya karena uang ratusan ribu. Tidak!” tegasnya.”(Madhlori, 2011:34)

berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah menunjukkan suatu sikap yang sabar tidak mau tersinggung dengan ucapan jamal yang selalu menghina Imah dan keluarganya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan  “Tidak! Imah tidak mau jadi istri Juaragan Jamal.

Tidak!!!”

“Imah! Kau sudah berani menentang bapakmu! Kau sudah berani membantah, Imah!” teriak Pak Somad keras. (Madhlori, 2011:55)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah sangat emosional, ketika Pak Somad memaksa ia untuk menikah dengan Juragan beristri tiga, Imah begitu kecewa dengan sikap Bapaknya yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah menentang permintaan Pak somad untuk menikahi juragan Jamal.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “ Kalau begitu kamu tidak menghargai bapakmu. Tidak mau melihat keluarga bahagia. Kamu tahu akibatnya bapak tidak bisa menggarap sawah lagi. Itu artinya, bapak tidak bisa bekerja lagi.”(Madhlori, 2011:63)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah sangat emosional, karena bapaknya tetap memaksa untuk menerima Juragan Jamal.

“Apaaa…?Anak pelacur. Siapa yang anak pelacur, Pak? Siapa?!” Zarimah berteriak.

Mendengar teriakan Zarimah, Pak Somad hanya diam. Diam sembari menatap Zarimah lekat-lekat.

“Kamu, Imah.”                                

“Aku…??? Aku anak pelacur?!

“Paaak…Imah, bukan kau, Anakku.(Madhlori, 2011:64)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki sikap emosional, karena Pak Somad mengucapkan kata-kata yang tidak patut untuk didengar oleh zarimah, Imah kaget dengan sikap dan perkataan bapaknya. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat terkejut dengan sikap dan kata-kata Pak Somad.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Bapak ra olih ngerokok! “( Madhlori, 2011: 16 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki sifat  emosional ketika Pak Somad merokok didepan umum, Zarimah sangat malu dengan tingkah laku bapaknya yang sesuka hatinya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Berkali – kali Zarimah menegur bapaknya agar menjaga kesopanan pada saat acara wisuda dimulai, tapi dasar Pak Somad yang lugu. Pak Somad tidak bisa menyembunyikan rasa kegirangannya saat melihat Zarimah, putrinya yang cantik itu memakai toga hitam.”

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui  bahwa tokoh Zarimah memiliki sifat emosional ketika Pak Somad berteriak, bertingkah memalukan saat melihat Zarimah memakai toga hitam.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Mendengar teriakan bapaknya Zarimah semakin merunduk dengan raut memerah. Ia tampak sangat malu. Lebih maluya lagi, semua hadirin memperhatikan Pak Somad yang berdiri sembari cengar – cengir dan melihat Zarimah yang tertunduk malu bukan main.” ( Madhlori, 2011: 17 )

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki sifat emosional ketika mendengar teriakan bapaknya, Zarimah merasa malu dengan tingkah laku Pak Somad, sehingga semua mata tertuju pada mereka.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Namun, Zarimah segera menyeret ke- duanya menyelinap di antara kerumunan menghindari teman – temannya.”( Madhlori, 2011: 18 )

Berdasarkan kutipan di atas tokoh Zarimah memiliki sifat emosional saat melihat tingkah bapaknya yang semakin mengumbar perilaku memalukan. Sebenarnya Pak Somad dan Mak Mirah hanya ingin berfoto bersama Zarimah, tetapi Zarimah malu dan mengajak kedua orang tuanya pulang.

“Kenapa harus tergesa – gesa, Imah?” tanya Pak Somad.

“ Acara wisuda sudah selesai,” jawabnya dengan raut wajah masam.

“ Ehmmm, lalu ini mau ke mana.?”

“ Pulang.”

“ Biar aku antar, Zarimah,” Baqry menyela.       

“ Terima kasih. Tidak usah.”

“ Boleh, Nak bagus!” timpal Pak Somad girang.

“ Nah, ini saja Bapak mau di antar.”

“ Tidak usah!” tegas Zarimah.

“ Kenapa, Zarimah?” tanya Baqry

“ Kami tidak ingin merepotkan.”

“ Nak Bagus ini yang menawari. Benar kan, Nak Bagus?”

“ Benar, Pak, saya ikhlas kok.”

“ Tidak usah.”

“ Zarimah!” bentak Pak Somad

Tidak menghiraukan bentakan bapaknya, Zarimah segera menyambar kedua orang tuanya untuk menaiki angkudes dan memaksanya untuk naik terlebih dahulu. Kedua orang tuanya tidak berdaya. (Madhlori, 2011: 19 )

Berdasarkan kutipan di atas tokoh Zarimah meliliki sifat emosional  saat melihat tingkah bapaknya yang semakin mengumbar perilaku memalukan. Sebenarnya Pak Somad dan Mak Mirah hanya ingin berfoto bersama Zarimah, tetapi Zarimah malu dan mengajak kedua orang tuanya pulang.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu sifat emosional para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali sifat emosional para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “ Tidaaak…, ampuuun…. Aku khilaf karena sudah berlaku durhaka terhadap bapak yang telah menyekolahkanku dengan susah payah. Ampuni kesalahanku, ya Allah”! teriak Zarimah dalam lamunannya. (Madhlori, 2011: 23 )

Berdasarkan kutipan di atas tokoh Zarimah memiliki sifat emosional ketika menyadari posisi kedua orang tua yang berperan dalam pendidikannya. Zarimah sangat menyesal dengan sikap yang telah ia lakukan kepada kedua orang tanya, bahkan apa yang sudah ia raih merupakan hasil dari keringat orang tuanya.

“ Om Jamal! Kenapa memandang perempuan hanya sebagai pelampiasan berahi semata?”

“ Bukan begitu, Imah, kalau begitu kamu juga ingin ku jadikan sebagai istri?”

“ Hmm, amit – amit jabang bayi!”                      

“ Jangan sok, Imah. Dari sekian perempuan didesa ini hanya kamu yang belum laku. Hmm, maksudku hanya kamulah yang belum nikah. Lihat tuh si Ana, Tarsim, Julaiha, bahkan putri pak lurah si Endang saja  sudah menikah. Apa kamu mau menikah denganku?” tawar Jamal genit.

“ Bukankah Om jamal istrinya sudah tiga, kenapa masih kurang?” tanya Zarimah keki.

“ Yang penting kan Om mampu. Mampu di atas mampu dibawah. Hahaha….”

“ Ihhh, gak tau malu.”

“ Tapi, kamu membutuhkan ini, kan?” Jamal merogoh uang ratusan ribu dari saku bajunya, lalu mengipas – ngipaskan uang didepannya.

Zarimah memalingkan muka sengit sembari berkata,” Imah memang miskin dan hidup kekurangan, tapi jangan harap Imah mudah diperdaya hanya karena uang ratusan ribu. Tidak!” tegasnya.

Mendengar ketegasan Zarimah, Jamal langsung naik pitam lalu memaki – maki seenaknya, “ Alaaah, sok kamu. Dasar rakyat jelata, perawan miskin. Di desa ini tidak ada yang berani menolak, bahkan mereka mau kalau ku jadikan istri yang kedua, ketiga, sampai kesepuuh sekalipun. Tapi, kamu? Seharusnya bersyukur aku tertatik terhadapmu, gadis miskin!” (Madhlori, 2011:34)

Berdasarkan kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki sifat emosional dalam hatinya karena mendapatkan hinaan dari jamal, ia berusaha untuk tidak tersinggung atas hinaan yang dilontarkan jamal terhadap dirinya. Zarimah berfikir seandainya ia tersinggung dengan ucapan jamal maka resikonya akan fatal bagi keluarga Pak Somad.

4.3 Analisis Persepsi Para tokoh

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” karya Muhammmad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan beberapa permasalahan diantaranya persepsi para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” terdapat banyak sekali konflik yang terjadi antara tokoh antagonis dan protagonis .  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel dibawah ini.

Kekasihmu telah berbuat tabu dengan anak muda yang kami tidak tau namanya. Kami sempat mendokumentasikan foto itu saat keduanya sedang melakukan, kami mengintip sekaligus memotretnya.

Tidak….!!! kalian mengada-ada, terika bahri marah. Kalian jangan membuat fitnah, saya orang hukum, hati-hati kalau bicara, ancam bahri terpancing emosi.(Madhlori, 2011:274)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Baqri menunjukkan suatu persepsi dan sikap yang tidak mudah terhasud dengan omongan yang belum tentu jelas kebenaranya tanpa didasari bukti-bukti yang kuat. Bahri juga menunjukkan sikap orang yang mengerti asas dasar hukum bahwa dia ttidak begitu saja percaya dengan berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Baqri memiliki sifat yang arif dan mempunyai sikap yang sabar dalam menghadapi suatu permasalahan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu persepsi yang timbul dari para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali persepsi yang timbul dari para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Zarimah beranggapan bahwa orang desa yang kurang pendidikan selalu saja menjajarkan nasib baik dengan materi. Mereka tidak pernah berpikir kedudukan dan kehormatan orang yang berilmu. Bagi mereka, kehormatan terletak pada orang yang berduit, bukan pada orang yang berilmu tinggi.”(Madhlori, 2011:29)

 Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah memiliki persepsi bahwa kedudukan dan kehormatan terletak pada orang yang berilmu tinggi tetapi berbeda dengan orang-orang yang hidup di desa Zarimah,mereka berfikir ilmu tidaklah penting lebih baik jadi orang yang berduit daripada orang yang berilmu. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki sifat yang cerdas dalam menyimpulkan suatu masalah yang tidak logis dan mempunyai sikap yang sabar dalam menghadapi suatu permasalahan yang rumit.

Mungkin menurut mereka, Zarimah hanya seorang gadis miskin, yang membutuhkan penghidupan lebih mapan. Apalagi tiap harinya merumput buat kambingnya dan menjual sayur dipasar, sehingga para lelaki menilai: walau dia seorang gadis yang berpendidikan tinggi, tapi dia seorang gadis desa, yang tidak lebih sebagai ayam kampung miskin yang kekurangan.(Madhlori, 2011:33)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Zarimah memiliki pendidikan lebih dari mereka sehingga mereka mampu menunjukkan betapa sempurnanya sosok Zarimah di mata mereka, tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu persepsi yang timbul dari para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali persepsi yang timbul dari para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “ Nirmala, aku melihat ada bekas luka yang dalam di sinaran matamu. Aura wajahmu yang selalu mendung, tidak akan pernah bisa menyembunyikan duka nestapa. Mungkin,selama ini kehidupanmu selalu dirundung duka tak terperikan. (Madhlori, 2011: 223)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Nirmala selalu dihantui masa lalu yang buruk dengan Pak Rush, ia tidak bisa melupakan apa yang terjadi pada dirinya dulu. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Nirmala sangat tertekan.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu persepsi yang timbul dari para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali persepsi yang timbul dari para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Mendengar komentar Baqry, pelayan itu berlagak pilon. Sembari nyengir malu ia berlalu. Pelayan itu mengira Baqry sama seperti om-om hidung belang yang suka begituan, ternyata salah duga.”(Madhlori, 2011:284)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Baqry sangat jujur, ia sangat keki mendengar pelayan itu menawarkan perek kepadanya karena tokoh Baqry adalah lelaki baik-baik yang tidak doyan perek. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Baqry sangat baik dan tidak suka main-main dengan perempuan nakal.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu persepsi yang timbul dari para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali persepsi yang timbul dari para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Cinta tetap harus dikendalikan agar bisa terbina. Sebab cinta bukan sekadar ungkapan afeksi sederhana yang berpulang pada berahi semata. Cinta memiliki banyak wajah dan misteri.”(Madhlori, 2011:51)

Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Zarimah mempunyai persepsi bahwa perasaan cinta sebagai sisi emosi manusia yang terpenting dan sangat kompleks, cinta harus dikendalikan agar bisa terbina. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah sangat berhati-hati dengan urusan cinta.

Dalam novel “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori peneliti dapat menemukan adanya permasalahan-permasalahan para tokoh yang ada dalam cerita, sehingga peneliti mendiskripsikan satu permasalahan yaitu persepsi yang timbul dari para tokoh, karena  di identifikasi bahwa novel berjudul “Bak Rambut Dibelah Tujuh” Karya Muhammad Madhlori terdapat banyak sekali persepsi yang timbul dari para tokoh.  Seperti yang terdapat dalam kutipan novel “Desa itu lahan bisnisku. Prospek ke depan di desa itu akan kubangun diskotik,meja judi,dan tempat pelacuran terbesar. Gara-gara kau mengagalkan surat izin, semua jadi berantakan.”(Madhlori, 2011:311)

Berdasarkan  kutipan di atas, dapat diketahui bahwa  tokoh Marni menunjukkan suatu persepsi dan sikap yang tidak patut dicontoh, karena Marni berniat menjadikan desa Zarimah kampung maksiat. Beruntung tokoh Zarimah menggagalkan niat itu dan Marni sangat marah karena Zarimah menolak ajakan kerja sama. Dari pemaparan tersebut, peneliti bisa menyimpulkan bahwa dalam kutipan di atas, tokoh Zarimah memiliki sifat yang berani dan tidak memperdulikan resiko yang akan terjadi pada dirinya jika ia menggagalkan usaha itu.

Berdasarkan kutipan di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa tokoh Baqri  menunjukkan suatu persepsi dan sikap yang tidak mudah terhasud dengan omongan yang belum tentu jelas kebenaranya tanpa didasari bukti-bukti yang kuat. Baqri juga menunjukkan sikap orang yang mengerti asas dasar hukum bahwa dia tidak begitu saja percaya dengan berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Tokoh Baqri memiliki sifat yang arif dan mempunyai sikap yang sabar dalam menghadapi suatu permasalahan. tokoh Baqry sangat jujur, ia sangat keki mendengar pelayan itu menawarkan perek kepadanya karena tokoh Baqry adalah lelaki baik-baik yang tidak doyan perek. Sedangkan tokoh Zarimah memiliki persepsi bahwa kedudukan dan kehormatan terletak pada orang yang berilmu tinggi tetapi berbeda dengan orang-orang yang hidup di desa Zarimah, mereka berfikir ilmu tidaklah penting lebih baik jadi orang yang berduit daripada orang yang berilmu. Tokoh Zarimah memilki pendidikan yang lebih tinggi, tidak pernah menyerah dengan keadaan dan pekerjaan yang sedang dijalaninya sehingga mereka mampu menunjukkan betapa sempurnanya  sosok zarimah.

Tokoh Nirmala selalu dihantui masa lalu yang buruk dengan Pak Rush, ia tidak bisa melupakan apa yang terjadi pada dirinya dulu. Sedangkan tokoh Marni menunjukkan suatu persepsi dan sikap yang tidak patut dicontoh, karena Marni berniat menjadikan desa Zarimah kampung maksiat. Beruntung tokoh Zarimah menggagalkan niat itu dan Marni sangat marah karena Zarimah menolak ajakan kerja sama. Zarimah tidak memperdulikan resiko yang akan terjadi pada dirinya jika ia menggagalkan usaha Marni.

Leave a Reply